Story & History

Kelud dan Dongeng Simbah


Ketika mendengar Gunung Kelud meletus, erupsi semalam. Saya mendadak teringat cerita dari Mbah Kakung… Tentu tanpa mengurangi simpati serta iringan doa saya bagi korban letusan Gunung Kelud.

Cerita ketika saya kecil, mungkin ini salah satu cerita yang nyangkut benar sampai sekarang dalam ingatan saya. Kisah tentang Dewi Kilisuci, perempuan cantik yang dilamar oleh seorang pemuda sakti berkepala kerbau. Mahesasura, namanya.

Banyak versinya, tapi saya mau menceritakan apa yang Mbah Kakung dulu dongengkan pada saya. Sebenarnya ya seringkas itu ceritanya. Dewi Kilisuci yang dikenal cantik, dilamar pemuda sakti berkepala kerbau bernama Mahesasura. Dewi Kilisuci mau, tapi dengan syarat. Apa syaratnya?

Dewi Kilisuci minta dibuatkan sumur raksasa. Mahesasura tidak keberatan dan menyanggupi. Tentu bukan hal yang sulit dengan segala kesaktian yang dimiliki Mahesasura. Sumur yang diminta Dewi Kilisuci pun jadi, sumur besar dan dalam.

Namun apa yang terjadi, rupanya itu jebakan semata. Mahesasura terjebak dan jatuh ke sumur yang dalam dan besar itu. Lalu, Dewi Kilisuci menyuruh orang-orang menimbunnya dengan batu. Nah, saking banyaknya batu buat menimbun Mahesasura hingga tampak seperti gunung. Maka, konon demikianlah Gunung Kelud terjadi.

Jadi, kalau Gunung Kelud meletus, arwah Mahesasura sedang marah. Marah sama orang Kediri, sama orang-orang yang disuruh Dewi Kilisuci yang menimbunnya.

Saat semakin besar, sekolah semakin tinggi, tentu saya hanya percaya itu hanya dongeng pengantar tidur atau penghibur menunggu orangtua saya pulang kerja. Satu hal yang pasti, negara kita memang berada dalam lingkaran cincin api. Dilewati banyak jalur gunung berapi. Bahkan negara yang memiliki paling banyak gunung berapi yang aktif. Kata Mbah Surono, mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, ada 127 gunung berapi aktif di Indonesia.

“Gunung harus jadi sabahat, ingat saja, apa yang digambar anak-anak pertama kali? Gunung kan?” semalam saya menyimak perbincangannya di televisi, “Itu pertanda, gunung itu sudah di hati. Kalau sekali waktu erupsi, ya kita yang mengalah. Karena manusia pasti akan kalah melawan kemauan alam. Beri ruang, setelah itu dia akan memberi kita lebih banyak, antara lain kesuburan dan keindahan…”

Hmm…

Saya memang salah satu pengagum Mbah Surono ini, doktor lulusan universitas di Paris ini memang menguasai betul soal gunung api. Maklumlah dia 30 tahun mengabdi di lingkungan vulkanologi dan mitigasi bencana geologi.

Tapi, dia kira-kira punya dongeng kayak Mbah Kakung saya nggak ya… Tentang kemarahan Mahesasura di Gunung Kelud, atau mitos-mitos lain dengan ratusan gunung api itu ya. Kalau satu gunung punya satu cerita, mitos, atau legenda. Tiba-tiba, saya berpikir untuk mengumpulkannya. Siapa tahu jadi satu kumpulan cerita tentang terjadinya gunung-gunung berdasarkan dongeng, mitos, atau legenda.

Yah, setidaknya bakal memperkaya khasanah literasi dongeng kita. Kalau secara keilmuan dan ilmiah ya sudah jelas lah, bagaimana proses terjadinya gunung berapi itu. Hanya saja, saya masih sering tak mengerti, mengapa dongeng atau kisah masa kecil saya sering sekali menghadirkan tokoh perempuan cantik, tapi licik… Kisah jebakan Dewi Kilisuci bukan satu-satunya cerita tentang itu. Mengapa?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s