Ibu

Jomblo Pasti Berlalu


ibu-bundar-emas“Beli beras dulu, besok nggak ada yang disuruh,” bisik ibu saya.

“Emang udah abis?” tanya saya. “Masih banyak kayaknya.”

“Buat jaga-jaga aja, siapa tahu kamu lama di sana,” katanya sambil menyodorkan dua lembar ratusan ribu, merah gambar Soekarno dan Hatta. – Uang yang sekarang jarang sekali singgah di dompet saya yang sangat menyukai recehan belaka-.

Maka meluncurlah saya dengan sepeda motor ke Pasar Bengkok, dengan celana baru, warna biru tua yang semalam baru diambil dari Rapi Tailor, masih licin setrikaannya, kaos oblong Dagadu bergambar rambu huruf P disilang dalam lingkaran merah, lalu bertulis, Dilarang pipis sepanjang Malioboro. Wesss…

Tak sampai sepuluh menit, saya sudah kembali dengan sekarung beras pandan wangi, seperti biasa. Tampak orang-orang terbengong-bengong melihat saya datang. Saya harus mencari sela-sela jalan, karena sebagian jalan sekeliling rumah sudah diparkiri beberapa mobil. Wajah-wajah yang heran itu saya tinggali senyum saja. Lalu saya menyuruh seseorang untuk mengangkat beras dari motor ke dapur.

“Lha, mantene kok malah pasar, piye tho…” Bude saya penganut aristrokat dari Jogja itu kebat-kebit dengan kipasnya. “Hayoo, selak kawanen…” sambungnya, menyuruh saya bergegas cepat, takut kesiangan. Hehe, beliau memang lebih ramai dan tampak sibuk dibanding ibu saya.

“Anakmu gimana sih,” katanya pada ibu saya.

Ibu saya, ya hanya menepuk bahu kakaknya, “Biarin aja, anak sekarang, beda jamannya, Mbakyu…”

Iring-iringan mobil pun bergerak. Perjalanan yang jauh, melintas tiga provinsi, Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Melewati beberapa kota dan kabupaten. Ya, perjalanan dari rumah calon mempelai pria ke tempat akad nikah di sebuah masjid tak jauh dari rumah sang mempelai perempuan. Mungkin ada lima mobil minibus membuntuti mobil yang saya tumpangi. Perjalanan antarkota antarprovinsi. Ya, dari Ciledug ke Depok!

“Lho, kowe kok ndak pake sepatu, Pang?” mendadak bude saya kaget melihat saya pakai sandal. “Ketinggalan po?”

Saya senyum, ibu saya senyum, pakde saya khusyu di samping sopir. Dari spion tengah, saya melihat, Pak Lantip, sopir keluarga saya senyum juga. Riuh di bangku belakang membuat ibu saya berusaha menghentikan ‘bererotnya’ pertanyaan kakak perempuannya itu. “Wis tho, Mbak. Biarin aja…”

Tapi itu tak manjur juga.

Sampai akhirnya sang sopir yang mengendarai sedan supaya baik jalannya itu ikut angkat bicara. “Sepatunya di bagasi Bude…” Haha, jos! Manjur juga. Meski lama, muncul lagi komplen, “Kowe ndak potong rambut to Pang?” Hadeuh, saya memang mempunyai banyak nama panggilan kesayangan bagi orang-orang terdekat saya. Sekarang rambut dimasalahin. Ibu saya mencolek saya sambil berkedip, maksudnya “Biarin aja, dengerin aja…” Masalah rambut selesai, lalu ke jenggot. Haiyaaah… “Mbok jenggotmu dicukur, nanti masih sempet mampir beli cukuran jenggot kan…” Pak Lantip yang membaca kedipan mata ibu saya dari spion menyahut, “Nggih, Bude…”

Begitulah…

Sepenggal cerita di awal abad baru. Ketika seorang laki-laki yang sudah kapok pacaran, lalu menjomblo, dan begitu menikmati kejombloannya, justru jodohnya datang. Maka, tepat pukul 10.00 waktu Indonesia bagian barat, berjabatlah tangannya dengan sang wali (kakak mempelai perempuan), sama-sama muda, sama-sama grogi…

scan0006a copy

Walhasil, tanpa tepuk tangan, hanya desis Alhamdulillah mengiring wajah-wajah lega dan suka cita begitu penghulu mendapat jawab dari hadirin, sah! Saya menengok ibu saya, menitik air matanya, walau senyumnya terlempar untuk saya. Anak satu-satunya, sahabat terkarib selama puluhan tahun single parent-nya, temannya dalam segala rasa dan seluruh tumpahan harapan serta kebahagiaannya, kini memasuki gerbang baru, dunia baru, menjadi suami dari Erawati Heru Wardhani.

Saya masih merasai, Ibu memeluk erat sekali…

Mengenang sebuah hari Minggu, di tanggal tujuh, bulan Januari, dua ribu satu.

 

Iklan

3 tanggapan untuk “Jomblo Pasti Berlalu”

  1. sebelum menikah ada rute yg hrs dilalui yaitu menjadi jomblo, walaupun jadi jomblo bnyak yg blang gak enak, tetapi aq koq menikmati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s