Story & History

Faktanya Tidak Selalu Ideal, Kawan…


Semua orang ingin ideal…

Lahir sebagai bayi yang menyenangkan, tumbuh dengan kebanggaan dan pencapaian prestasi, membahagiakan keluarga. Menderetkan piala, sertifikat dan penghargaan lainnya. Lalu menjadi cerita yang bergemuruh, “Anakku bisa ini lho, anakku baru juara itu lho, anakku dapat anu lho… dst!”

Sayang, tidak semua orang beruntung tumbuh dalam lingkungan ideal dan mendapatkan apa yang diidealkan.

foto keluargaBelum lama saya bertamu, di ruang tamu yang saya datangi, berjejalan foto-foto keluarga. Semua dalam senyum. Seolah, sang pemilik ruangan ingin menguarkan kebahagiaan dan kebanggaan mereka kepada para tamunya, termasuk saya, tentang betapa indahnya kehidupan mereka.

Foto kanvas dengan formasi, ayah, ibu, anak-anak lengkap dengan senyum. Ayah dan anak laki-lakinya berjas, para perempuan, ibu dan anak gadisnya berkebaya, berkerudung. Hmm… Keluarga ideal dan bahagia. Itu batinan saya. Mungkin juga batinan orang-orang yang bertamu ke rumah ini.

Banyak sekali rumah-rumah dengan pajangan foto serupa…

Tidak ada yang salah, karena demikianlah salah satu ekspresi yang bisa menguarkan aura positif bagi yang melihatnya. Bagi penghuni rumah, setidaknya, pernah ada momen bahagia ketika berfoto bersama. Bagi tetamunya, setidaknya, akan merasa ikut berbahagia, betapa harmonis dan idealnya keluarga ini.

Okey…

single-mother-006Tapi tidak semua orang memiliki ideal yang sama ukuran dan definisinya. Program keluarga berencana, dua anak cukup, adalah contoh ideal. Tapi tidak semua orang bisa merencanakan keluarga ideal seperti maunya BKKBN, lembaga yang mengurusi program KB ini. Toh tidak semua orang yang ikut program keluarga berencana, walaupun anaknya dua, bisa saja laki-laki semua, perempuan semua, dan tidak selalu anaknya laki-laki dan perempuan.

Kembali ke foto keluarga ideal…

TejaSemula memang saya biasa saja menjumpai pemandangan seperti itu. Saya menganggap lazim. Wajar saja. Tapi, pada suatu ketika, saya dan seorang teman terlibat diskusi tentang ‘keidealan’ dan ‘ketidakidealan’ karena melihat foto seperti itu. Pada suatu masa, lupa waktunya, tapi saya dan teman memang menunggu seseorang di ruang tamunya untuk sebuah keperluan wawancara.

Kesimpulannya, singkat saja lah. Nanti bisa didiskusikan lagi lain waktu, hehe…

Ketidakidealan bisa jadi adalah sangat ideal buat kita. Contohnya, saya mempunyai ayah dan ibu. Karena ayah saya meninggal, maka ibu saya single parent. Saya dan ibu saya menjadi keluarga inti. Sangat tidak ideal bukan? Seharusnya kan idealnya sebuah keluarga ada ayah, ibu, dan anak. Nah, pada kasus saya, ideal itu tidak terjadi. Saya dalam waktu yang lama, hanya hidup berdua bersama ibu saya.

graphics-divorce-847970Itu contoh pertama. Lalu ada teman saya cerita, membuat pengakuan dalam sebuah percakapan di suatu malam. Bahwa bapaknya punya dua istri, kedua istrinya saling mengenal baik, anak-anaknya saling menyayangi. Mereka tinggal beda rumah, tapi tidak berjauhan. Dari ceritanya, saya tidak mendapati cerita miring tentang poligami. “Kadang saya minta ongkos sama Ummi,” katanya menyebut istri pertama bapaknya. “Seringnya malah kakak-kakak saya main di rumah Umma,” begitu ia menyebut ibunya. Saya mendapati, dia bercerita tanpa beban dan mengalir biasa saja.

Contoh lain?

Banyak lah, ada orang yang memilih sendiri sepanjang hidupnya. Baik karena tidak mau menikah, gagal dalam pernikahan, atau menjadi sendiri karena pernikahan atas kehendak Tuhan. Ada orang yang memilih tidak punya anak sepanjang pernikahannya. Ada yang memilih memiliki anak, satu, dua, tiga, atau sepuluh seperti Anis Matta dan orang-orang terdahulu sebelum ada program KB. Atau yang lebih ekstrem, seperti Ziona Chana (67), pria dari Mizoram yang memiliki 39 istri, 94 anak-anak dan 14 anak menantu dan 33 cucu. Sangat tidak ideal bukan?

largest-family1Semua orang ingin lah menjadi ideal. Tapi tidak semua orang beruntung dengan ukuran ideal yang berlaku. Jadi, ketidakidealan menurut ukuran yang jamak, bisa jadi menjadi yang ideal bagi pelakunya. Tuhan Maha Adil dalam membagi kebahagiaan. Dia menciptakan rasa syukur, bahwa kebahagiaan tidak selalu merujuk pada yang ideal.

Tidak ideal bukan berarti keliru, walaupun ideal belum tentu bahagia juga, hehe…

Iklan

2 tanggapan untuk “Faktanya Tidak Selalu Ideal, Kawan…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s