Ibu

Ziarah Ibu


ibu-bundar-emasHari-hari ketika saya baru ditinggal meninggal ibu, saya seperti kehilangan betul. Saya tahu, Allah lebih mencintainya, saya paham sudah selesai tugasnya di dunia, dan saya mengerti sekali, dia tidak pergi, tapi dia pulang ke haribaan cintanya yang abadi. Saya tahu semua itu. Sekuat apa pun saya mencintainya, menyayanginya, tak terbanding dan tak bakal tertanding dengan kebesaran cinta sang Maha Cinta.

Saya hanya merasa ada yang lepas, ada yang pergi. Apalagi hari-hari terakhirnya begitu dekat dengan saya. Saya bisa membaui nafasnya, merasai denyut nadi dan jantungnya. Lekat, lekat sekali. Getar jiwa kami menyatu. Sejak puluhan tahun hidup kami hanya berdua. Ibu saya adalah single parent yang hebat.

“Kamu harus bahagia, biarlah sedih, pedih, dan perihnya buat Ibu saja…”

Entah berapa kali mendiang ibu saya ucapkan itu. Kadang diucapkan sambil memeluk saya, mengelus kepala, atau memandangi penuh tatapan sayang. Hingga ketika ibu saya terbaring lemah dengan berbagai alat rawat di ruang ICU RS Omni Alam Sutra, saya berbisik, membatin berkali-kali… “Kalau boleh, biarlah saya saja yang gantikan sakitnya, saya saja, biarlah Ibu saya bahagia…”

Hari-hari setelah kepergian ibu saya. Hampir setiap hari saya ziarahi kuburnya. Dalam waktu yang tak tentu. Kadang sebelum berangkat kerja, pulang kerja, menjelang senja, atau kapan saja saya merasa bisa mengunjunginya.

“Sudahlah doakan saja… Ikhlaskan saja…”

Berapa banyak komentar seperti ini. Seolah saya tidak mendoakan, seolah saya tidak mengikhlaskan. Hmm… Saya tidak peduli, saya tidak pernah berhitung apa pun untuk Ibu saya. Tidak ada yang mahal untuk membahagiakannya. Tidak ada yang berat dilakukan untuk membanggakannya. Itu janji hati saya sejak hidup kami hanya berdua. Puluhan tahun lalu, puluhan tahun silam. Ribuan hari terlewat…

Tentu saya tak perlu membeber seberapa sering saya berdoa untuk kebahagiaan Ibu saya. Saya tahu, saya bisa mengantarkan doa dari mana pun. Seperti juga saya ikhlas betul ketika Allah memanggilnya. Jauh sebelum orang tahu, jauh hari sebelum ibu saya tergeletak sakit dan terus melemah. Saya sudah tahu, saya sudah bersiap mengikhlaskannya. Saat dokter demi dokter mengabarkan berapa lama kira-kira ibu saya bisa bertahan dengan penyakitnya. Saya memaksa diri tidak ada yang tahu, jangankan istri saya, bahkan Ibu pun tidak saya beritahu.

Hingga saya merasa perlu meminta sesuatu yang tidak boleh diminta. “Kalau boleh, biarlah saya gantikan rasa sakitnya, biarkan ibu saya bahagia, saya belum bisa membahagiakannya, saya belum pernah membuatnya bangga…” Dan pilihan saya hanya satu, memilih tempat terbaik, dokter-dokter terbaik, obat-obat terbaik, dan semua yang terbaik di akhir hayatnya. Saya tahu, saya tinggal menghitung hari bersama Ibu.

Kalau saya sering menziarahi makam Ibu, karena saya tahu. Saya sering lupa, kalau ziarah itu mengingatkan kepada kematian. Saya sering alpa, terlena dalam riuh dunia, bersenang sendiri tapi tak bermanfaat sama sekali buat orang lain. Mencari uang tak tahu waktu, hanya untuk sendiri. Mencari kesenangan hanya untuk sendiri. Hidup seolah-olah hanya untuk sendiri. Padahal, pesan ibu saya jelas sekali, “Jangan pernah lelah berbuat baik, jadilah manfaat bagi orang banyak.”

Saya bilang pada istri, “Masih banyak kebaikan Ibu yang belum bisa aku lakukan, tolong bantu aku…” Istri saya mengangguk. “Ibu baik sekali, meski disakiti, dia memilih tak membalas walau punya kesempatan. Aku belum sanggup, masih terbata-bata…” “Insya Allah, kamu bisa Mas…” ujar istri saya seraya mengarahkan mata ke nisan bertuliskan nama Ibu saya. Naspsiah binti S. Djauhari… Al-Fatihah untukmu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s