Ibu

Mudik Rinduku, Ibu


ibu-bundar-emasTahun ini adalah puasa keempatku, tanpa Ibu!

Mulai banyak yang berubah, walau masih ada sirup Tjampolai rasa pisang susu kesukaannya. Menjadi penyegar es buah menjelang berbuka puasa. Aku mengawali puasa kali ini dengan tidak cukup baik, dilanda tipes! Demam tinggi, suhu badan naik turun tidak karuan, panas dingin kayak orang jatuh cinta atau malah semacam orang patah hati ditinggal kekasih hati.

Artinya, ini juga akan menjadi lebaran keempatku tanpa Ibu.

Tidak ada lagi tangan yang aku cium usai shalat ied, tubuh yang kupeluk sambil menggugu, belaian tangan mengusap kepala, juga ciuman sayangnya mendarat hingga di dahi. Tentu aku rindu, pasti aku merindu itu. Mencium tangan yang bekerja keras untuk bertahan hidup, menghidupi anak semata wayangnya, dan mengurai selebihnya untuk sesama, ya saudara, ya orang-orang yang membutuhkannya.

Merindu aroma tubuhnya…

Tubuh yang terus berkeringat untuk bekerja, bekerja, dan bekerja. “Demi kamu, sayang…” ya, demi anak tunggalnya. Demi jalan lapang anaknya, agar tak banyak kepedihan, keperihan, dan kesulitan aku alami. Seperti katanya sambil menatapku sempurna, “Kalau boleh minta sama Allah, biarlah perih dan pedih ini, Ibu saja yang mengalami. Kamu harus senang, hidup bahagia…”

Ibu yang entah terbuat dari apa hatinya.

Bagaimana aku tak terus merindumu. Wajahmu ada dalam setiap kebaikan yang kutemukan di sepanjang langkahku. Senyummu terus mengurai dalam gerak waktu, meski yang kulakukan sering kali tak membuatmu bangga, hanya kesia-siaan yang diperjuangkan dengan gegap gempita. Entah untuk pencapaian macam apa…

Pasti aku merindumu…

ziarah2Tidak hanya pada saat ramadhan saja, tak pula hanya ketika lebaran tiba. Kusapa kuburmu, kuburaikan rinduku dalam doa-doa. Tumpah ruah dengan satu dua titik air mata. “Anakku boleh nangis kok,” katamu saat aku kecil dulu. Kuusap nisanmu, kukabarkan beritaku, kalau aku baik-baik saja, meski tak sekuat dan sedahsyat dirimu menghadapi hidup yang penuh peluh, pilu, dan ngilu hati.

Kerinduan itu luluh leleh…

Begitu banyak kenangan. Kadang menguatkan, namun sesekali melepuh, menyakitkan dan membuatku rapuh. Hingga aku berandai-andai, terperangkap lingkar rasa yang terus berkelindan menggoda. Andai saja, kalau saja, hmm… “Jadilah dirimu sendiri, itu yang bikin kamu kuat, sayang…” Kalimat ini daya hidupku, energi yang menguatkan semua gerak, pikir, serta rasa. “Hidup harus dijalani, apa pun yang terjadi harus kamu hadapi, kamu laki-laki, anak kebanggaan ibu…”

Terlalu banyak yang harus kukenang, sedemikian banyak itulah yang kurindu padamu…

Lebaran ini aku tak kemana-mana. Hanya mengurai rindu padamu. Membaca ulang semua kenangan yang tak terjeda. Sambil mendakwa diri, bahwa sampai hari ini, terlalu banyak yang belum bisa kusanggupi, seperti saat aku berjanji dalam bisik lirih hari-hari akhirmu di ruang ICU Omni…

Maafkan aku, Mam… Aku belum bisa sepertimu. Masih saja tertatih, terus saja terbata-bata. Aku masih tak kunjung selesai dengan diriku sendiri. Padahal seusiaku dulu, dalam kesendirianmu dan beban beratmu, kamu tuntaskan semuanya. Aku tahu persis, karena menemanimu, bersaksi atas kesungguhanmu bangkit dari keterpurukan yang dalam. “Sesusah-susahnya kita, masih ada yang lebih susah dari kita, sayang…” ujarmu saat aku nyaris patah hati dengan keadaan di masa sulit itu. Auramu selalu menguatkan, aku tak tahu caramu membenamkan luka, perih, dan kedukaan yang berat itu demi menguatkanku.

Ramadhan kali ini, aku di rumah saja. Lebaran tahun ini, biarlah rinduku yang mudik ke haribaan orang teristimewa dalam hidupku. Kekasih termulia yang menguarkan banyak makna hidup dan kebaikan kepadaku, Ibu…

Teriring Al-Fatihah dan semua doa terbaikku untukmu, Mam…

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s