Ibu

Ketika Ibu Ingin Pergi


Spontan!

Itulah hal yang saya suka dari mendiang Ibu. Menyenangkan karena sering mengejutkan, membuat saya sebagai anaknya harus siap siaga. Begitu melintas di benaknya, rasanya ingin saat itu juga dilakukan. Menyenangkan, karena keinginannya sederhana, tidak neko-neko.

“Keluar yuk, Fan…”

Itu kalimat yang sering sekali meluncur. Dan saya tidak akan menolak. Karena ada alasan kuat untuk tidak menolak. Sepanjang bisa, saya usahakan…

Alasannya juga sederhana. Sejauh ini, waktu saya lebih banyak di luar. Sementara waktu untuk ibu saya nyaris waktu sisa. Sehingga saya tidak ingin memberi sisa waktu pada ibu saya. Lebih baik saya mengorbankan janji lain kalau hari libur, daripada menolak pergi atau menemani jalan-jalan ibu saya.

Saya tidak peduli orang lain mau ngomong apa tentang ibu.

ibu-strawberry
Tamasya ke Kebun Strawberry di Lembang

Buat saya, kewajiban membahagiakannya melebihi segala-galanya. Sehingga saya pun memberitahu kepada yang lain, khususnya pasangan dan anggota keluarga lainnya. Prioritas saya di rumah ini adalah membahagiakan ibu. Hal-hal lain menjadi nomer berikutnya. Sederhana, sederhana sekali. Karena saya harus membuatnya bahagia. Itu saja. Dan ibu saya, pantas mendapatkan itu semua.

Saya tahu, ibu saya juga sangat mengendalikan diri terhadap keinginannya. Tak ada yang memaksa atau terpaksa. Dia melihat betul semua jadwal saya, lelah dan letih anaknya ini. Bahkan kadang saya merasa tidak seharusnya begitu. Ibu menunda sesuatu karena anaknya terlalu repot urusan lain. Tidak seharusnya…

Tapi begitulah orangtua. Begitu memahami anaknya.

Anaknya? Saya yang berusaha paham, masih tersengal-sengal mengejarnya. Sering sekali terlewat, tidak peka melihat yang tersirat. Kerepotan telah membuat saya dangkal, keletihan membuat saya tidak peka. Sering sekali saya salah membaca situasi, bahkan keliru menerjemahkan yang simbolik itu.

Beruntunglah, ibu saya melewati zaman yang luar biasa.

Orang yang lahir sebelum negeri ini merdeka, merasai bagaimana harus mengungsi bersama banyak saudara karena perang Jepang. Menjadi saksi beberapa peristiwa yang menjadi sejarah bangsa. Masih panjang umur dan berkesempatan menikmati mudahnya cara berkomunikasi, kemudahan bertransaksi, dan menempuh perjalanan yang diingini dengan nyaman.

“Keluar yuk Fan…”

Itu kode, kalau ibu hanya ingin keluar sama saya. Cukup dengan berboncengan saja. Tempat yang dituju juga tidak jauh. Seputar makan, berburu tanaman, atau hanya ingin mencoba jalan-jalan di mal baru. Kadang kalau waktunya mungkin, saya pun menelpon istri dan kedua keponakan saya untuk menyusul.

“Ibu lihat kebon strawberry tadi, bisa petik sendiri…” lalu ditambahi cerita panjang dari yang dilihatnya di tivi, bacaannya di tabloid wanita, atau koran langganannya, maka itu permintaan halusnya. Maka, saya akan menjawab, “Sabtu ya,” atau “Minggu ya…” Dan sederhana saja, sesuai hari yang dijanjikan, saya pun berangkat ke mana yang ibu ingini.

Demikian saja, mengalir…

Karena saya tahu, apa pun yang saya lakukan. Tidak akan membayar semua pengorbanan dan kerja kerasnya untuk menjadikan saya hari ini. Tidak pernah akan terbayar. Saya tahu persis, melihat sendiri, betapa ibu tak kenal lelah demi saya. Ada satu kalimat yang membuat saya tak akan pernah lagi mengecewakannya.

“Hidup ibu hanya untuk kamu, Fan…”

Kalimat itu menusuk sekali, melelehkan air mata saya, meluluhkan keras hati saya. Kalimat yang membuat saya mengubah arah. Menempatkan dan mendahulukan semua menyangkut ibu. Kalimat yang terus mengiang-ngiang meski malam dan siang terus berpacu melenggang. Getar suara itu menempel di telinga. Sampai hari ini. Setelah hampir seribu hari ibu saya pergi.

Allahumaghfir lii waliwwalidayya warham humma kamaa rabbayanishoghira.

Iklan

Satu tanggapan untuk “Ketika Ibu Ingin Pergi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s