Story & History

Jadilah Jernih

Kemarin, saya berdiskusi dengan dua peserta pelatihan menulis Komunitas Fun Writing. Tidak hanya tentang teori menulis yang baik dan benar. Selalu melebar ke hal-hal yang lain.

Salah satunya bagaimana bersikap ‘jernih’ terhadap hiruk pikuk yang bikin pekak telinga, bising mata, dan mengotori prasangka. Ya apalagi kalau bukan soal sokong-menyokong dan dukung mendukung capres. Wong lagi itu musimnya. Selain musim hujan yang sudah kelewat waktu. Hehe…

“Hati-hati terhadap rasa. Jangan membenci berlebihan, jangan mencintai berlebihan,” itu nasihat mendiang ibu saya. Bisa jadi yang kamu cintai mati-matian, kelak jadi musuhmu dan berbalik benci setengah mati. Juga sebaliknya, orang yang kamu musuhi, benci, dan nyaris tidak ada baiknya, semua yang ada pada dirinya buruk, bisa jadi suatu ketika, menjadi orang yang menolongmu, mencintaimu dan menyayangimu ketika semua orang-orang yang kamu cintai pergi…

Begitu saja obrolan sederhana siang itu. Saya hanya menambahi, politik itu bukan cuma masalah copras capres. Tapi kekuasaan yang amanah, jujur, dan menyejahterakan rakyatnya. Bacalah sejarah dengan benar, jangan hanya copas-copas dari sumber tak jelas dan penuh tendesi menjatuhkan atau menjelek-jelekan. Sayang, kita diberi kejernihan pikiran dan hati oleh Tuhan, hanya dikotori kesesaatan yang cenderung menyesatkan.

“Naiklah ke tempat yang lebih tinggi!” jawab saya ketika salah satu peserta itu bertanya, “Bagaimana biar kita bisa jernih.” Satunya melanjutkan, “Caranya gimana?”

Pengetahuan, ilmu, dan kerendahhatian itu akan meninggikan seseorang untuk memandang lebih luas. Dalam keluasan pandangan, wawasan, dan pengetahuan itu kita akan menemukan kejernihan. “Pusing Mas, kayaknya semua paling benar,” seseorang menyela. “Iya, bener. Bikin kotor hati,” sambut temannya. Dalam konteks riuh dan silang sengkarut informasi hari ini. Saran saya, “Baca sejarah dengan tuntas! Jangan sepenggal-sepengal. Berbahaya…”

“Begitu ya Mas?”

“Iya, sayangi ibu kita, dia melahirkan dan membesarkan kita bukan untuk jadi pencela, penghasut, dan membenci sesama. Apalagi hanya untuk kesementaraan belaka. Kalau tahu, anaknya begitu, pasti dia sedih, menangis, dan minta ampun pada Tuhan dengan bersimpuh-simpuh penuh rasa sesal. Kenapa anak yang Kau titipkan di rahimku, tumbuh penuh kebencian, keruh pikir dan hatinya…”

0 thoughts on “Jadilah Jernih”

  1. hmm, saya selalu suka postingan yang tentang kebaikan.. sebenarnya ada beberapa yang saya suka. saya ambil yang ini saja ” Pengetahuan, ilmu, dan kerendahhatian itu akan meninggikan seseorang untuk memandang lebih luas.” nice..

Leave a Reply