Ibu

Surat untuk Ibu


Mam, ternyata aku sulit mengejar langkahmu.

Dulu aku menyanggupi, kalau aku pasti bisa. Ya, bisa mewarisi semua kebaikanmu, bisa mewujudkan semua impianmu, cita-cita kita bersama. Tentang banyak keindahan dan kebahagiaan.

Langkahku pendek, Mam…

ibukuTak seperti langkahmu yang panjang, bertenaga, dan terus berderap. Gagah tanpa pernah berkeluh kesah. Bahwa hidup harus terus diatasi, disiasati, dan ditaklukkan. Bukan untuk di tangisi, diratapi, dan membuat kita lemah.

“Dunia itu kecil, taruh di tangan kita,” ujarmu.

Aku belum bisa, Mam. Aku sering kalah oleh masalah. Ingatkan, waktu aku sering menangis di pundakmu, dalam pelukanmu… Hanya karena hal sepele, dan selesai dengan elusan tanganmu di kepala dan tepukan kecil di bahuku.

Padahal masalahmu lebih besar. Tak sebanding, tak tertanding. Menjalani hidup sebagai single parent sangatlah berat. Bukan hanya dicibir, apa pun yang kau lakukan pasti salah. Diam salah, bergerak pun salah. Statusmu seolah penyakit. Padahal tak pernah kau minta. Tuhanlah yang memberi, ketika Ayah harus lebih dulu pergi.

Mam, hari ini rinduku padamu memuncak. Hari-hariku adalah kerinduanku padamu. Separuh hidupku bersamamu. Dan aku belum membahagiakanmu, belum membanggakanmu. Cemooh tentang aku lebih banyak kau terima daripada piala, sertifikat dan penghargaan lainnya.

Tapi kau tak hiraukan itu semua, bagimu, anakmu ini adalah segalanya. Dimaklumkan dalam kalimat yang sederhana, dan aku terus mengingatnya.

“Kamu juara bagi Mama,”

Hmm…

Mam, hari ini 22 Desember…

Hari yang selalu istimewa buat kita. Bukan semata banyak orang yang memeringatinya sebagai Hari Ibu. Tapi ada yang spesial untuk kita rayakan. Hari yang membahagiakanmu. Seolah lengkap keluarga kita. Ada Ayah tersenyum di antara kita. Desember adalah bahagiamu. Saat mahligai cinta menaut, ketika Ayah menyuntingmu.

Aku sedih Mam…

Tahun ini tak terjadi lagi. Sejak Tuhan menjemputmu. Rinduku padamu, rindu yang tak terganti. Hmm, walau kau selalu bilang, kesedihanku tak seberapa dibanding orang lain. Aku harus bahagia, membahagiakan orang lain, dan membebaskan kesedihan sekeliling.

“Jangan lelah berbuat baik,” pesanmu berulangkali.

Sebisaku, semampuku, dalam langkah-langkah kecilku, pesanmu akan kuwujudkan. Demi kebahagiaanmu bersama Ayah di sisi-Nya. Beriring doa yang tak berjeda, semoga aku bisa. Bismillah…

Salam takzim anakmu

Taufan

 

bens on air* surat ini disertakan dalam “Lomba Menulis Surat untuk Ibu” Bens Radio Jakarta dalam rangka memeringati Hari Ibu 2013 dan menjadi salah satu pemenang. Penulisnya diundang on air berbincang tentang ibu dan membacakan suratnya di Bens Radio, Selasa 24 Desember 2013. 

Iklan

2 thoughts on “Surat untuk Ibu”

  1. Speechless…
    Luar biasa kang Taufan, tetaplah berkarya.
    Aku melu bungah dadi konco sampean.
    Your great successful just a matter of time, Insya Alloh….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s