FUN Institute

Balapan Mbecak


Sebuah kota dengan beribu pesona…

Hari pertama tiba di Solo, dimulai dengan mbecak dari Stasiun Jebres ke Stasiun Solo Balapan. Ya, peserta writing trip FUN Institute memang harus mengejar kereta Pramex ke Klaten, tempat singgah dan menginap nanti. Maka, terjadilah konvoi tiga becak menyusuri jalanan Solo yang aspalnya mulus nian itu.

Kebetulan, saya mendapati pengayuh becak yang rame! Maksudnya, enak diajak ngobrol, bahkan tanpa ditanya, dia cerita panjang. Tentu dengan napas yang ngos-ngosan. Sebenarnya tidak tega mengajaknya ngobrol, tapi beliaunya yang ramah dan semanak. Mudah akrab. Yo wis, saya mendengarkan saja, sesekali menyahut, sebagai tanda hormat dan menghargai beliau.

Saya selalu kagum dengan humor cerdas yang sangat situasional. Hanya pas dan lucu di tempat dan waktu itu saja. Tidak bisa di-copypaste denyut kejenakaannya di tempat dan waktu yang berbeda. Dan kepada orang-orang macam ini, sang pengayuh becak saya banyak belajar. Termasuk belajar menertawakan kegetiran hidup, belajar menikmati hidup dengan rileks, juga belajar nrima ing pandum – menerima rezeki sesuai yang dijatahkan Tuhan.

Tidak ada yang tergesa, teduh, lentur, dan rileks…

Mungkin inilah yang dimaksud dengan tagline Solo, The Spirit of Java. Saya sih hanya meraba-raba, kira-kiranya saja. Walau akhirnya saya mendapat informasi, kalau slogan itu adalah hasil sayembara yang diadakan Pemerintah Kota Solo sebagai upaya pencitraan kota Solo sebagai pusat kebudayaan Jawa.

“Jalannya halus ya…” ujar perempuan yang sebecak dengan saya.

“Iya, tinggalannya Jokowi nih,” sahut saya. Ya biasa, sok tahu gitu.

“Oh iya, jan Pak Jokowi itu bener-bener mboten purun korupsi, Mas…” tiba-tiba si pengayuh becak itu menyambar pembicaraan saya. “Pak Jokowi itu orang hebat!” pujinya lagi, terasa sekali kebanggaannya, walau dengan napas terengah, dia bersemangat sekali menceritakan sosok mantan Walikota Solo itu. Orang yang kini jadi Gubernur DKI Jakarta. Terasa sekali kecintaan dan kebanggaan itu.

stasiun balapanDia ceritakan banyak hal tentang sosok itu. Siapa sih sekarang ini orang se-Indonesia yang tidak kenal nama Jokowi. Buat saya yang cuma penikmat Jakarta, setidaknya saya bisa melihat, bahwa dia dan pasangannya adalah sosok pemimpin yang bekerja. Soal politik-politikan, saya tidak peduli. Cuma bikin berisik di kuping. Memimpin yang bekerja, atau kata Agus Salim memimpin itu menderita sekarang sulit dijumpai. Apalagi yang mau mengorbankan diri dan miliknya demi kepentingan kemajuan orang banyak.

Seperti Mangkunegara VII misalnya…
Begitu visionernya, terbuka terhadap perkembangan zaman. Melepaskan alun-alun utara Mangkunegaran, tempat pacuan kuda waktu itu, untuk dibangun stasiun kereta. Ya, Stasiun Balapan yang semakin mahsyur berkat lagunya Didi Kempot. Ning Stasiun Balapan, kuto Solo kang dadi kenangan, kowe karo aku…. Waktu itu, 1890 -1910 terjadi gerakan perubahan dari pola pedesaan menuju pola perkotaan. Dan transportasi modern seperti kereta api adalah langkah menuju perubahan itu.

Dengan 15.000 rupiah, saya mendapat banyak. Bukan sekadar mbecak dari Stasiun Jebres ke Stasiun Balapan. Bukan hanya melewati banyak tikungan, tapi mendapati banyak pengalaman, cerita, dan penegasan. Oh, ini dulu gereja yang di bom atau oh di sini hotel itu, oh ini tho sekolahan itu, dan oh, oh yang lain. Meski agak temaram, di bawah lampu jalan, di mulut pintu masuk Stasiun Balapan, saya melihat senyum ramah dan hangat sang pengayuh becak. Matur suwun. Kalimat itu mengakhiri pertemuan yang hangat pagi itu. Saya sempatkan menyodorkan senyum, sekalian memindai wajahnya yang sejak tadi hanya terdengar suara dan napas yang terengah.

Segera saja, rombongan writing trip bergegas mengantri tiket Kereta Pramex. Kereta yang berangkat paling pagi dari stasiun ini. Jam setengah enam, jurusan Solo-Kutoarjo, tapi rombongan ini hanya akan turun di Klaten, hanya melewati dua stasiun saja, yaitu Purwosari dan Delanggu. Hanya setengah jam saja kira-kira…

Baru duduk, Izzi memotret dengan gadgetnya. Lalu mengaploadnya di fesbuk dengan tag, menuju Klaten dengan kereta Paramex… Kontan saja Soson protes, “Pramex Zi, bukan Paramex, emangnya obat sakit kepala…” Saya menambahi, “Kayak Cirex yang singkatan dari Cirebon Express, Pramex itu singkatan dari Prambanan Express.” Izzi hanya melongo.

Hmm…

Catatan #4 Writing Trip Fun Institute – Exploring Jogja-Solo

sumber foto; internet

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s