Story & History

Duo Ratu van Banten


Bukan cerita tentang Ratu grup duo Maia mantan istrinya Ahmad Dhani alias ibunya AQJ yang mau saya ceritakan. Kalau cerita duo Ratu yang itu, dari zaman Maia berduet sama Pingkan Mambo, dengan Mulan Jameela, atau sekarang sama Mei Chan, sudah banyak banget ceritanya. Lebih banyak yang fasih cerita soal yang ini.

Saya juga tidak akan cerita banyak tentang Ratu Atut Chosiyah yang kini dibui karena jadi tersangka kasus korupsi, tetapi masih bisa menandatangi berbagai berkas penting dari balik jeruji. Ya sudahlah, itu juga sudah banyak yang memuat dan berjibun beritanya.

Sebagai orang yang tinggal di Banten, saya merasa perlu tahu, bagaimana sejarah membawa kehidupan ke hari ini. Saya sangat yakin, ketika Sunan Gunung Jati menjadikan Banten sebagai kerajaan Islam, tujuannya sangat mulia. Kesejahteraan dan kemakmuran untuk rakyat serta kesyukuran pada Tuhan.

Namun demikian, cerita tentang prahara dan seteru selalu terjadi dalam tataran generasi berikutnya. Intrik dan saling jegal, godaan kekuasaan, menjadi alasan paling lazim dalam berbagai sejarah runtuh dan melemahnya sebuah trah raja. Ini juga yang terjadi di Kesultanan Banten sepeninggal Sunan Gunung Jati dan Sultan Hassanudin.

Setidaknya ada beberapa kali prahara di Kesultanan Banten. Menurut beberapa sumber sejarah, tercatat dua usaha kudeta terhadap kekuasaan sultan. Pertama yang dilakukan oleh Sultan Haji kepada ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa. Tentu ada pihak yang bermain dan mengambil untung dari peristiwa ini. Siapa lagi kalau bukan Belanda! Ya, kumpeni berada di pihak Sultan Haji demi konsesi yang telah disepakati.

Peristiwa lainnya, yaitu ketika Ratu Syarifah Fatimah makar terhadap suaminya, Sultan Zainul Arifin. Lagi-lagi soal kekuasaan. Ratu Syarifah Fatimah atau lebih dikenal dengan Ratu Fatimah, dibantu pihak lain tentu saja. Siapa lagi kalau bukan kumpeni. Tidak mau Sultan mengangkat Pangeran Gusti, anak dari istri lainnya jadi putra mahkota. Ratu Fatimah ingin menantunya, suami dari anaknya dari suami terdahulu jadi putra mahkota. Maka terjadilah makar.

Gubernur Jenderal Baron Van Imhoff berada di balik itu semua. Akhirnya, ketika sang gubernur jenderal diganti, Ratu Fatimah pun didaulat mundur. Diasingkan dan akhirnya meninggal di Pulau Edam, salah satu pulau di gugusan Kepulauan Seribu.

Hmm, saya tidak akan menyimpulkan apa-apa. Hanya merasa belajar sesuatu. Kadang musuh terbesar kekuasaan atau pemegang kuasa adalah orang-orang terdekatnya. Banyak sejarah berbagai masa, mengabarkan berita yang sama, sejenis, dan mirip-mirip. Hancurnya sebuah trah, kerajaan, bahkan bangsa, karena pergolakan di dalamnya. Apa pun alasan dan argumen untuk membenarkan tindakan itu.

Hal lain, ya sengaja atau tidak… inilah salah satu keuntungan belajar sejarah. Bahwa ada perputaran sejarah, kejadian yang mirip, terjadi lagi, hanya beda setting, ruang, dan waktu. Dulu Ratu Fatimah mengambil paksa kekuasaan dari suaminya, Sultan Zainal Arifin. Berakhir riwayatnya dengan diturunkan rakyat dan mati pengasingan. Kalau mau peka, dulu di awal Provinsi Banten berdiri setelah berpisah dengan Jawa Barat, Ratu Atut adalah wakil gubernur dari Joko Munandar. Saya tidak berpraduga apa pun bagaimana akhirnya kasus korupsi menjerat mendiang Joko Munandar dan menaikkan posisi Ratu Atut.

Saya hanya belajar saja, kekuasaan ada masanya, seperti orang makan yang ada kenyangnya. Karena kekenyangan juga bisa muntah dan perut begah. Ada cara makan yang baik dan manfaat, berhenti sebelum kenyang. Rasanya, kekuasaan pun harus berhenti sebelum kenyang. Karena seperti makan, kekuasaan itu nafsu. Kalau diperturutkan, tak ada kenyangnya.

Ah, saya jadi tahu, ternyata ‘duo ratu’ bukan hanya Maia dan Mei Chan, tapi ada cerita Ratu Syarifah Fatimah dan Ratu Atut Chosiyah. Duo yang berbeda cerita… dan hati-hati, musuh terbesarmu adalah nafsumu dan orang-orang terdekatmu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s