Ibu

Hari Terakhirmu


ibu-bundar-emasMas Tauf, lu dipanggil HRD.

Itu bunyi sms dari Indah, sekretaris redaksi majalah tempat saya bekerja. Saya menerimanya sore hari. Saat saya sedang mendampingi dokter penanggungjawab ruang ICU. Tempat ibu saya dirawat hari ke-21 di ruang itu.

Iya, besok gue dateng.

Jawab saya pendek saja. Memang hampir selama ibu saya dirawat di rumah sakit, pekerjaan saya terbengkalai. Buat saya, menemani ibu di akhir hayatnya, apa pun keadaannya adalah pilihan tak tergugat bagi saya. Saya sudah tidak berpikir lagi soal pekerjaan. Soal yang lain-lain. Waktu saya adalah ibu, serta bagaimana memberikan perawatan yang terbaik, dengan rumah sakit terbaik, dokter-dokter terbaik, dan segala upaya yang maksimal yang bisa saya berikan sebagai anak tunggalnya.

“Harapannya semakin tipis, mungkin besok pindah ke ruang isolasi,” kata dokter jaga ruang ICU.

Saya menahan rasa. Saya tahu, waktu berpisah dengan ibu saya semakin dekat. Saya tahu persis kondisinya dari hari ke hari, dari jam per jam, hingga per detiknya. Banyak yang tidak saya sampaikan dan saya pendam sendiri. Karena saya harus bisa memberikan ketegaran di depan orang-orang terdekat saya. Sungguh saya tahu persis kondisi ibu, lima dokter spesialis sudah memaparkan semuanya. Saya tahu risiko akhirnya. Hanya menunggu waktu…

Seperti biasa, saya pandangi wajah tirus ibu.

Saya bisikan, “Shalat isya sudah tiba…” Hanya kedip mata jawabnya. Saya menuntunnya, dengan berbisik di telinganya. Dingin. Sampai selesai. Sampai doa-doa. “Sabar ya Mam, nanti pasti sembuh. Kan mau naik haji…” kalimat ini, adalah kalimat wajib yang selalu saya ulang-ulang, saya bisikan berkali-kali, walaupun saya tahu. Kecil sekali kemungkinan sembuhnya.

Namun saya senang, karena itulah kalimat yang selalu membuatnya tersenyum meski lemah, mengedip mata mengiyakan, dan menggenggam lebih erat tangan saya. Mengalirkan kehangatan, pertanda dia merespon, masih sadar, bisa mendengar apa yang saya katakan.

“Ibu kuat sekali,” kata salah satu dokter.

Pagi hari, Kamis, 24 Februari 2011…

Saya menandatangani persetujuan tindakan medik untuk kesekian kalinya. Saya sudah pastikan semuanya beres. Saya cek deposit di administrasi. Saya tambahkan jumlahnya. Sehingga selisih kurangnya tidak terlalu banyak. Tak perlu saya ceritakan, bagaimana saya jungkir balik mencarinya. Saya yakinkan, semuanya halal, semuanya dimudahkan. Dan itu rezeki ibu saya, “Ibu orang baik, insya Allah ada dan cukup, itu urusan saya,” itu jawaban saya setiap kali orang bertanya, berapa biaya rumah sakitnya.

Buat saya, apa yang terbaik buat ibu…

Berapa pun, itu tanggung jawab saya sebagai anaknya. Saya hanya ingin berbakti semaksimal mungkin di akhir hayatnya. Dan itu masih belum bisa membayar lunas apa yang dilakukan ibu terhadap saya dari bayi hingga besarnya. Tidak akan terbayar. Tidak akan terganti. Saya hanya ingin, kalau ibu tidak ada, saya tidak terlalu menyesal karena sudah melakukan hal-hal terbaik untuknya.

“Saya anak tunggal Pak, harus menunggui ibu saya, mencari biaya rumah sakit, mengurus segala macamnya, bla-bla-bla…” jawab saya kepada Kepala HRD di ruangnya siang itu. Beruntunglah, dia bijak, mau mencarikan jalan keluar. Saat itu saya sudah berpikir dan bersiap diri kalau harus diberhentikan. Ini sudah saya hitung sebagai risiko yang harus ditanggung. Sering mangkir. “Mungkin datang ke kantor lebih pagi, siang kembali ke rumah sakit, balik lagi kerja dan pulang lebih awal…” katanya. “Nanti kita lihat di meeting saja ya…”

Saya terus berkomunikasi dengan istri di rumah sakit. Sesuai dengan tanda tangan terakhir saya, menyetujui tindakan medis yang memindahkan ibu saya ke ruang isolasi. Istri saya mengabarkan, sebentar lagi mau dilakukan. Terus komunikasi itu berlangsung. Dari menit ke menit, tindakan per tindakan saya terus pantau.

Orang-orang penting yang mau meeting perihal nasib pekerjaan saya mendengar itu semua. Sungguh ini bukan drama. Saya sering teringat, betapa banyak orang-orang yang sangat dicintai, menunggu hampir setiap hari, kemudian “dilepaskan” tidak menunggui ketika ajal tiba. Saya sungguh tidak ingin ini terjadi dan menimpa saya.

“Mas, Ibu sudah di ruang isolasi…” suara istri saya terasa parau.

“Bagaimana Pak, Ibu saya masuk masa kritis…” tanya saya kepada pimpinan tempat saya bekerja.

“Ya sudah, lain hari saja meetingnya.”

Semua terpaku, saya langsung pamit. Saya kebut sepeda motor ke rumah sakit.

Saya langsung ke lantai tujuh, ada istri dan ponakan saya. Saya langsung peluk ibu, saya genggam tangannya, saya bisikan terus kalimat syahadat. Terus tanpa jeda. “Taufan ikhlas, Mam…” berkali-kali kata ini juga saya sisipkan. “Taufan bisa, insya Allah, bisa…” janji saya padanya tersisip pula.

Ruang isolasi hening…

Hanya untaian syahadat mengalun. Saya dari telinga kanan, ponakan saya yang masih berseragam sekolah dari telinga kiri. Istri saya turut sambil menggenggam tangan ibu. Saya usap dahinya, saya kecup, saya ciumi pipinya. Halus sekali kulitnya…

Azan maghrib mengumandang samar menembus ruang isolasi. Persis pada kalimat syahadat, ibu terbatuk agak keras. Setelah itu… nafasnya berhenti. Innalillaahi wa inna ilaihi ra’jiun. Sang Maha Cinta menjemputnya dalam pelukan kumandang azan-Nya. Saya usap wajahnya, saya pandangi berlama-lama. Lalu saya peluk dan ciumi untuk terakhir kalinya. Wangi…

Allahummaghirlaha war hamha wa’afiha wa’ fu’anha….

Iklan

11 tanggapan untuk “Hari Terakhirmu”

  1. Jadi ingat (almh) ibuku juga saat dirawat 4 bulan di RS. Tapi ibu meninggalnya di rumah, beberapa tahun selepas opname. 😥

    Semoga ibu Mas TEP mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Heu… Siapa tau ketemu ibuku di sana. 🙂

  2. Aamiin, Aku nangis, Mas. Semoga Ibunda Napsiah binti S. Djauhari diluaskan tempatnya. diberikan keberkahan dan luasnya rahmat Allah SWT. Bihaqqi Muhammad wa alihi. Al- Fatihah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s