Sudut Pandang

Lajang Terakhir


Ini kisah bahagia, karena saya dan teman-teman lainnya turut merayakan kebahagiaannya. Melakukan perjalanan jauh, mengesampingkan hal penting lain, melawan kantuk, menembus malam dalam lelah sepulang kerja, dan melakukan hal-hal konyol demi perayaan kebahagiaan itu.

Ikut senang dengan kesenangan orang lain, ikut sedih dengan kesedihan orang lain tanpa harus hilang ketegaran. Itu pesan ibunda saya, dulu sekali. Teman-teman saya ini mengenal dan memiliki kenangan yang baik tentang ibu saya juga. Sebenarnya tidak pantas saya menyebutnya dengan kriteria ‘teman’, karena sesungguhnya mereka ini adalah saudara paling dekat yang menjauh ketika saya senang, dan mendekat ketika saya butuh tangan mereka. Ada saat saya sendiri…
apeKisah ini, bermula dari satu tempat…
Kosan Haji Yusuf.
Sebenarnya yang kos cuma dua orang, tapi rumah itu selalu penuh. Bisa berisi dua kali lipat, tiga kalinya, atau sampai puluhan orang datang setiap harinya. Dulu, dua orang itu adalah teman kuliah saya. Keduanya sudah bekerja, sehingga tidak rumit dengan masalah keuangan dibanding mahasiswa kere macam saya dan teman-teman saya lainnya.

Seiring waktu berjalan…
Semua tumbuh, semua bekerja, semua mulai menjadi orang.
Ada yang merintis karir jurnalistik dari masa kuliahnya, hingga sekarang jadi orang penting di jajaran redaksi majalah. Ada yang sudah jadi senior di bidang periklanan, pengusaha kelas menengah, broker, pedagang, dan pegawai di tempat berbeda-beda. Semuanya tumbuh. Termasuk dalam berkeluarga. Ada yang menjadi ayah dari lima anak, empat anak, dua anak, satu anak, atau belum punya anak.
ape 2

Termasuk kisah ini…
“Alhamdulillaaah…” adalah kalimat pertama yang keluar dengan ruar bahagia ketika saya kabarkan, bahwa satu-satunya teman yang masih lajang bakal menikah. Semua kalimat pertama yang keluar ya sama. Puji syukur pada Tuhan dengan luapan rasa bahagia tak terkira.

Lebaran hari ketiga, sang lajang datang ke rumah. Menceritakan semuanya, tuntas!
“Oke, kita semua dateng!”
ape 1

Walhasil, perjalanan menyusuri pantura dengan Opel Blazer putih malam itu menjadi cerita. Tengah malam meninggalkan Jakarta, setelah janjian makan malam di rumah. “Oke, sepakat dulu ya, kalau ada yang tidur, kita minggir! Pokoknya berhenti!” Haha, kesepakatan edun!

Benar saja, perjalanan beberapa kali berhenti karena kesepakatan tadi. Bagaimana tidak tidur, semua capek, semua habis pulang kerja, langsung jalan. Apalagi yang biasa tidur dengan jadwal sempurna. Tidur habis isya, bangun tengah malam untuk tahajud. Beda dengan orang kayak saya yang melek tiap malam, baru tidur selepas subuh. Seru jadinya…
Sampai Cirebon selepas subuh. Setelah melepas lelah sebentar, mandi, sarapan, dan berganti pakaian seperlunya. Perjalanan lanjut, menyeberangi Gunung Ceremai. Melintas tempat Perjanjian Linggarjati, masuk ke Kota Kuningan, keluar lagi… Hmm, hanya berpatokan pada denah tanpa skala!

Melihat rona bahagia teman saya di pelaminan, semua lelah dan kantuk sirna!
ape 4“Doain gue, Pe!” dia membisik menyebut panggilan khusus saya. Memohon doa, mohon didoakan. Sumpah, baru kali ini saya memeluk pengantin pria, dengan mata berkaca-kaca. Kalau tak malu, saya akan menumpahkannya.

Sungguh saya sangat bahagia… Semoga indah hari-harimu selanjutnya. Lega rasanya, akhirnya semua teman saya berkeluarga. Dan perayaan itu tak hanya dengan orkes dangdut di halaman balai desa dekat rumah mempelai wanita. Tapi berlanjut dengan santapan ikan bakar di Pantura ketika pulang ke Jakarta.

Puncak perayaan kebahagiaan itu adalah…
Tidur sepuasnya ketika sampai di rumah lagi!

Iklan

2 tanggapan untuk “Lajang Terakhir”

  1. asiknya ya, kumpul dengan teman lama. hmm, saudara, lah ya.. hehehe.. sepertinya aku pernah dengar cerita yang dipostingan blog ini, ya..
    turut senang juga, biarpun nggak kenal… hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s