Ibu

Ibu dan Masjid Kubah Emas


ibu-kubah-emas-bulatMalam itu, rasanya isya pun sudah terlewat. Ibu menyambut saya sepulang kerja di teras. Tidak selalu, tapi beliau sering melakukannya. Tentu dengan berbagai alasan, bisa jadi sambil cari angin, habis ada tamu, atau sengaja menunggu saya pulang.

Saya tidak langsung masuk rumah, ikut duduk menemani Ibu. Kemudian istri saya otomatis menyambut dan mengambil alih apa yang saya bawa. Tas kecil sekadar buat pemantas agar tampak seperti orang kerja, tidak terlalu seperti orang main. Sambil nanya, minumnya mau dibawa ke teras atau di dalam. Sepaket juga, menawari ibu hal yang sama.

“Ibu tadi lihat di tivi, di Depok katanya ada Masjid Kubah Emas, Fan…”

“Mau ke sana? Nanti aku cari tahu dulu ya…”

“Nanti kalau kamu libur aja, Sabtu atau Minggu ya, anterin Ibu…”

“Siaaappp…”

 

Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 2006 . Waktu itu memang ramai diberitakan tentang Masjid Dian Al-Mahri, di daerah Meruyung, Depok yang berkubah emas. Saya yang kebetulan sering ke Depok, dengan segera mencari posisi tepatnya. Dan sambil lewat saya temukan.

Tentu waktu itu belum seperti sekarang, masih belum sempurna. Gerbangnya belum lebar seperti sekarang. Masuknya masih lewat jalan kecil, parkirnya masih diarah-arahkan sama penduduk sekitar, di tanah lapang seperti kebun.

Dan kesampaianlah saya mengantarkan Ibu tercinta mengunjungi Masjid Kubah Emas. Hanya dengan begini cara saya membahagiakannya. Meluluskan permintaannya secepatnya. Karena saya ingat, bukan hari minggu saya ke sana. Tapi hari Kamis. Dan sangat biasa, saya izin kerja demi orang yang sangat saya sayangi ini.

ibu-kubah-emas-frameSenang rasanya, ketika ibu saya akan bilang dan cerita kepada teman-teman pengajian di komplek, “Saya sudah ke sana sama Taufan…” Hmm, ketika mereka masih baru bisa mendengar dan melihatnya di televisi.

Biasanya, ibu saya akan menjadi inisiator membawa rombongan pengajian di komplek ke tempat yang ‘ditemukannya’. Ibu saya juga akan membawa semua saudaranya yang datang ke Jakarta, menjadi guide dan bercerita seperti layaknya pemandu ke masjid berkubah emas itu. Padahal saya tahu, Ciledug ke Depok itu tidak dekat dan membuatnya cepat lelah untuk seusianya.

Tapi saya melihat dia bahagia.

Buat saya, itulah cara sederhana membahagiakan orang tua. Dengan mengingat yang seperti ini, semoga membuat saya tidak terlalu menyesal atas banyak keinginannya yang tidak bisa saya penuhi. Semoga…

Iklan

4 tanggapan untuk “Ibu dan Masjid Kubah Emas”

  1. “Tapi saya melihat dia bahagia.

    Buat saya, itulah cara sederhana membahagiakan orang tua. Dengan mengingat yang seperti ini, semoga membuat saya tidak terlalu menyesal atas banyak keinginannya yang tidak bisa saya penuhi. Semoga…”.. kata-katanya dan kalau bahas tentang orang tua, sedih aja.. cengeng..

    1. saya memang hanya bisa dengan cara-cara begitu membahagiakannya, ibu sudah punya semuanya, tak mungkin memberinya barang, materi, dan sebangsa itu. saya hanya melengkapi kebahagiaannya saja, sebisa saya… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s