Story & History

Foto di Ruang Tamu


“Masuklah ke rumahku, tak ada foto berbingkai di ruang tamuku…” Mungkin beberapa orang menganggap saya shaleh betul, hidup syar’i, tidak memajang-majang hal seperti itu. Bukan, bukan itu alasannya. Hanya karena saya tidak punya foto bagus untuk dipajang, juga tak punya uang untuk beli pigura yang bagus. Hehe…

Banyak alasan orang dan tidak ada aturan serta undang-undang yang mencegah ruang tamu mau diperlakukan seperti apa. Karena tidak semua rumah yang ada ruang tamunya, tak pernah ada juga tamunya. Justru rumah tanpa ruang tamu, tetamu riuh, berganti, bersilang salam tak henti.

Ini hanya soal pilihan saja, seperti saya memilih tidak memajang foto selayaknya dilakukan pemilik ruang tamu lainnya. Misal, memasang foto pernikahan atau foto keluarga penuh senyum dan keceriaan yang dicetak kanvas dalam balutan bingkai keemasan. Pesannya apa? Ya, sang tuan rumah ingin mengabarkan pada tamunya, bahwa pemilik rumah ini pasangan yang ideal atau keluarga yang bahagia, ideal, dan tamunya harus tahu itu. Kira-kira begitu…

Seperti saya bilang di atas, bukan sengaja saya tidak memasang pigura foto semacam itu. Seringnya saya mendapati hal itu ketika bertamu, merasa ada intimidasi dari foto-foto seperti itu. “Ah, itu perasaan Dik Taufan saja,” hehehe… Iya, sih. Seolah begitulah, makna kebahagiaan diklaim dalam keidealan. Kalau tidak begitu, kalau tidak ideal, maka tidak bahagia. Setahu saya, kebahagiaan tak bisa diklaim simbolik. Dia akan menjadi milik semua orang, dalam setiap ruang, di setiap waktu.

Sempat juga saya tergoda untuk foto sekeluarga, dicetak kanvas, lalu dipigura warna emas dan dipasang di ruang tamu. Tapi godaan itu tak cukup kuat. Saya merasa lebih baik memajang lukisan karya teman baik saya saja. Karena saya tidak ingin mengganggu perasaan teman dan tetamu yang datang untuk curhat urusan banyak hal, termasuk perihal keluarga yang gundah gulana, jomblo yang jodohnya tak kunjung datang, atau bicara tentang keidealan dan kebahagiaan.

Sungguh, tanpa sadar apa yang kita pajang bisa mengintimidasi rasa tetamu. Lalu mengantarkannya untuk berprasangka, Akhirnya, membuat tetamu membatin-batin, menyemai rasa-rasa tidak senang, sinis, hingga menyimpulkan, “Ah, pencitraan!” Apalagi kalau ada tamu yang tahu persis kelakuan tuan rumah itu.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s