Sudut Pandang

Bubur Ayam Panji Ketoprak – Ciledug


“Nggak sarapan dulu, Mas?”

Saya menggeleng. Dalam hati, saya sudah mengincar sarapan yang aduhai di hari-hari saya mengajar. Saya tidak setiap hari mengajar pagi, hanya hari-hari tertentu saja. Maka, pantang dilewatkan kesempatan untuk menyantap sarapan ini.

Bubur Ayam Panji Ketoprak

panji ketoprak 1
Penampakan Sosok “Panji Ketoprak” dalam mangkuk 🙂

Ya, sedikit saja lewat, bakal ngantri panjang, dan nasib jeleknya, kehabisan. Aslinya namanya, Bubur Ayam Panji, berhubung di situ juga tersedia ketoprak, maka namanya jadi seolah-olah Panji Ketoprak. Haha… seperti tokoh komik ya, Panji Tengkorak. Ya, salah satu komik yang saya akrab waktu kecil. Saya baru tahu, kalau komik Panji Tengkorak karangan Hans Jaladara ini mengalami tiga fase terbit. Pertama katanya terbit sekitar tahun 1968. Fase kedua pertengahan tahun 85-an, nah ini yang saya baca waktu kecil. Dan konon sekarang diterbitkan lagi dalam versi manga. Wah, saya ketinggalan info nih…

Padahal saya sedang menunggu bangkitnya pendekar seperti Panji Tengkorak ini. Pria tampan yang bersembunyi di balik topeng tengkoraknya. Membuat para perempuan jatuh hati, walau hanya bertangan satu, tampak keji, dan misterius. Padahal sekarang, pria jelek pengen kelihatan tampan ya. Sampai operasi plastik segala.

Haiyah, dari bubur ayam kok ke komik sih…

Terus terang, ini bubur ayam memang enak, menurut saya, orang-orang yang antri setiap hari. Buburnya pas, nggak encer, nggak terlalu pulen juga. Saya menduga pasti dari beras yang enak dan diolahnya sampai mateng beneran. Seperti bubur ayam lainnya, semua bumbu dan topping sama. Bedanya?

Rasanya.

Lalu porsinya!

panji ketoprak 2
Lihatlah, isinya yang padat, menggiurkan…

Rasanya enak, karena bumbunya enak, dan ayamnya banyak. Tidak seperti bubur ayam kebanyakan, ayam suwirnya halus, dan rata, karena tidak mendadak menyuwiri  on the spot. Tinggal tabur. Jadi berasa bener kalau makan bubur rasa ayam. Porsinya, mungkin mengagetkan buat yang baru mencoba. Agak besar, jumbo. Tapi yakin saja, pasti habis… Apalagi ada empingnya juga. Kriuk, gurih… Hati-hati yang punya asam urat, hehe.

Akhirnya kebongkarlah rahasia saya, kenapa tidak mau sarapan pada hari-hari tertentu. Dan, akhirnya saya ajak istri mencoba bubur ayam pendekar Panji Ketoprak itu. Namun sial, apes, dan tidak beruntung. Karena sudah terlalu siang, bubur habis, ludes. Tinggal ketoprak saja. Karena memang mereka buka dalam dua sesi, pagi dan sore. Memang seringnya, habis sebelum jam operasi.

“Ketopraknya enak juga…” kata istri saya.

Ya, saya memang akhirnya berjanji mengajaknya untuk ketemu buburnya. Hingga pada suatu sore, saya janjian ketemu di perempatan Ciledug. Begitu saya datang, saya boncengin langsung menuju padepokan Panji Ketoprak di Jalan Raden Patah. Kalau dari perempatan Ciledug itu arah ke Bintaro. Paling 300-500 meteran lah, sebelah kanan, nanti ada U-turn sebelum pom bensin, beloklah. Memutar, lalu parkirlah.

panji ketoprak 3
Silakan yang mau mampir, jangan lupa bungkusin buat saya 🙂

“Hmm, pantesan…” kata istri saya. Dia bukan pecinta bubur ayam, konon seperti makanan orang sakit. Tapi begitu merasai bubur ayam Panji Ketoprak, dia bilang, kalau buburnya enak. “Pantes nggak mau sarapan, enakan ini sih ya…” Saya hanya tersenyum. Yah, sekali seminggu nggak sarapan di rumah kan boleh lah, hiburan laki-laki…

Dan sekarang, Bubur Ayam Panji Tengkorak eh Panji Ketoprak ini menjadi pilihan kalau lagi melintas di jalan itu. “Nggak masak, nanti makan bubur aja di Ciledug ya…” Ahay, istriku rupanya sudah kena patok jurus Panji Ketoprak. Hahaha…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s