Sudut Pandang

Soekarno adalah Keberanian


Menggetarkan!

Sulit memulai darimana, kompleks sekali film Soekarno, Indonesia Merdeka karya Hanung Bramantyo ini berkisah. Soekarno hadir sedemikian rupa, hidup dengan pribadi yang komplit dan utuh.Tumbuh dengan derap yang menderu, dari seorang Kusno yang terus ditirakati dan diruwat menjadi Sukarno oleh bapaknya, hingga menggelegar suaranya mengumandangkan teks proklamasi sesaat setelah malaria menyerangnya.

Cerita dua jam lebih itu padat sekali.

Hanung langsung mengikat penonton untuk turut larut dalam kisah Soekarno, kebesarannya, dan rasa cintanya pada bangsa dengan mengajak berdiri dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya bersama. Sangat emosional. Mencekat. Beberapa hari ke depan, ruang-ruang studio film Soekarno diputar, Indonesia Raya akan menggema. Sebuah penghormatan pada bangsa, pada bapak bangsa.

Mengena, melarut…

Soekarno, sumber dai internetAlunan lagu Terang Bulan karya Sjaiful Bachri dari piringan hitam yang mendayu, mengayun, membawa penonton ke masa lalu, didobrak dengan adegan gedoran pintu sekelompok tentara. Sang pemilik rumah, Mr. Soejoedi tokoh PNI berusaha menyembunyikan tamu yang dicari tentara.Tamu istimewa, ya Soekarno yang kemudian dengan lantang menjawab, “Ya, saya di sini…” Jawaban yang kemudian membawanya ke pengasingan.

Teks demi teks sejarah menjadi transisi mengantarkan periode ‘tumbuh’-nya Soekarno. Dari Kusno anak yang terus-terusan sakit, kesediaan bapaknya, Soekemi Sosrodiharjo (diperankan Sujiwo Tedjo) melakukan tirakat panjang demi anaknya. Lalu meruwatnya dengan mengganti nama Kusno menjadi Sukarno dengan harapan kelak seperti Adipati Karno, tokoh yang gagah berani dalam pewayangan.

Sebuah adegan penuh getar, ketika Soekemi menggelar tikar dan tidur di bawah ranjang Kusno. Betapa orangtua akan melakukan apa pun demi kesehatan, keselamatan, dan harapan anaknya. Getaran-getaran seperti ini, akan terus menerus hadir dalam berbagai adegan. Bagaimana ia belajar pidato ketika masih di Surabaya, bersama Kartosuwiryo dan lainnya di rumah Cokroaminoto. Pun bagaimana perjuangannya dan keberaniannya menaklukkan Mien, si anak meneer Belanda.

“Menjadi pemimpin itu harus bisa menggenggam hati rakyat,” kalimat HOS Cokroaminoto ini menyala sepanjang film ini dalam diri Sukarno. Hal ini diakui sendiri oleh Hatta (Lukman Sardi) dan yang lain. Termasuk Syahrir (Tanta Ginting) yang begitu keras berhadapan dengannya. “Tiga orang Syahrir pun tidak akan bisa menggantikan Sukarno…” kata Syahrir kepada para pemuda yang menculik Sukarno ke Rengasdengklok. Sebuah teladan negarawan dari Syahrir, sportif dan elegan. Ini hanyalah salah satu saja dari banyak ‘pelajaran’ tentang teladan pemimpin dan kepemimpinannya di film ini.

Ketika menyaksikan Cokroaminoto berpidato di hadapan massa Sarikat Islam. Sukarno tampak ingin menggenggam spirit dari kalimat gurunya itu, lihatlah ketika ia mengepalkan tangan hingga meremas kain yang dipakainya. Kepalan tangan inilah yang akan turut mengantarkan kobaran semangat berjuang demi persatuan, demi kemerdekaan. Pidatonya di depan massa PNI, di gedung Landraad, di hadapan rakyat, pun sangat memukau ketika Sukarno mengurai soal dasar negara, Pancasila.

Film ini menghadirkan Sukarno dengan humanis. Sukarno adalah manusia dengan penuh daya pikat.Tidak selalu heroik, bisa sakit karena malaria, dan bisa ‘galau’ ketika jatuh cinta pada Fat (Tika Bravani). Ario Bayu, memerankan Sukarno dengan baik. Maudy Koesnaedi menjadi Inggit dengan pas. Pengorbanan Inggit, perannya dalam perjuangan mendampingi Sukarno ketika di penjara di Banceuy dan wajah histerisnya ketika Sukarno divonis pengadilan Belanda hingga mendampinginya di pengasingan, Bengkulu.

“Kapan kowe nduwe anak Kus?”

Kapan kamu punya anak. Pertanyaan Ida Ayu ibunya Kusno sepulang dari pengasingannya di Bengkulu, memiliki getaran hebat. Bagi Sukarno dan Inggit. Hingga perpisahan itu pilihannya. “Cukup sampai di sini aku mengantarkanmu…” kira-kira begitu kalimat Inggit sebelum pergi.

Hidup terus berjalan. Perjuangan bukan milik sendiri. Semua orang punya peran dalam ruang dan waktunya. Walau kadang ia akan merasa sendiri, tinggal teman seiring, dikecam, diteror, dan fitnah. “Elang selalu terbang sendiri,” Fatmawati membesarkan dan menyemangati Sukarno dalam masa-masa krisis perjuangannya. Menemani dan menyokong perjuangan suaminya. Memberi kebahagiaan dan kebanggaan Sukarno sebagai laki-laki dengan mengandung dan melahirkan Guntur, anak pertamanya.

“I need a son,”  Sukarno menyambut Gatot Mangkupradja teman seperjuangannya di penjara Banceuy menjawab keheranan kenapa Fatma bukan Inggit yang menyambutnya. “Saya tidak bisa membohongi diri sendiri.”

Dengan uliran latar sejarah kalahnya Belanda, perang Asia Timur, masa-masa pendudukan Jepang dan hari-hari menjelang proklamasi. Didukung pemeran yang kuat, setting yang nyaris sempurna, transisi periodisasi yang informatif, dan konten yang padat. Film ini pasti akan banyak ditonton orang. Terima kasih Hanung…

Sukarno adalah keberanian.

Iklan

2 tanggapan untuk “Soekarno adalah Keberanian”

  1. Benar sekali…tdk terasa dada ikut berkobar rasa nasionalisme, hati ikut teriris, tersenyum, bangga, ketika menyaksikan frame2 ketika film Soekarno berputar… Mata basah merasakan pedihnya hati Inggit untuk berpisah dg Kusno… Dan tulisan ini menambah indahnya ketika mengenang kembali settingan, pemain dan suasana yg terasa begitu pas…tidak berlebihan…. Layak sayapun berucap..terimakasih Hanung Bramantyo… Bravo…trs berkarya untuk perfilman Indonesia yg berkualitas… Salam kenal Kang Taufan 🙂

    1. Salam kenal kembali dan terima kasih sudah berkunjung, Mbak Nitta… Film ini menampilkan Soekarno dalam sosok utuh sebagai manusia. Semakin mengayakan perspektif tentang sosok Soekarno.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s