Sudut Pandang

Solo Memang Jebret


“Liburan kali ini harus ke Solo!”

Solo semakin menggoda saya karena satu nama ini, Jokowi. Benar saja, ketika saya mbecak dari Njebres ke Mbalapan, pengayuh becak setengah baya itu fasih bertutur dengan runut runtut. Bukan hanya tentang jalanan yang halus, suasana yang tenang, tapi juga tentang semua tetilas walikota yang kini jadi Gubernur Jakarta.

????????????????????
Angsa di Taman Balekambang

 

“Saya mau naik Werkudara, keliling kota,” kata saya ketika ditanya mau kemana saja di Solo. Jauh hari sebelumnya, saya sudah mencari informasi tentang bus wisata Werkudara buatan anak negeri ini. Sehingga saya tahu, waktu operasi Werkudara setiap akhir pekan, Sabtu dan Minggu serta hari libur nasional. Saya jauh hari sudah pesan tiket, Selasa pagi, tepat libur 1 Muharram.
Sebelum agenda keliling kota dengan bus wisata bertingkat yang start dari halaman Kantor Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika itu, saya melakukan perjalanan yang lain. Menunggu kirab malam satu suro, saya menikmati kulineran Solo.

“Kayaknya saya harus balik ke sini lagi lain waktu, nggak puas kalau cuma sebentar nih,” ujar saya ketika menikmati makan siang di sekitar Manahan. Saya menyaksikan sendiri, bagaimana PKL ditata rapi, dengan pilihan menu yang beragam, khas Solo, dan dengan harga murah.

Sambal-Tumpang
Salah satu kuliner Solo, murah meriah

Saya harus bilang di sini, teman saya melahap empat menu sekaligus siang itu. Dia makan soto, tengkleng, pecel, dan timlo. Hmm, katanya mumpung di Solo. Edan juga nih anak, ususnya panjang benar. “Kalau sampeyan kan ketahuan bisa ke sini lagi, saya kan belum tentu. Makanya embat terus,” begitulah alasannya. Sambil berbisik,”Kapan lagi makan murah meriah dan enak kayak gini.”

Daftar kuliner Solo memang sudah dicatat. Dan pilihan itu sangat banyak. Walaupun memang ada tempat favorit dan terkenal. Tapi untuk orang-orang yang hanya memiliki waktu sebentar, tak harus pusing cari tempat makan enak. Banyak makanan enak dan terjangkau di setiap sentra PKL. Tempatnya bersih, nyaman, murah, dan satu lagi kehangatan penjualnya. Pokoknya jangan takut kelaparan, tukang jual makanan ndledhek, banyak berderet, tinggal pilih.

Menjelang sore, saya diajak ke Taman Balekambang.
Ya, ini taman bersejarah. Termasuk sejarah Srimulat menancap kuat di sini. Banyak sejarah lainnya di taman yang dibangun oleh Mangkunegara VII untuk kedua putrinya. Ada patungnya Partinah Bosch dan Partini Tuin. Teduh, nyaman, dilengkapi banyak kursi dan permainan, pun jangan lupa, tengoklah Taman Reptil. Lagi-lagi, saya mendengar cerita bagaimana Jokowi merevitalisasi Taman Balekambang ini dari keterpurukan dan salah guna.

????????????????????
Naik Bus Pariwisata Werkodoro keliling Solo

Hmm…
Sore pun tiba, terasa sekali aura menyambut malam satu Suro. Keraton Kasunanan berhias janur. Sayang, sudah terlalu sore, saya tidak bisa masuk ke keraton karena tutup untuk persiapan kirab. Saya tidak kecewa, karena ada tawaran menarik untuk medang di Alun-alun Kidul. Hmm, lagi-lagi saya dibawa pada wilayah rasa yang tak mungkin di dapat di Jakarta. Menikmati alun-alun yang ramai, riuh, tanpa bising sambil ngopi, menghelat semua menu yang ada di gerobak pedagang nasi kucing.

“Liburan di Solo nggak bisa uber-uberan kayak gini, biar tuntas,” saya lagi-lagi menyatakan penyesalan. Hujan yang tiba-tiba, membuat saya dan teman bergegas meneduh setelah membayar semua makanan dengan harga ‘fantastis’. Murah, maksudnya.

“Sayang hujan ya, padahal pengen nonton kirab,” ujar saya ketika berteduh di depan kereta jenazah yang konon baru dipakai sekali. Ketika saya terus khawatir dengan hujan yang terus membesar, teman saya bilang, “Sebentar aja ini, konon ini pertanda ada tamu datang ke keraton.” Lalu teman saya bercerita tentang hal yang dia juga dapatkan dari orang-orang tua.

????????????????????Akhirnya, kesampaian juga nonton kirab. Kesampaian melihat Kiai Slamet, kerbau bule diarak. Setidaknya, saya menemukan satu momen penting, agenda langka dalam kunjungan saya yang sangat singkat ke Solo. Cukuplah itu. Sudah melebihi segalanya. Sebelum kembali ke penginapan, masih sempat juga tengah malam menyantap nasi liwet. Hmm, inilah Solo.

Sebelum pulang ke Jakarta, keliling Solo dengan Werkudara menjadi pamungkas yang mengesankan. Selama dua jam, saya mengitari jalanan Solo, dipandu oleh Mbak Dira yang menjelaskan semua tempat penting atau bersejarah sepanjang perjalanan. Kota dengan nama jalan tokoh tentara dan dokter terbanyak menurut saya, hehe.

Pokoknya belum ke Solo kalau belum naik Werkudara!
“Saya pasti balik lagi,” kata saya kepada teman yang mengantarkan ke Stasiun Balapan. Ah, Solo bikin aku kangen…

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s