Story & History

Kuantar Kau ke Gerbang


Ada potongan adegan dalam film Soekarno yang membuat saya ‘mrebes mili’, mata berkaca-kaca, berasa panas berair, lalu meleleh pelan, pelan sekali mengaliri pipi, tumpah dari ujung mata, beriring dengan ternggorokan yang mencekat.

Maudy Kusnaedi berperan sebagai Inggit Garnasih (http://www.filmsukarno.com/)

Adegan ketika Inggit Garnasih memilih pergi dari rumah, setelah Fatmawati datang menjadi ‘madu’-nya. Inggit dengan sadar dan perasaan membara, merasa sudah cukup mendampingi Kusno, menemani masa-masa sulit dari pembuangan ke pembuangan di zaman sebelum merdeka, saat semuanya sulit bukan hanya untuk Sukarno, tapi bagi rakyat.

Terus terang inilah ‘kebesaran’ Inggit yang mengalahkan kebesaran Sukarno. Sadar peran, sadar masa, sadar waktu… Inggit sadar, perannya mendampingi cukup sampai di gerbang. Ketika gerbang kebahagiaan itu telah di hadapannya, dia tahu, dia tak mungkin memasukinya. Ruang di balik gerbang itu bukan miliknya, ruang baginya, hanya sebatas mengantar sampai ke gerbang.

kuantar SHSaya terkesan sekali dengan pribadi Inggit, sejak pertama kali membaca buku ibu saya, “Kuantar ke Gerbang” yang ditulis sastrawan Ramadhan KH. Saya membacanya masih SMP. Ibu saya sebagai pengagum Bung Karno, mengoleksi banyak buku tentang kehidupan dan orang-orang terdekatnya. Saya hanya ‘nunut’ baca, tidak seheroik ibu saya.

Seberapa banyak orang yang bisa berlaku dengan sadar peran dalam kesadaran waktu secara bersama? Sulit sekali menemukannya, walaupun ada. Karena yang seperti ini sering kali mengalun selembut angin, mendesau lirih digelitik decit beburungan, dan mendesah di reriuhan kedangkalan.

Saya menangkap pelajaran baik. Tidak perlu kita merasa bisa, merasa mampu hingga terus merangsek ke tempat terdepan, menguasai panggung, menjadi sentral, menjadi bintang, kalau peran terbaik kita justru ketika kita menjadi tukang lampu yang menerangi pentas. Menjadi penunggu tiket, atau penyaji minuman bagi para bintang.

Konon itulah kesejatian. Cinta yang sejati itu lebih besar dari cinta yang remeh temeh ingin memiliki, transaksional. Aku lakukan ini karena aku mengharap ini. Kalau tidak… maka ancaman yang datang, intimidasi, kebencian, serta tindakan yang tendensinya kriminal, menjahati, dan balas dendam. Apa iya, katanya cinta kok begitu. Destruktif, merusak, dan merendahkan harkat.

Cinta itu luas dan maha luas. Semakin tinggi kadar cinta, semakin ia tinggi lagi memuliakan. Seseorang yang sampai pada pencapaian ini, ia akan bersedia dengan rela, menjadi jalan kebahagiaan orang lain, para kekasihnya, tanpa pernah kehilangan cintanya. Dia akan merasa, kebahagiaan yang dicapai orang lain, menjadi bagian dari kebahagiaannya, pun sebaliknya.

Tanpa pencapaian ini, Inggit dan banyak orang yang memilih hidup sunyi, telah mengajarkan saya tentang hakikat mencintai. Hanya pada capaian ini, seseorang tahu persis, sampai mana ia harus apa dan berlaku apa demi kekasihnya. Dia tahu diri, mengambil secukupnya dari begitu banyak yang dihamparkan Tuhan untuknya, Bahkan kadang memberikan semuanya untuk melapangkan jalan orang yang dicintainya, tanpa sedikitpun dia mengambil bagian yang menjadi bagiannya.

Entah saya harus menyebut apa untuk orang-orang berhati mulia macam ini.

Hari haru, 4 Juni 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s