SENGGANG

{Film} Wijck; Cinta Tak Ikut Tenggelam


“Zaenudin tidak bersuku…”

“Tapi hubungan kami suci, Mak Datuk…”

Hayati tergugu dan berderai air mata, meyakinkan cintanya kepada Zaenuddin di hadapan Mak Datuknya.

Dialog yang membuat akhirnya Zaenuddin (diperankan Herjunot Ali) terusir dari Batipuh. Kampung ayahnya, di mana ia menjadi orang asing walaupun mengalir darah minang di tubuhnya. Perjalanan panjangnya nan jauh dari Makassar yang ditempuhnya tak membayar pengharapannya. Termasuk kisah cintanya dengan Hayati (Pevita Pearce) pun harus berpisah.

Hingga adegan di tepi danau itu…

poster tenggelamnya kapal van der wijckHayati memberikan pengharapan kepada Zaenuddin. “Jangan dikecewakan hati orang yang berlindung kepadamu.” Pertemuan yang mengharukan. Banyak dialog cinta yang kuat dan bertenaga. Bahwa cinta itu menguatkan, tidak melemahkan. Menghidupkan pengharapan, bukan mematikannya. Membuat Zaenuddin bangkit dari keputusasaannya, apalagi ketika Hayati memberikan kerudungnya. Sebuah azimat jiwanya.

“Engkau Zaenuddin, yang akan jadi suamiku kelak. Bila tidak di dunia, engkaulah suamiku di akhirat…”

Emosional.

Satu lagi film bermutu di akhir tahun ini, produksi Soraya Film, diproduseri dan sutradarai oleh Sunil Soraya yang diadaptasi dari novel pengarang besar Buya Hamka dengan judul yang sama, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Film dengan rasa bahasa yang mengagumkan. Rasa bahasa sastra, menghidupkan zamannya. Sebuah kisah yang bersetting tahun 1930-an.

Herjunot Ali berakting baik sebagai Zaenuddin dengan dialog-dialog panjang yang penuh penghayatan. Seperti ketika Zaenuddin mengungkapkan isi hatinya, setelah dia sukses sebagai penulis dan pengusaha, memiliki rumah mewah, fasilitas jet set pada masanya. Lalu bertemu dengan kebangkrutan Aziz (Reza Rahardian) yang telah meminang Hayati sebagai istrinya. Dengan segala kebaikannya menampung Aziz danHayati yang bangkrut dan terlilit hutang.

Aziz yang memotong cintanya pada Hayati, membuatnya memendam kepedihan bak kehilangan permata. Harta, tahta, dan keturunan. Bobot, bibit, bebet. Telah membuat Hayati masuk ke pelukan Aziz. Zaenuddin hampir gila, sakit. Tapi dunia fana, berputar bergantian.

Periode Batipuh, Padang Panjang, Batavia hingga ke Surabaya mematangkan dan menegaskan keberhasilan Zaenuddin sebagai penulis dan pengusaha. Juga penegasan bahwa ia bisa keluar dari ‘kegalauannya’ atas sakit hatinya pada Hayati. Muluk (Rendy Nidji) adalah orang yang mempunyai peran penting itu. – Perannya membuat segar film ini – Menjadi sahabatnya dunia dan akhirat. Kisah yang ditulis Zaenuddin dimuat bersambung di Koran Berita Batavia. Laris dibukukan.

“Demikianlah perempuan, ia hanya ingat kekejaman kepada dirinya walaupun kecil. Dan dia lupa kekejamannya sendiri pada orang lain padahal begitu besarnya…” adalah penggalan ungkapan kekecewaan dan rasa dendam Zaenuddin pada Hayati. Bahasanya indah sekali. Diksinya terpilih. Ditambah penghayatan peran Herjunot yang total, membuat kata-kata itu semakin hidup dan kian bermakna.

Hingga saat yang mengharukan itu tiba, puncak emosi mengerucut…

“Besok hari Senin ada kapal berangkat dari Surabaya menuju Tanjung Priuk terus ke Padang, Kapal Van der Wijck…”

Spirit tentang persatuan dan keindonesiaan Buya Hamka hidup dalam olahan skenario yang ditulis Imam Tantowi, Donny Dhirgantoro, Riheam Junianti dan Sunil Soraya. Merasa menjadi orang istimewa, mendapat kesempatan nonton premier film bagus ini. Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, cinta tak turut tenggelam…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s