Story & History

Ngobrol Sama Orang Gila


“Mpok, bikinin satu lagi ya, buat dia…” kata saya. Si Mpok dengan agak kaget gimana, langsung meracik lagi nasi uduk dan lauknya. Dia yang saya maksud adalah lelaki yang tadi dibilang sama Mpok sebagai ‘orang gila baru’. Baru semingguan ini mondar-mandir di jalan tempat warung nasi uduk langganan saya berada.

Sambil duduk dan makan saya melihat si gila baru itu makan di sebelah warung. Di depan ruko bengkel yang belum buka. Meski ada bangku kayu, dia memilih duduk di lantai yang sebenarnya kotor, tapi namanya juga orang gila. Suka-suka dia saja lah… Makannya tampak lahap. Dalam hati saya, pasti dia lapar banget, entah sudah berapa hari nggak makan. Saya saja telat makan sudah masuk angin, bersendawa panjang-panjang, kentut melulu kayak petasan rentet, minum cairan penolak masuk angin, lalu ujungnya kerokan.

Selesai makan, saya tenteng gelas kopi dan membawa beberapa gorengan ke tempat orang gila baru masih makan. Saya duduk di bangku. Saya ajak dia duduk di bangku, tapi dia menggeleng. Saya tawari kopi, dia menggeleng. Saya tawari gorengan, dia mengangguk. “Kenapa sih Tuhan kasih orang untuk hilang ingatan?” ini pertanyaan saya sekarang. Dulu waktu masih kecil pernah tanya pada ibu saya, “Kenapa sih Mam, orang bisa gila?”

Orang gila itu kan istimewa menurut saya. Orang yang diistimewakan Tuhan. Karena dia terbebas dari menjalankan kewajiban sebagai hamba, seperti orang waras dan berakal lainnya. Hari ini banyak orang hilang akal, padahal dia masih waras. Belakangan ini apalagi. Banyak sekali orang yang lupa kewajibannya menjadi hamba, padahal dia sadar, tidak gila, dan berakal. Mementingkan yang tidak penting, dan menyingkirkan yang justru penting. Melipat dan menyimpan rapat-rapat kebenaran yang hakikat, tapi membeber seluas-luasnya yang sesat untuk kepentingan sesaat.

Saya angkat gelas kopi dengan menyeruput hingga berbunyi. Saya tengok lelaki gagah yang baru gila. Dia mengangkat kepalanya dengan mulut penuh. Matanya kosong, tapi dia ingin menampakan wajah yang tersenyum. “Terusin, makan aja…” kata saya. Dia kembali lahap. Saya tawari lagi kalau mau nambah. Saya ingat betul kata-kata mendiang ibu, “Orang lapar itu bisa kalap, kalau kamu punya nasi, bagilah…” Saya tahu, saya sedang memberi makan orang lapar, bukan orang gila.

Karena banyak orang kenyang yang lebih gila, gila kekuasaan, gila kedudukan, gila status, gila harta. Gila wanita juga, hehe. Hidup terbaik konon seberapa besar kemanfaatan seseorang untuk sebanyak-banyak orang lain. Kemanfaatan itu kan banyak macamnya, sesuai dengan kapasitasnya. Boleh kaya raya, tapi pakai cara bermartabat untuk meraihnya, juga memakainya. Bermartabat itu menunjukkan akal dan hati disertai ilmu pengetahuan yang luluh, yang menyatu. Sehingga, nilai-nilai benar salah, baik buruk, boleh dan tidak boleh mengiringi semua perilaku. Kalau yang ini bobol, lalu muncul ‘halalkan segala cara’, maka seketika, dia sudah gila!

“Banyak penipu! Banyak pengkhianat!”

Sontak saya kaget. Mendadak si gila baru di samping saya bicara seperti itu. Saya pandangi dengan sikap waspada. Siapa tahu habis ini dia kalap.

“Cinta palsu! Cinta palsu!”

Saya sodorkan minum. Dia ambil dan ditenggak sekaligus. Gelas kosong. Saya isyaratkan untuk lagi. Dia menggeleng. Isyarat untuk nambah makanan pun digelengi. Dia berdiri, saya berdiri. Dia membungkuk di depan saya. Saya tertegun, kaget, agak takut juga. Hingga dia kembali tegak, lalu berjalan meninggalkan saya.

Ahay, jelas ini bukan kebetulan. Saya hanya percaya kebetulan di sinetron belaka, tidak di kehidupan nyata. Walau hanya orang gila, saya merasa sedang diberi sinyal untuk peka. Memang benar kan, banyak wajah yang menipu! Wajah-wajah innocent yang menjebak, menjerumuskan, penuh pencitraan. Banyak pengkhianatan dalam kemasan kebaikan. Dan tentu saja, cinta-cinta palsu yang bertebaran di banyak hati manusia. Katanya cinta, kok menyakiti, membuat orang menderita, kehilangan harapan, hingga kacau hidupnya. Katanya sayang kok menyewenangi, menyiram air garam pada luka yang tak henti digores.

Banyak yang saya tafsiri hari ini dari pertemuan ‘gila’ dengan orang gila. Mungkin saya juga gila. Karena menafsiri kata-kata orang gila. Tak apalah, toh belakangan saya juga sulit membedakan kewarasan yang sungguh-sungguh waras. Hidup akal, pikiran, dan hati nuraninya sejalan.

Mendadak ingat syair Sinom yang ditulis R.Ng. Rangga Warsita dalam Serat Kalatidha, amenangi zaman édan, éwuhaya ing pambudi, mélu ngédan nora tahan,yén tan mélu anglakoni, boya keduman mélik, kaliren wekasanipun, ndilalah kersa Allah, begja-begjaning kang lali, luwih begja kang éling klawan waspada. Kira-kira terjemah bebasnya begini, menyaksikan zaman gila, serba susah dalam bertindak, ikut gila tidak akan tahan, tapi kalau tidak mengikuti (gila), tidak akan mendapat bagian, kelaparan pada akhirnya,namun telah menjadi kehendak Allah, sebahagia-bahagianya orang yang lalai, akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s