SENGGANG, Sudut Pandang

Writing Trip Jogja-Solo; Stasiun Saksi Sejarah


Pasar Kliwon-20131103-02604 SANYO DIGITAL CAMERA“Ini stasiun peninggalan Belanda yo, Mas?” tanya Soson sambil meniup-niup kopi susu di Stasiun Solo Jebres menjelang subuh itu. Setelah perjalanan 500 kilometer lebih, sekitar sepuluh jam lamanya.

“Emang pemerintahan kita pernah bikin stasiun kereta?” saya balik bertanya.

Soson hanya nyengir, mungkin karena kopi susunya panas menyengat lidah, bisa jadi getir dengan sejarah bangsa dalam membangun transportasi massal macam kereta api ini, atau memang tidak tahu sama sekali.

“Stasiun Gambir, Juanda, Gondangdia dan Cikini, itu sebelumnya sudah ada, dibongkar dan diperbaiki menjelang KTT Nonblok di Jakarta tahun 1992 menjadi lebih representatif dan artistik. Dari rel tunggal jadi rel ganda sepanjang Jakarta ke Bogor, melayang tak lagi menyusur tanah sampai Stasiun Manggarai…” saya menyampaikan ingatan saja. Sambil usil ikut menyeruput kopi susunya Soson. “Itu setahuku lho ya…”

Bagi Ali, ini adalah perjalanan pertamanya naik kereta. Tentu dia lebih membuncah rasa penasarannya. Sepanjang jalan, sebelum dia ngantuk, kemudian sempat tidur sambil duduk, sampai bangun dan matanya segar lagi, banyak pertanyaan pada saya, lewat mana saja gerangan jalur kereta ekonomi Brantas ini.

stasiun gambir
Stasiun Gambir, dulu kala…

Perjalanan dengan kereta, boleh jadi terlalu biasa buat saya dan keluarga waktu itu. Seperti juga ayah atau ibu saya yang telaten dan sabar memberitahu sudah sampai dimana, setelah ini mana, sampai di tujuan kapan, pokoknya semua pertanyaan anak kecil dengan keingintahuan yang tak terbatas. Maka, malam itu kepada Ali dan Soson yang duduk berdekatan, serta Era yang asyik dengan gadgetnya, saya memberitahu seperti halnya ayah dan ibu dulu. Bedanya, saya menambahi dengan pengetahuan yang dari bacaan dan pengalaman perjalanan sebelumnya.

“Kereta ekonomi nggak berhenti di stasiun-stasiun besar, Li…” saya menjawab pertanyaan mengapa KA Ekonomi Brantas jurusan Kediri ini berangkat dari Stasiun Senen. Termasuk ketika tidak berhenti di stasiun besar Cirebon, tapi di Stasiun Cirebon Parujakan tempat saya dan teman-teman membeli makan malam.

“Kira-kira kita lewat berapa stasiun ya, Kang?”

Saya hanya tersenyum. Dalam hati saya membatin, “Lu kata gue kondektur kereta, ngitungin stasiun! Sialan nih bocah…” Tapi demi gengsi, bukannya sok tahu, tapi kalau sekadar ngasih tahu stasiun dari Jakarta ke Cirebon sepele lah. Tapi selanjutnya, nanti dikira-kira saja, hehe… Saya sebut saja stasiun-stasiun yang keingetan dan biasa kereta ekonomi (dulu) berhenti. Seperti Jatinenegara, Bekasi, Cikampek, Haergeulis, Jatiibarang, Cirebon.

“Nah, sesudah Cirebon ini, kereta misah jalur Li, yang lewat jalur selatan belok, nah kereta yang lewat jalur utara bablas…”

Ali mengangguk-angguk sambil terus mengunyah. Sementara Soson yang sudah biasa naik kereta, mengangguk-angguk juga. Tapi mengangguk ngantuk, sesekali juga menyela, entah sadar atau mengigau. “Nanti kereta ini juga misah jalur lagi ya, Mas…”

“Iya, di Semarang. Kita kan mau ke Solo…”

pembangunan-jalur-kereta-api-di-pulau-jawa
Pembangunan rel KA pertama di Jawa

Cerita tentang stasiun demi stasiun, bagaimana sistem sinyal manual zaman dulu, lari lagi ke arsitektur yang mirip, gedung tinggi, besar, dan sangat khas bangunan kolonial pun menjadi perbincangan sepanjang jalan. Perjalanan memang pembelajaran lintas ilmu. Menegaskan pengetahuan yang hanya didapat dari buku, menguatkan ingatan, dan menghadirkan wajah pengetahuan sesungguhnya.

“Nggak tahu, berapa orang yang mati demi jalur kereta ini, mereka nggak menikmati masa depan, mungkin nggak ngerti juga untuk apa yang dikerjakannya. Tapi inilah keadilan Tuhan, mereka yang tahu apa-apa, orang kecil yang tertidas pun memperoleh kesempatan menjadi jalan kebahagiaan orang-orang sesudahnya…” entah dapat wangsit dari mana, kok tiba-tba saya bisa ngomong begini.
“Omongane sampeyan kok ngeri, Mas…” Soson menyahut, “Sholat sik ah, aku jadi merinding nih.”

Setiap kerja besar, selalu memerlukan pengorbanan yang besar pula. Kita tidak tahu, berapa tenaga pribumi dibayar pada awal jalur kereta pertama dimulai oleh Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NV. NISM) pimpinan oleh Ir JP de Bordes itu tahun 1864. Duaratus tahun lebih yang lalu…Bisa jadi dibayar, bisa jadi tidak. Mari buka buku sejarah lagi.

Di subuh pagi itu, di Stasiun Solo Jebres, hanya beberapa kilo dari Stasiun Balapan Solo, peserta writing trip Fun Institute mulai memakna. Sejarah tak bisa ditinggal sepi, dia ada, dan membuat kita menikmati hari ini. Setidaknya, saya dan teman-teman telah menikmati jalur kereta api pertama Semarang-Solo yang pencangkulan pertamanya dilakukan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr. LAJ Baron Sloet van den Beele. Hmm…

*Catatan #2 Writing Trip. Sumber foto, pribadi dan internet

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s