SENGGANG, Sudut Pandang

Writing Trip Jogja-Solo; Antara Ledhok dan Cothot


Minggu pagi itu, sambil lesehan di atas karpet ruang tamu, terhamparlah aneka kuliner ‘aneh’ bagi peserta writing trip Fun Institute. Saya bilang ke teman-teman, “Tinggal sekuat perut lu aje, tuh!”

IMG-20131104-02665
Bubur Ledhok
Klaten Tengah-20131104-02666
Sego Tumpang

Ada kacang rebus, ini di Jakarta ada. Biasa. Ya, saya mau mulai dari yang biasa dulu. “Tapi kok kacangnya gede-gede ya,” Dina masih terheran-heran juga. Meski disahut sama si Ali yang tak berhenti mengunyah dengan kalimat, “Ah, sama aja!” Dan berdebatlah mereka. Memang sih, kacang rebus dan proses merebusnya tidak beda. Tapi memang tampaknya ini kacang tanah dari varietas yang berbeda. Isinya cenderung tiga atau empat biji. Nyaris tidak ada yang dua. Itu saja.
Lanjut dengan keluarnya ubi jalar yang dikukus…

Hmm, asapnya masih menguar. Tampak ubinya menggoda, merekah. Ubi kukus memang ada di Jakarta, diedarkan bersama bajigur biasanya. Bedanya, kali ini ubi yang baru nyabut dari petani dekat rumah kakak saya. Ditemani teh hangat, menu sarapan pagi itu dilengkapi lagi dengan onde-onde dan cothot. Cothot itu seperti misro, dalam ukuran yang lebih besar dari onde-onde. Dalamnya berisi gula, tapi gula putih, bukan gula merah atau gula kelapa.

Namanya cothot. Mungkin karena kalau digigit gulanya mecothot, muncrat. Meleleh gitu. Itu baru kira-kira saya saja ya. Mungkin karena itu, jadi namanya cothot. Dan ketika Mbak Ade yang orang Medan bertanya, pun Izzie yang betawi asli juga bertanya, saya jawab iseng saja. “Ini namanya apa?” Saya jawab, “Cocot!”

Kontan saja Soson dan Ali yang tahu persis makna yang saya katakan ngakak. Sungguh pemandangan yang indah, ketika Mbak Ade, Izzie, dan Dina manggut-manggut sambil mengulang kata cocot dan menikmati gigitan demi gigitan. “Kalau ketahuan chef di tivi jadi mahal nih, nanti dibilang hmmm… enak, gulanya leleh banget di lidah,” saya masih mengisengi mereka. Karena mereka sangat tidak tahu, beda cothot dan cocot. Karena semakin mesak’ke alias kasihan, akhirnya Soson angkat bicara, “Cothot Mbak, pake th, kalau cocot itu kasar, artinya mulut. Bahasanya Mas Ali tuh…” Ali hanya tersenyum, merasa bangga, memiliki bahasa bergenre Tegal dan sekitarnya.

Nah, begitu semua sudah berkumpul, sudah mandi, sudah wangi…
Acara berikutnya adalah sarapan! Nah lho, lha tadi apa?

“Itu tadi makanan pembukanya, Mbak. Di sini begitu,” kata Soson yang asli Njimbung, Klaten juga. Masih sepuluh kiloan dari rumah kakak saya. Mengikuti jalan raya depan komplek perumahan ini. “Mari kita makan,” menggelegar suara Ali.

“Ini apa?”
“Itu apa?”

Klaten Selatan-20131104-02668
Cothot
Klaten Selatan-20131104-02669
Kulineran ala Klaten

Ada dua menu yang disediakan kakak saya pagi itu. Sego Tumpang dan Bubur Ledhok. Nasi tumpang itu mirip-mirip sama nasi ulam kalau di Jakarta. Nah kalau bubur ledhok, ya bubur tapi lauknya mirip seperti yang ada di sego tumpang. “Wis, ndak usah banyak penjelasan, embat bae…” kata Ali.

Dan sesi ini, membuat jadwal jalan molor hingga satu jam.

Ah betapa mengasyikkan kulinerannya. Apalagi kakak saya masih memanjakan lidah tetamunya dengan urab, tempe goreng tepung mirip mendoan, hmm. Lagi-lagi saya harus bilang ke Ali, “Sekuate wetengmu, Li!” Ali hanya tersenyum karena memang mulutnya penuh. Prinsip bahwa rezeki harus disyukuri, harus dinikmati, sangat dipegang teguh oleh peserta writing trip ini. “Nggak ada doa tolak rejeki, ayo…” kata sayar. Terus terang saya lebih memilih makan dengan urab, karena ada daun kenikir yang selalu membuat saya makannya lahap. Daun kenikir, irisan daun kencur, dan pucuk bunga kecombrang adalah klangenan saya. Menurut saya, ketiganya itu menyegarkan. Sepertinya mengandung mint gitu. Itu menurut saya lho ya, masalah selera ndak usah diperdebatkan.

Kenyang sarapan. Beberes…

“Kita ke Prambanan,” kata saya.

Ketika Ali mengendorkan ikat pinggang karena kekenyangan. Dina malah jejingkrakan. “Asyik, ntar gue foto ama patung…” ujar Dina sumingrah. Foto ama patung? Semua membatin sama. Hmm…

Iklan

Satu tanggapan untuk “Writing Trip Jogja-Solo; Antara Ledhok dan Cothot”

  1. hahaha, kalau aku tuh tahu kata cocot, bahasa kasar. Pernah dikasih tahu teman.
    Dulu aku nggak tahu sego kucing. Pas aku tahu, sego itu nasi. dan kenapa dinamai sego kucing, karena disajikan dengan porsi sedikit, seperti untuk makanan ke kucing. Nasi kucing seperti, nasi rames, ya. Dengan menu bermacam-macam: tempe kering, teri goreng, sambal goreng, babat, bandeng, usus, kepala atau cakar ayam serta sate telur puyuh. Aku seringnya nyobain makanan angkringan itu di Kuningan, Jakarta. Tapi aku juga pernah nyobain di depan UIN, Ciputat, juga ada.. Pernah makan bareng Ikal. Tapi beberapa menu di atas, belum nyoba. Di Jakarta, ada, nggak? *penasaran.. hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s