Fun Writing

Cerita dari Sudut Jendela


Bagi sebagian siswa yang berasal dari keluarga mapan, buku tentu bukan hal mewah, mahal, dan sulit dijangkau. Buku bisa jadi teman yang renyah, tersedia kapan saja, seperti menu sarapan pagi, roti bakar dengan berbagai rasa selai, dan guyuran jus aneka buah segar. Buku adalah bagian yang telah menyatu dalam sendi kehidupan sehari-hari. Maka membaca pun menjadi hal yang serenyah mengunyah keripik singkong panggang. Krispi…

Memang harus ada pembanding, biar ada spirit dan kreativitas.

guru1 guru2Saya mengajar di sebuah sekolah yang siswanya bukan dari kelompok kelas menengah. Namun saya yakin pada potensi, peluang, kreativitas, dan strategi. Pertama, saya menganggap mereka, siswa tempat saya mengajar adalah teman. Layaknya teman, justru saya belajar banyak, masuk ke dunia mereka yang sudah lama sekali ditinggalkan. Sebutlah, saya sudah tua, hehe…

Baiklah, karena saya mengajar di institusi resmi, sekolahan, maka saya pun bisa disebut guru. Walaupun guru dalam pemahaman saya sangat tinggi dan mulia kedudukannya. Saya tidak pantas sama sekali menyandangnya. Maka tanpa bermaksud untuk mereduksi makna dan kedudukan itu, memilih menjadi teman saja, barangkali lebih nyaman buat saya.

Sekali waktu, nyaman itu menyelamatkan.

Pertama menyelamatkan saya dari ketakutan dan berbagai kekhawatiran karena ‘dangkal’ dan ‘cethek’-nya keilmuan saya. Sehingga saya masih bisa bilang, “Nanti saya carikan jawabannya,” atau “Saya cari informasinya dulu,” untuk pertanyaan-pertanyaan yang saya tidak tahu. Percayalah, dengan berbagai gayanya, anak-anak itu pada dasarnya pintar dan cerdik.

antologi SCdSJ di fesbuk1cover sma yapera2aKedua, kenyamanan membuat saya enjoy. Saya membuka diri untuk dikritik, diskusi, dan berbincang yang kadang pedas. Tak mengapa, karena saya harus tahu jalan agar mereka paham apa yang saya sampaikan. Mungkin seragamnya sama, tapi tidak bisa saya mengambil sikap memperlakukan mereka dengan seragam. Untuk itu, saya memberikan kertas kosong, lalu saya meminta mereka menulis, “Belajar ideal menurut saya.” Dan tanpa sungkan mereka menuliskannya. Termasuk saya harus bagaimana kepada mereka. Sangat personal, karena ditulis sesuai dengan maksud mereka.

Ini cuma cara sederhana saja, karena saya tidak memiliki pendidikan khusus masalah keguruan dan kependidikan. Dan ketika saya nyaman, maka saya pun membuat deal, oke kita punya target. Karena saya mengajar kelas menulis, maka targetnya apa? Targetnya ya mereka menulis. Saya sebagai gurunya, targetnya apa? Targetnya membukukan tulisan mereka. Biar lebih menantang, “Kita keluarkan buku setiap akhir semester.”

Hehe, deal!

Maka tinggal saya siram dengan spirit yang menjulang, “Penulis terkenal, bisa jadi setahun sekali mengeluarkan bukunya. Tapi, kalian, belum apa-apa, masih belajar menulis, akan punya buku setahun dua! Kalau konsisten ikut kelas menulis, tiga tahun, dari masuk sampai keluar sekolah ini kalian punya buku enam! Mengalahkan mereka…” saya menyebut nama-nama besar. Tentu saya tidak bermaksud mengecilkan nama dan karya besar mereka. Hanya menunjukkan sisi yang sama, di ruang yang berbeda.

Awalnya mereka bengong.

Tapi ya sudah, saya hanya ingin. Apa yang saya lakukan ada golnya. Siapa yang terlibat dengan apa yang saya kerjakan pun memperoleh hal baru. Tantangan baru, bahkan spirit baru. Bahwa siapa pun, bahkan bukan siapa-siapa, bisa melakukan hal besar melewati pencapaian orang-orang besar.

Ya, walaupun dengan cara sederhana. Dalam skala yang lebih kecil tentu saja.

Buat anak-anak yang orangtuanya jual sayur di pasar, tukang ojek di depan mall, buruh serabutan, dan sejenis itu. Buku itu sulit dijangkau. Terlalu mewah, mahal, dan bukan hal penting. Tapi, bukan mustahil, ternyata mereka pun bisa menulis, menjadi buku. Membanggakan tentu saja.

Saya bangga atas pencapaian mereka. Dan saya bahagia atas ruang dan dukungan yang diberikan pihak sekolah. Paling tidak, ketika SBY melauncing buku yang ditulisnya, Selalu Ada Pilihan, di Jakarta Convention Center. Anak-anak kelas menulis saya pun melauncing buku mereka, Sejuta Cerita dari Sudut Jendela. Keren kan, anak SMA yang berasal dari berbagai kampung di Bogor dan Tangerang, selevel dengan presidennya, hahaha…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s