SENGGANG, Story & History

Writing Trip Jogja-Solo; Kereta Tak Berhenti Lama


Banjarsari-20131103-02602
Dina dan Ali, di KE AC Brantas
Geyer-20131103-02597
Soson, sudah terbiasa naik KA Ekonomi

“Saiki kereta ekonomi wis enak, Mas,” kata Soson yang asli Njimbung, salah satu tempat di Klaten. Dedengkot di Fun Institute yang langganan naik kereta ekonomi setiap pulang kampung. Pokoknya naik kereta api ekonomi sekarang sudah nyaman, intinya begitu. Disambung oleh argumentasi Ikal, anak Tuban yang langganan naik kereta api ekonomi sampai Stasiun Semarang Poncol, sebelum nyambung bus ke Tuban.

Saya memang sudah beberapa waktu mendengar tentang revolusi, ya saya menyebutnya revolusi, bukan sekadar reformasi dalam tata kelola perkeretaapian Indonesia. Lebaran tahun lalu, saya iseng mencoba pesan tiket KA Argojati dari Gambir tujuan Cirebon lewat Indom***t. Terobosan baru sistem penjualan tiket online selain memudahkan, juga terasa sekali didekatkan.

Pada beberapa kesempatan, dalam konteks perjalanan kereta listrik Jabodetabek, saya pun merasakan perbedaan yang luar biasa. Perjalanan dengan KRL ke Bogor, terasa sekali nyaman, mungkin karena hari Minggu dan masih pagi. Tapi ketika kembali ke Jakarta pun, walaupun padat, saya tetap merasa nyaman.

Dari pengalaman itu, saya menyimpulkan bahwa KAI berhasil melakukan revolusi. Selain sistem tiket online, pelayanan dan kualitas kereta pun makin baik. Ini yang saya buktikan dalam perjalanan ke Solo dengan menumpang KA Ekonomi Brantas dari Stasiun Pasar Senen ke Stasiun Solo Jebres. Membuktikan apa yang dikatakan Soson dan Ikal, “Kereta ekonomi sekarang enak.”

“Kok murah ya?” saya dan istri saya kaget melihat harga tiketnya.

Saya pernah ngerasain bagaimana suasana naik kereta api ekonomi di masa lalu. Terakhir kali, sekitar awal tahun 90-an. Sebagai rakyat di lapisan terbawah dalam piramida Masslow, orangtua saya yang hanya bisa mengonsumsi tiket kereta api ekonomi. Kereta yang setiap gerbongnya akan padat sekali. Lebih dari kapasitasnya. Gerbong yang tempat duduknya hanya 80 seat, bisa berisi ratusan orang. Soal posisi duduk dan tidurnya, tak mengherankan di kolong kursi ada orang asing yang tidak kita kenal tidur dengan pulasnya plus mendengkur keras. Atau membujur sepanjang gang, bahkan mungkin saling beradu kepala dengan kaki.

Lazim sekali orang-orang duduk di dekat pintu, dekat sambungan antargerbong, dan di depan toilet yang pesing. Malah kalau perlu, saking tidak ada pilihan, toilet pun jadi ditempati. “Sing penting keangkut!” – yang penting kebawa kereta. Walaupun sungguh tidak manusiawi, perjalanan berjam-jam, ribuan mil, dengan mengambil tempat di toilet. Hmm…

Lalu lalang orang jualan tak kunjung henti, tak kenal waktu. Dari stasiun ke stasiun estafet. Kakinya melangkah begitu lincah di antara orang-orang yang malang melintang tidur. Kadangkala, ditambahi panas yang luar biasa karena kipas angin yang meninggal dunia. Sekali waktu, bisa dijumpai lampunya pun mati.

“Bedanya jauh sekali…” saya bergumam.
Dari mulai membeli tiket online, menukarkan print out booking, sampai masuk ke peron. Petugas akan memverifikasi tiket dengan tanda pengenal. Tidak ada lagi orang tanpa tiket di peron. Dipastikan, orang di peron adalah penumpang kereta. Buat saya, ini luar biasa. Maka sore itu, saya dan beberapa teman Fun Institute, memulai writing trip dari Stasiun Senen. Stasiun peninggalan VOC, karya arsitek J. Van Gendt yang dibangun tahun 1916 dan resmi dipergunakan 1925. Karya masa lalu yang abadi, namun banyak yang tak mau memakna, kecuali melewatinya sambil lalu.

Begitu peluit berbunyi, derak roda KA Ekonomi Brantas pun melaju perlahan. Terus membelah senja menuju ke timur. Berhenti sejenak di Stasiun Cirebon Parujakan, Stasiun Brebes, Stasiun Tegal, dan Stasiun Semarang Poncol. Hingga tepat menjelang subuh, tibalah di Stasiun Solo Jebres. Sebuah perjalanan dengan pengalaman baru yang sungguh sangat jebret!

Saya mulai jatuh cinta lagi pada kereta. Hmm…

*Catatan #1 Writing Trip Fun Institute – Exploring Jogja-Solo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s