Story & History

Memetik Delima


“Mamah mau minta buah delima, Om,”

Hmm, saya langsung menuju ke kebun. Cowok baru gede itu itu menguntit saya. Mengikuti langkah ke sebelah. Kemarin ibunya cowok belasan tahun ini memang dari rumah. Biasa, ngobrol saja. Rupanya dia melihat pohon delima berbuah. Itu pikiran saya, sehinga anaknya disuruh memintanya.

“Kemaren kok Mamahmu nggak minta?”

“Iya, lupa katanya. Ingetnya udah malem…”

“Emang mau ngapain, mau ngrujak ya?”

Cowok tanggung itu tersenyum. Lama dia diam, sambil melihat saya memetik delima dengan gunting.

“Kan Mamah hamil lagi, Om…” jawabnya lirih.

delima“Alhamdulillah… seneng ya, bakal punya adek lagi,” saya mengelus kepalanya sambil memberikan delima. Satu saja. “Nanti kalau kurang, ke sini lagi, masih ada tuh, tapi belum mateng banget…”

“Iya, Om… makasih.”

Saya senang-senang saja, kalau apa yang tumbuh di kebun kecil saya bisa bermanfaat buat orang lain. Meminta delima, itu hal sederhana. Tapi memberi delima karena seseorang yang ngidam itu sangat istimewa. Bukan ingin jadi cerita, tapi hal sederhana, sebuah delima, mampu memberi jawaban atas keinginan besar.

“Nanti anaknya ngileran lho kalau nggak kesampaian,”

Banyak yang bilang seperti itu kalau ada orang ngidam. Menjadi momok besar bila tidak bisa memenuhinya. Maka, saya mengapresiasi para suami yang sangat heroik mencarikan keinginan sang istri dengan dalih, “Dedeknya yang minta…”

Saya tidak mau diskusi tentang ‘ngidam’. Saya hanya ingin bicara tentang indahnya perasaan bisa turut serta membuat bahagia. Sebenarnya berkebun saya itu hanya meneruskan tradisi. Saya diwarisi ibu sepetak halaman dengan berbagai tanaman. Sempat ada kekhawatiran beliau, “Nanti siapa yang nerusin ya…”

Wajar sih kekhawatiran itu. Saya nyaris tidak pernah di rumah. Istri saya juga repot dan padat urusan pekerjaannya. Urusan kebun, nyaris menjadi urusan ibu saya dan Bang Riban. Orang yang selalu siap sedia berbakti membantu ibu saya beberes tanamannya. Mengganti pot-nya, memupuk tanamannya, atau memindahkan tempatnya. Termasuk membuat rak-rak baru. Karena selalu saja, setiap habis diberesin, selalu tambah jumlah potnya. Yup, karena pecahan atau anakan pohon ditanam di pot baru. Seterusnya demikian…

SAMSUNG DIGIMAX A403Nah, memelihara warisan itu berat, saudara-saudara…

Perlu komitmen khusus, cara khusus, dan strategi khusus untuk bisa membuat saya jatuh cinta. Tapi, saya itu jauh sebelumnya, tidak lepas tangan soal berkebun ini. Bila ada waktu, saya asyik berdua mendiang ibu membongkar-bongkar isi kebun. Jadi, kekhawatiran ibu saya itu hanya karena saya dianggap bakal tidak punya waktu.

Alhamdulillah…

Walau beda gaya, saya tetap jatuh cinta pada kebun. Cara berkebun saya beda sama ibu saya. Tapi cara menjadikan kebun sebagai bagian untuk menjadi jalan kebahagiaan orang lain tetap sama. Sekarang, siapa pun bisa menikmati kebun saya. Dengan air mancur kecil yang sederhana, dengan rimbun pohon-pohon mangga, serta hijau dedaunan berbagai tananam. Ada saung untuk menikmati semilih angin, ada meja berpayung untuk menyesap segarnya udara pagi.

Delima, hanyalah salah satu koleksi tanaman di kebun saya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s