Sudut Pandang

Berlalulah Malam


Apa yang kau cintai pada malam?

Kantuk yang melelapkan. Itu jawaban saya. Tentu tidak pada diri orang-orang shaleh yang mencintai sepertiga akhir malam. Kemuliaan, jawab mereka. Maka benarlah, mereka yang senantiasa berbasah-basah air matanya dalam sujud tahajud, berderai-derai pintanya merangkum aneka doa, saya menemukan keteduhan, ketenangan, dan kejernihan.

Saya bukan bagian dari itu…

Mungkin belum. Kata teman dekat saya meralat kata ‘bukan’ yang saya ucapkan. Saya masih bagian orang yang kaget, tiba-tiba malam sudah berlalu. Tak tahu di mana awalnya, setengahnya, apalagi sepertiga akhirnya. Selalu saja saya menjumpai, sudah fajar, sudah subuh, atau sudah lewat subuh. Malam berlalu, tanpa pernah saya tahu, kapan datang dan perginya. Persisnya.

lalu layla  Aura malam pernah menjadi salah satu nama tengah saya, saat saya menjadi orang yang harus bekerja demi garis-garis mati. Aura Layla… melahirkan banyak drama pada malam-malam yang sepi dan dingin. Malam menjadi panjang, menjadi berharga dengan ukuran-ukuran lembar. Mereka-reka cerita, mengolah dialog dan menarik emosi untuk menghidupkan tokoh-tokohnya. Demi rating!

Malam berlalu.

Apa yang kau cintai pada malam?

Malam adalah cinta. Malam adalah ruang kerja. Seperti orang yang terus terjaga di berbagai tempat lainnya, dengan berbagai profesi dan pekerjaannya. Saya tidak sendiri, saya menikmati malam sendiri. Di ruang yang tertutup, di rumah yang tersedia logistik cukup untuk menopang kelopak mata dan otak agar imajinasi terus hidup.

Saya bukan penulis… saya bukan pengarang.

Saya orang yang bekerja demi nafkah keluarga dengan menulis dengan mengarang. Menulis, selesai, dibayar, bisa beli beras, bayar listrik, memenuhi semua kebutuhan rumah dan sedikit sedekah, cukuplah. Saya tidak bisa bekerja selain itu. Menjadi petani, saya tak punya sawah, tak punya ladang. Menjadi pedagang, saya tak punya modal.

Malam mengajarkan saya tentang kerja keras.

Maka, ketika kau tanyakan tentang cintaku pada malam?

Saya merindukan malam yang melelapkan. Menikmati malam yang lelap dan menemukan sepertiganya. Bersimpuh menghamba… mendoakan almarhumah ibunda saya, ayah saya, orang-orang yang telah berjasa membuat saya seperti saat ini.

Ah, betapa indahnya malam kalau bisa begitu. Teringat cerpen saya, Lalu Layla yang hampir saja berpindah tangan, menjadi abu di tangan tukang loak. Menjadi bungkus cabe atau ikan asin beberapa waktu kemudian bila majalah bekas itu dibeli tukang sayur. Karena akhirnya, hanya menjadi selembar kertas tak bermakna.

Mungkin karena malam serasa biasa, jarang lelap! Maka saya tak pernah mimpi, apalagi bermimpi menjadi sesuatu. Bermimpi, mimpikanlah, seperti kata motivator. Saya lebih suka lelap tanpa mimpi, lalu bangun segar, dan berlari mengerjakan sesuatu. Menjadi apa saja, termasuk mengantarkan pagi…

Selamat tidur di pagi yang cerah, kawan! Hahaha…

Iklan

Satu tanggapan untuk “Berlalulah Malam”

  1. yang aku cintai dari malam, waktunya istirahat… hehehe..
    jadi pingin tahu cerpennya Lalu Layla, tentang apa, itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s