Sudut Pandang

Writing Trip Jogja Solo; Jebres Memang Jebret


Pasar Kliwon-20131103-02603
Stasiun Solo Jebres
Pasar Kliwon-20131103-02604
Lagi, Stasiun KA Solo Jebres

“Kita turunnya di Stasiun Solo Jebret ya?” tanya Dina dengan wajah innocent-nya. Kontan saja diprotes Soson.

“Jebres, Mbak Din! Bukan jebret…” Soson menunjuk tulisan besar. “Tuh!”

“Jebret ya, oh…”

“Masya Allah, Jebres Mbak Din, Jebres, pake es!” Soson kesal.

“Oh Jebret, eh Jebres, ya ya Jebres…”

Dina pun berlalu, kembali ke tempat duduknya. Bangku yang nyaman, panjang, seperti bangku di taman-taman. Enak buat diduduki, pas di lengkungan pinggang dan untuk sandaran punggung. Bukan hanya Dina, beberapa orang banyak yang duduk menunggu subuh, mungkin pula menunggu jemputan, atau bisa jadi menunggu yang tak pasti, haisshhh…

Saya termasuk orang yang penasarannya agak tinggi soal nama-nama tempat. Apalagi saya terkesan sekali, dulu di TVRI Yogyakarta ada pagelaran ketropak yang seringkali endingnya seseorang memberi nama tempat pertemuan atau kejadian itu. Pun ketika mendengarkan radio yang menyiarkan cerita-cerita legenda. Selalu saja, ada tokoh yang menamai suatu tempat lalu ending diiring dengan gending penutup.

Walaupun selalu saja banyak versinya, penamaan sebuah tempat selalu berhubungan dengan sejarah panjang. Legendanya hidup, mitosnya mengiringi. Walaupun tentu ada telusuran sejarah yang bisa dipertanggungjawabkan secara akademik. Tidak semata-mata diturunkan dengan estafet secara tutur dari generasi ke generasi.

Seperti yang terjadi pagi itu di Stasiun Jebres, Solo.

Pertanyaan Dina tentang Jebret atau Jebres. Dia tidak sedang bercanda, walaupun kata ‘jebret’ sempat menasional ketika Timnas U-19 Indonesia memenangi Piala AFF 2013 melawan Vietnam. Valinteno Simanjuntak yang kala itu memandu jalannya siaran langsung di stasiun tivi swasta, melahirkan kata ‘jebret’ dengan menggebu-gebu.

Perlahan saya cari tahu, kenapa Jebres. Diucapkan dengan e terbuka bukan e pepet, seperti kita mengucap es, pepes, atau beres. Tentu yang melintas pertama kali dalam benak saya adalah adegan ketoprak menjelang ending, seorang tokoh karismatik akan berkata, ”Mulai hari ini, tempat ini, aku namakan Jebres…” Dan iringan gamelan pun mengiringi. Para pemain menahan napas dan gaya, freez!

stasiun jebres
Solo Jebres tempo dulu, khas bangunan Belanda

Ketika yang lain tiduran, ngopi susu, saya iseng googling. Inilah zaman, tidak ada yang bisa melawannya. Saat ini, begitu mudah orang mendapatkan informasi dari internet. Dan penemu mesin pencari di internet, sungguh jasanya luar biasa. Seperti biasa, keluarlah panjang sekali daftar pemberitahuan, menunjukkan sumber informasi yang bisa saya akses. Hanya karena saya mengetik, asal mula nama Jebres.

Beberapa saja saya buka, maka menguarlah pengetahuan baru menjelang subuh itu. Di ruang tunggu Stasiun Jebres, saya mulai membaca, kenapa Jebres. Sekali lagi, selalu banyak versi, saya kutipkan dari salah satu situs ya… [http://tentangsolo.web.id/kawasan-jebres-surakarta.html]

  • Menurut beberapa sumber disebutkan bahwa pada masa lalu daerah ini merupakan tempat tinggal Ki Jebres, seorang abdi dalem kusir jaman Sunan Pakubuwono IV.
  • Menurut Majalah Dharma Kandha ( Februari, 1972, Tahun III, No.117), Jebres berasal dari nama seorang berkebangsaan Belanda bernama J.Pressen, beliau adalah pengusaha kaleng susu. Bekas Rumah tempat tinggal J.Pressen terletak di sebelah utara Stasiun Jebres. Rumah ini berdekatan dengan rumah seorang pengusaha pemerahan susu sapi bernama M.Ming (daerah itu sekarang dikenal dengan nama Kampung Ngemingan). Lokasi sekitar tempat pemerahan susu tersebut sekarang digunakan untuk kantor kelurahan Jebres.
  • Raden Tumenggung Taryakusuma mengatakan bahwa Jebres dahulu merupakan tempat tinggal seorang Belanda bernama Jasper, seorang pedagang besi.
  • Dalam babad Prambanan (1916:hal.22), dikatakan Jebres adalah hutan belantara yang tumbuh di selatam Tembayat dan Masaran, sudah dipenuhi dengan prajurit bersenjata lengkap. Daerah ini konon merupakan tempat berburu para raja.

Ada juga versi lainnya, bahwa Jebres seperti banyak kata Belanda yang terpeleset di lidah orang Jawa berawal dari penyebutan J Pres. Siapa J Pres? Dia adalah Victor J Persen, pemilik pabrik keju Victory di daerah itu. Atau versi lainnya lagi, Jebres berasal dari susahnya lidah pribumi menyebut land forest. Sebutan Belanda untuk tanah hutan, tempat prajurit telik sandi atau mata-mata Pangeran Diponegoro bertebaran mengintip aktivitas Belanda pada Perang Jawa.

Apa pun versinya, semua sah bagi saya.

Ah, perjalanan selalu saja mengasyikkan. Tidak hanya memberi ruang untuk tahu hal baru, walau dari masa lalu. Tapi juga menikmati masa lalu di hari ini. Saat azan subuh berkumandang dari pengeras masjid di seberang Stasiun Jebres, saya merasa baru keluar dari lorong waktu. Menikmati masa lalu…

“Shalat yuk, abis ini kita naik becak ke Balapan,” kata Soson.

“Asyiiik… kita balapan naik becak!” sahut Dina buru-buru bangun dari duduk.

Hmm…

Catatan #3 Writing Trip Fun Institute – Exploring Jogja-Solo, sumber foto pribadi dan internet

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s