Story & History

Pemimpin Kentut


Ribut banget soal copras-capres bikin kotor hati. Kenapa sih, cuma mbelain orang sampai segitunya. Politik, kekuasaan, uang …. duh, bikin manusia jadi keluar kodrat. Memakan bangkai saudaranya sendiri, memfitnah, menggunjing, ghibah, dan buruk sangka jadi biasa. Sayang banget.

Soal pemimpin ya kalau sudah waktunya, pasti dia jadi pemimpin. Wong semua manusia sudah ada garis tangannya. Benar harus diusahakan, tapi kan untuk menjadi pemimpin yang baik, orang tua yang baik, atau hanya sekadar jadi teman baik, harus diupayakan kebaikan-kebaikan untuk menempuhnya, caranya, dan segala rupa yang mengelilinginya.

IMG01081-20130813-1309IMG01082-20130813-1310IMG01074-20130813-1022Mendadak saya menemukan foto-foto dengan kemenakan saya. Kok ya bisa ya pas begini. Jadilah saya menyeracau sendiri. Pemimpin itu harus bisa meninggikan yang rendah, memuliakan yang kecil. Seperti orang tua yang memanggul anaknya di pundak, agar dapat melihat lebih luas, mencerna lebih lapang, dan merasa senang serta dimuliakan. Soal rambutnya dijambak untuk pegangan, soal pundaknya ngilu sehabis itu. Ya itu risiko menjadi pemimpin. Harus ada pengorbanannya.

Lalu pemimpin juga harus bisa menundukkan diri. Baik menundukkan emosi, egoisme, apalagi nafsu menguasai orang lain. Sehingga yang rendah merasa tidak direndahkan, yang miskin tidak merasa rendah diri dan terbebas dari takut. Kalau pun harus sakit pinggang karena merunduk, itu risiko pemimpin. Kalau harus kaku leher dan agak kliyengan setelah terlalu banyak merunduk, ya itu biasa saja. Karena memang sedemikian itu yang harus dirasakan pemimpin, Tidak seberapa dibanding sakitnya menjadi orang-orang miskin, direndahkan, dan diacuhkan disertai ketakutan-ketakutan.

Pemimpin itu juga harus hangat, merangkul, melindungi yang kecil-kecil. Membuat kebahagiaan, membuat rasa nyaman, merasa dicintai, dan membenih rasa percaya diri. Asyik nih pemimpin yang begini. Soal akan mencium bau asem, bau keringet, bau iler, atau malah dikentuti, ya risiko menjadi pemimpin. Karena memimpin itu tidak semuanya wangi. Justru penciuman itu harus peka betul, biar bisa menemukan ide cemerlang demi perbaikan. Oh rakyatku bau, kentutnya busuk… kalau dia pemimpin cerdas, dia tidak akan mengibaskan bau kentut itu, tapi akan langsung membuat program makan sehat, bernutrisi baik, dan seterusnya, agar rakyat dan orang-orang kecil tumbuh sehat.

Yah, jangan terlalu serius lah… Itu cuma asal-asalan saya tentang pemimpin. Kebetulan saja saya menemukan foto-foto ini, dan mengusik saya untuk menuliskan sebisanya saja.

Iklan

4 tanggapan untuk “Pemimpin Kentut”

  1. Iya Fis, udah ngganggu banget, padahal masih banyak yang kabar bahagia dan berita baik yang bisa disampaikan di media sosial. Sungguh, pada suatu ketika, yang mereka tulisan akan tercatat, dan membuat sesal kemudian… Makanya aku milih yang lain saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s