Story & History

Dimana Asaat dan Syafruddin?


“Berapa Presiden di Indonesia?” Salah seorang presenter acara di televisi bertanya kepada tamunya. Sang tamu dengan agak mikir lalu menyebut, “Enam…” Sang presenter menyambut dengan pertanyaan berikutnya, “Sebutkan, hayo sebutkan…” Anak muda, baru gede, menyebut dengan terbata-bata, dari mulutnya keluar nama, “Sukarno, Suharto, Habibie… eee… Gus Dur, Megawati, SBY…” Begitu selesai, langsung disambut dengan tepuk tangan oleh audiens di studio. asaat dan syafSama, semua anak-anak muda.

Sekilas tidak ada yang salah, memang begitulah sejarah menuliskannya. Tidak ada nama lain, presiden Indonesia selain mereka. Sukarno selain presiden pertama Indonesia, dia seorang proklamator bersama Mohammad Hatta. Soeharto, jelaslah sangat melekat, karena kekuasaannya yang lama, 32 tahun. Habibie, presiden menggantikan penguasa orde baru, setelah peristiwa demontrasi pro demokrasi menuntut reformasi 1998. Abdurrahman Wahid adalah presiden pertama produk reformasi, walau harus setengah jalan digantikan Megawati Soekarno Putri. Hingga dua periode ini, Susilo Bambang Yudhoyono, menjadi presiden yang dipilih langsung dalam sistem pemilihan umum presiden.

Mungkin asing nama ini, Syarifuddin Prawiranegara. Seperti asingnya nama Asaat di telinga banyak orang. Padahal sejarah Indonesia, mencatat keduanya mengambil peran penting dalam krisis pascaproklamasi. Bagaimana Belanda tetap bersikukuh tidak ingin melepaskan dan mengakui proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Beruntung ada penyegaran ungkapan kesejarahan versi sastra yang dilakukan penulis dan mantan wartawan Akmal Nasery Basral. Ia menulis novel Presiden Prawiranegara, Kisah 207 Hari Syafruddin Prawiranegara Memimpin Indonesia yang diterbitkan Mizan. syafSetidaknya sejarah kembali mengemuka, entah karena sengaja atau tidak, bahwa Indonesia pernah memiliki presiden bernama Syafruddin Prawiranegara.

Dalam buku Membongkar Manipulasi Sejarah, Aswi Warman Adam menuliskan, bahwa akhir tahun 1948, Belanda melakukan agresi militer yang kedua. Kemudian Sukarno-Hatta mengirimkan telegram, yang intinya memberitahu pada 19 September 1948 Belanda telah mulai melakukan serangan di Jogjakarta. Dan di akhir telegram dituliskan, Djika dalam keadaan Pemerintah tidak dapat mendjalankan kewadjibannya lagi, kami menguasakan kepada Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran RI untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatra. Dijelaskan dalam buku itu, telegram tidak sampai ke Bukit Tinggi.

Namun inilah spirit berbangsa yang ajaib. Ada inisiatif tinggi untuk menyelamatkan bangsa. Rasa antarpemimpin ini sepertinya bertaut. Dalam sebuah pertemuan di Ngarai Sianok, Syafruddin mengusulkan pembentukan pemerintahan darurat (emeregency government). Dan dari sebuat tempat di hutan di Sumatra, Syafruddin Prawiranegara menjadi presiden Pemerintah Darurat Republik Indonesia, setelah Sukarno dan Hatta ditangkap Belanda di Jogjakarta.

Lalu bagaimana dengan Mr. Asaat. Ketika hasil perundingan Konferensi Meja Bundar dengan Belanda menjadikan Republik Indonesia Serikat, dengan Sukarno dan Hatta sebagai Presiden dan Perdana Menteri RIS, maka Republik Indonesia mau tidak mau harus tunduk menjadi salah satu bagiannya. Maka kekosongan kepemimpinan Republik Indonesia dijabat oleh Mr. Asaat.

Meski hanya menjabat sembilan bulan, karena 1950 RIS kembali melebur menjadi negara kesatuan RI, peran Asaat sangatlah penting. Apalagi ketika menjadi pemangku jabatan Presiden RI, Mr Asaat menandatangani pendirian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Kan aneh juga kalau ada negara, ngilang, terus ada lagi. Menghilangkan atau menjauhkan ingatan fakta sejarah, dengan sengaja atau tidak sengaja bukanlah perilaku bijak.

Katanya bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa-jasa pahlawannya. Jadi, kalau harus menyebut berapa presiden Indonesia sampai saat ini? Maka dua nama ini, Syafruddin Prawiranegara dan Asaat mestinya turut disebut. Bagaimana pun, Indonesia yang kita hirup kedamaiannya hari ini, ada kontribusi mereka. Perjuangan yang generasi hari ini tidak memperjuangkannya, tidak berjibaku dengan deru peluru dan mesiu. Hidup tanpa kepungan bahaya, merdeka melakukan apa saja.

Sebenarnya ini repost, pernah saya posting di blogdetik, tapi saya merasa perlu memposting ulang dalam suasana pilpres yang gemuruh. Setidaknya, saya sudah mengarrsipkan perihal lain sejarah bangsa ini. Agar saya tidak menjadi orang yang mudah lupa sejarah, menjadi orang yang memilih sejarah hidup yang baik-baik saja, yang saya suka dan pas dengan perasaan dan maunya saya semata. Semoga manfaat…

Sumber foto; internet

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s