Sudut Pandang

Pilihan Saya


“Pemilu pilih siapa, Om…”

“Pilih orang baik yang mau memperbaiki demi kelebihbaikan,” jawab saya sambil tersenyum.

Tentu sang penanya ‘gelo’, kurang puas. Jawabannya terlalu normatif. Padahal dia meminta saya menyebut nama. Siapa yang mau dipilih untuk caleg tingkat kota, level provinsi, pusat, maupun senator yang ngantor di DPD. Saya memang tidak memiliki jawabannya. Saya hanya disuguhi gambar orang ‘mrenges’ di spanduk, dipaku di pohon atau nempel di tembok kosong rumah orang. Dikira saya terus jatuh hati dengan ‘prengas-prenges’ itu? Sorry ya…

“Kan ada temannya Om yang caleg, coblos itu Om…”

Saya senyum saja. Bukan tidak setia kawan. Benar saja dia kawan saya, tapi saya juga tidak akan memilihnya. Sekali lagi, politik itu sebagiannya menghamba “kepentingan”. Termasuk teman saya itu. Ketika punya kepentingan, dia tiba-tiba datang ke rumah. Silaturahmi katanya. Ya baiklah. Tapi ujung obrolan minta saya nyoblos dia. Lalu dia tinggali beberapa stiker dan brosur yang ada fotonya. Haiyahhh… primitif banget sih.

Seingat saya, dulu dia datang ke rumah juga menjelang pemilu. Menyapa saya sesekali di fesbuk. Selebihnya tidak ada kabarnya. Pernah tidak sengaja ketemu di sebuah tempat makan. Duh, kesannya dia sibuk sekali. Saya sampai penasaran, apa yang diperbuatnya, prestasinya sebagai legislator. Susah dicari jejaknya.

Bukan saya minta balas jasa. Tapi jangan seenaknya dong. Dulu memang saya bantu menyosialisasikannya. Yaitu, atas nama pertemanan. Tapi rupanya, itu jadi pengalaman yang baik buat saya.

“Gimana Om…”

“Pilih orang-orang baik aja…” kata saya.

“Walaupun nggak kenal?”

“Ya kenali dulu lah. Kalau yang ngrusak taneman, main paku gambarnya di pohon, nggak usah dipilih. Belum apa-apa dia udah ngrusak. Visi lingkungan hidupnya payah. Yang main tempel poster di tiang listrik, tiang telpon, lupakan! Dia nggak punya visi estetika kota. Bukannya bikin bagus kota, malah tempel-tempel sembarangan. Mending dia sendiri mau bersihin kalau udahan pemilu. Sama tuh, main paku poster di pohon. Emang dia yang nanem pohonnya…”

“Jadi gimana dong?”

“Ya tunggu aja nanti, masih April ini. Ada waktu untuk cari tahu…”

“Sip lah…”

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s