Story & History

Malam Suntingkan Rembulan…


Ingin berjalan berdua denganmu kekasih, lewati malam setelah usai rinai gerimis…

Itu salah satu syair lagu Ebiet G Ade. Semalam saya melihat tayangan beliau dengan anak-anaknya yang mulai merambah dunia musik di televisi. Ada Abiet yang menjadi produser bapak dan adik-adiknya. Kolaborasi yang baik. Ebiet dengan Adera, pernah lebih dulu beberapa waktu lalu. Tapi semalam lebih komplit, Ebiet menyanyi bareng tiga anaknya. Adera yang piawai bergitar seperti bapaknya, Yayas terampil memainkan organ, dan Segara yang pintar main harmonika.

Lingkungan akan membuat orang tumbuh menjadi apa dan siapa. Terlalu biasa untuk saya bilang buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Tapi satu hal yang menarik diucapkan Ebiet sebagai ayah, “Kalau anak punya kemauan, kasih kesempatan dan beri dukungan. Sepanjang itu baik…” Hmm, saya setuju. Karena saya tumbuh seperti itu, diberi ruang, diberi dukungan, walaupun tampaknya aneh dan sulit diterima pada awalnya. Kalaupun saya jadi ayah, tentu saya akan berlaku sama sedemikian… Hmm!

Saya mengenal lagu-lagu Ebiet dari kecil. Ketika ayah dan ibu saya mengoleksinya. Pesona kekuatan syairnya membuat saya kagum sampai hari ini. Mungkin dulu saya hanya ikut-ikut meniru lagunya hingga hafal. Namun sesuai bertambahnya usia, saya tidak hanya menikmati lagu, tapi turut mengapresiasi, mencari tahu, usil dengan ‘kekepoan’ saya, siapa sebenarnya Ebiet yang dari Banjarnegara, kota kecil di Jawa Tengah bisa memiliki daya, mencipta syair dan lagu yang beda. Selain dalam, syair-syair lagu Ebiet kuat sekali.

Dari syair dan lagu-lagunya, saya belajar. Bagaimana dia memilih diksi yang kuat, tepat, dan kena. Nendang istilahnya. Saya belajar juga tentang struktur bertutur yang hemat kata tapi mampu menyampaikan kedetilan. Hmm, saya terjungkal-jungkal ketika mencoba menulis yang serupa itu.  Saya menemukan keserupaan tentang keruntutan tutur dan detil ini dengan syair-syair Iwan Fals. Hanya beda gedorannya. Iwan lugas sekali, Ebiet tetap jawa dengan gaya lembut namun menusuk juga. Ya sekalipun lagu cinta…

Seperti juga manusia yang terus tumbuh, saya merasa juga. Ada perluasan spektrum tema lagu sesuai umur. Dari keakuan yang kental dalam album-album awalnya. Lalu bergeser ke kami, mungkin pengaruh besar episode hidup berumah tangga, lalu meng-kita, hingga menyublim, atau membumi. Bicara tentang manusia sebagai hamba…

Ahay, ngomong apa saya ini… Nanti lah, saya akan cerita dengan baik dan benar tentang penyanyi teman Emha Ainun dan EH Kartanegara ini. Semuanya idola saya, nanti.

Buat saya, Ebiet G Ade adalah salah satu legenda. Saya suka! Apapun lagunya. Bukan hanya “Untuk Kita Renungkan”, “Berita Kepada Kawan”  yang sering menjadi backsound bencana alam atau berita sedih di televisi… Begitu banyak lagunya, saya sertakan link lagu ini saja. Lagu cinta yang tak picisan. “Untuk Kekasih…”

Malam suntingkan rembulan untukku, agar cinta tak berpaling dariku… 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s