Sudut Pandang

Istrimu Bekas Pacarku


“Bini lu bekas pacar gue…”

Hadeuh, apa iya harus ngomong begitu sama orang yang menjadi suami mantan pacar. Padahal niatnya mah ya, mengucapkan selamat, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmat. Penuh berkah hingga jodoh sampai umurnya, syukur kematian yang memisahkan mereka.

??????????Seperti pepatah bilang, rambut sama hitam, hati orang siapa yang tahu. Mengukur dan mendeteksi isi hati orang ya di luar kemampuan manusia. Masak ada manusia bisa membaca isi hati manusia lainnya. Ya sudah nyalahin kodrat kemanusiaannya, mbagusi, mengambil hak Tuhan. Paling bisa ya menduga-duga, memprasangkai. Walaupun sudah diingatkan, sebagian dari prasangka manusia itu salah. Margin error-nya besar.

Ya, siapa tahu. Jangan-jangan saya termasuk yang juga begitu. Maksud baik diundang ke pernikahan mantan pacar, agar silaturahmi tetap terjalin. Demikian pun maksud datang memenuhi undangan itu. Niatnya ya baik, menunjukkan kebesaran hati, bahwa memang tidak diperjodohkan, meskipun sudah diusahakan inginnya berjodoh. Tapi kan lagi-lagi, jiwa besar dan niat baik, bisa berubah karena angin tak pernah berhenti berembus.

Melihat cowok lain bersanding sama mantan pacar, emosi mendidih! Jadilah membatin-batin, dari mengumpat hingga terbersit untuk bilang kalau tiba waktunya salaman nanti. “Selamat ya, bini lu bekas pacar gue…” dengan aksen pengucapan yang mantap, tegas, dan sinis. Wajahnya mendadak antagonis. Manis-manis menyebalkan.

Hmm…

Mungkin juga tidak sampai terucapkan, tapi dengan fasih dalam hati sang mantan akan mengucap itu. Sambil mengingat apa yang telah terjadi dan dilakukan sebelumnya, saat waktu membuat dia dan mempelai perempuan itu sempat berpadu saling merasa sama rasanya. Saling merindui, saling bergetar bila bertemu dan saling pandang, dan saling-saling lainnya. Seperti lazimnya yang dirasa orang-orang yang jatuh cinta.

Cerita tentang pacaran anak sekarang itu mengerikan. Saya pernah mendengar dari teman yang mengecek langsung di hari kasih sayang, katanya sih hari kasih sayang. Dia mendatangi beberapa mini market dan apotek, di sekitar kampus, tempat kos, dan semacam itu dengan pertanyaan yang sama, dia mendapat jawaban yang mencengangkan. Buat saya malah mengerikan, bikin merinding bulu kuduk, dan beristighfar tak putus-putus. Apa jawaban itu, “Hari ini banyak yang beli, Pak…” Apa itu? Tentu saja alat kontrasepsi. #mikirsendiri.

Sulit memungkiri realitas seperti ini. Semua itu dekat sekali dengan kita. Apa yang bisa kita lakukan? Berlari? Hanya mengecam, hanya memaki-maki, hanya beristighfar? Licik sekali. Picik nian. Pelakunya ada tidak jauh dari kita berada, baik ketika kita duduk, berdiri, atau malah ketika kita sedang shalat. Saat kita bermahsyuk khusyuk dengan sang Pencipta. Berjarak sekian meter, ada orang pacaran dengan berbagai level tingkat kemesumannya. Tak perlulah saya menulis detilnya.

Hadeuuhhh, gara-gara gambar ini ini, saya jadi nulis nggak jelas gini. Kreativitas itu memang selalu memotret realitas. Karya seni tak bisa dianggap remeh sama sekali. Karena dia merefleksi, membuat kita mengiyakan, atau malah menunjuk diri, kalau itu terjadi pada diri kita. Tapi kalau sampai ada yang bilang begitu ke saya, “Bini lu bekas pacar gue…” Hmm, saya bakal rangkul dia sekuat-kuatnya sambil berbisik, “Cewek lu juga bekas pacar gue…”

 

Iklan

2 thoughts on “Istrimu Bekas Pacarku”

  1. ha ha .. yang ngomong gitu berarti bukan laki, banci itu, laki mah nggak akan tega sama perempuan yang pernah dia sayang….. he he *gatel komen.. xi xi xi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s