Story & History

Memilih Mulia


Tidak mudah memilih menjadi orang yang mulia. Apalagi dalam jangka waktu yang lama, awet melintasi beberapa masa.  Walaupun pilihan itu sederhana, tanpa biaya, cenderung hanya tinggal mengelola hati, perasaan, dan emosi yang sudah diberi amunisi dengan pengetahuan, ilmu, dan pengalaman sepanjang usia.

Tapi begitulah…

Beberapa orang terpeleset dari kemuliaan yang sudah dibangun dengan susah payah, hanya karena tak bisa mengendalikan emosinya. Lepas kendali atas akal sehat hingga meluncur cepat ke kubangan keterpurukan yang menjadikannya tak lagi mulia. Hanya karena ia memilih berlebihan pada kesesaatan.

Dalam berbagai skala, besar, sedang, kecil, maupun sangat kecil, banyak sekali contohnya. Orang mulia yang dihormati, lalu meluncur deras ke kubangan lumpur kehinaan. Kadang hanya salah memilih kalimat dalam bicara, bisa karena tidak sigap dengan kondisi yang perlu kepekaan secepatnya. Ihwal picu lainnya, karena tekanan yang tinggi, menjadi orang yang sangat tertekan, tentu sulit sekali mengendalikan akal sehat.

Perihal ini, mengendalikan emosi, amarah, dan tindakan bodoh tanpa akal sehat, sebenarnya ada penghargaan yang tinggi sekali. Disebutlah ia sebagai pemenang, orang yang paling kuat di dunia. Mengalahkan legenda orang kuat Samson! Dalam keyakinan saya, setahu saya, sependek yang saya dapat, orang kuat itu orang yang mampu mengalahkan amarah, emosi, dan tindakan bodoh dalam hidupnya.

“Walau disakiti luar biasa?”

Ini kan soal pilihan. Disakiti, dianiaya, diperlakukan tidak adil, semena-mena, sewenang-wenang, pasti ada alasan bagi yang melakukannya. Soal alasannya bisa diterima akal sehat, argumentatif, atau hanya menang-menangnya sendiri, itu urusan lain. Kita tinggal memasukkan ke kriteria saja, sejenis apa orang yang mampu dan tega melakukan itu semua pada sesamanya. Pilihan itu kan selalu ada dalihnya, ada hitung-hitungannya. Kalau dia pedagang, ya dicari yang paling menguntungkan. Kalau dia penghamba, ya dicari yang paling banyak maslahat dan manfaatnya. Minimal banyak manfaat buat dirinya 😀

Dan kita tidak bisa memaksa orang lain memilih sesuai dengan yang kita mau. Ukurannya ya waktu, “Tunggu saja, kejujuran tak pernah tidur, dia bangun setiap saat walau bertahun-tahun di kubur.” Biarlah, itu risiko seseorang yang memilih untuk berbahagia dengan menyakiti orang lain, menyewenangi pihak lain. Toh, sejarah sudah banyak bicara, sesuatu yang dibangun dengan pondasi jeritan suara hati, tidak terlalu kokoh berdiri. Dalam skala rezim pemerintah, berapa sih Soeharto yang berdiri di atas penderitaan banyak orang? Cuma 32 tahun dia tumbang. Ada masanya…

Nah, kalau ada yang memilih dengan cara demikian. Kita memilih cara yang lain saja. Cara-cara mulia. Bahagia tanpa menyakiti orang lain. Bahagia yang membahagiakan. Indah yang mengindahkan, tanpa merusak. Memang berat, tapi insya Allah lebih awet. Bahagianya awet, indahnya awet.

Mulia itu ada di puncak pencapaian hidup seseorang. Tidak semua orang bisa mencapainya, walau sudah memilihnya dan memperjuangkan mati-matian. Tapi bukan mustahil, kalau kita memilih jalan kemuliaan, semua akan dimudahkan, yang berat diringankan, yang ruwet diluruskan, dan yang sempit dilapangkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s