FUN Institute

Menggambar Kupu-Kupu


Kupu-kupu jangan pergi…

            Itu saja sih yang saya hafal dari lagunya Melly Guslow. Kalau yang hafal ya silakan dilanjutkan sendiri. Saya bukan penghafal yang baik. Ditambah bukan pemilik suara yang merdu. Percuma juga saya menghafal lirik sampai selesai, kalau melagukannya juga falsnya tidak diragukan lagi…

Nah, dari pada saya menyanyi, lebih baik saya menggambar saja.

kupu2-4Perihal menggambar, bukannya sombong, saya pernah juara menggambar se-kecamatan untuk kategori taman kanak-kanak lho. Haha, menurut saya, itu hanyalah semata-mata kasih sayang dari kasihan yang teramat dalam dari juri-jurinya. Maklumlah, saya peserta paling kecil waktu itu.

Katanya sih, gambar saya beda. Itu saja. Karena dari ratusan anak-anak kecil yang ikut lomba itu, semuanya menggambar gunung. Dua gunung berjejer, lalu matahari. Entah menyembul di antara dua gunung itu, atau di atas gunung. Baik di tengah, agak ke kiri atau ke kanan. Konon mayoritas menggambar seperti itu.

Saya gambar apa?

Saya gambar kapal laut! Tentu dengan samudera yang kupu2-1biru, awan-awan, dan bendera merah putih di lambung kapalnya. Mungkin saya sudah bosan dengan menggambar gunung. Makanya saya menggambar laut dan kapal. Dan itu yang membuat saya mendapat piala, di usia belum lima tahun. Disuruh naik panggung, disalami, diciumi, dan ditepoktangani saat menerima piala, piagam, dan hadiah.

Konon itu membanggakan keluarga. Ibu saya cerita sama ayah yang sedang berdinas. Simbah saya cerita kepada kerabat dan handai taulan. Hmm, ternyata hal sesederhana itu membanggakan ya? Padahal saya tidak paham artinya juara, untuk apa itu piala, apa guna piagam yang dipigura. Saya hanya senang dapat hadiah alat gambar berupa pensil warna dan cat air, buku gambar banyak, dan buku-buku mewarnai lainnya.

Begitulah…

kupu2-3Setelahnya menggambar buat saya adalah iseng belaka. Menggambar adalah bagian dari mainan masa kecil saja. Saya disediakan buku gambar dengan pensil dan pewarnanya. Sederhana saja, agar saya tidak mencoret-coret atau menggambar di dinding rumah. Membuat ruang tamu penuh coretan, tembok kamar penuh gambar-gambar tidak jelas. Jadi itu cara bijaksana dari ibu saya. “Nanti kalau sudah habis bukunya, ganti lagi…”

Eh, ketika dewasa…

Ternyata malah saya tidak lagi menggambar di buku gambar, tapi malah di tembok-tembok! Walaupun saya tidak termasuk anak yang melakukan graffiti di tembok-tembok pinggir jalan. Karena saya tidak menyukai dan tidak bisa membuat graffiti seperti itu. Saya hanya menggambari tembok taman kanak-kanak, tembok samping lapangan badminton, atau sekarang saya menggambari tembok di rumah saya.

Itu pun saya lakukan dalam rangka iseng belaka.

kupu2-2Melihat ada sisa-sisa cat. Dibuang sayang. Maka jadilah sisi-sisi di FUN Institute saya gambari. Salah satunya adalah gambar kupu-kupu di bawah pohon mangga. Tidak ada makna apa-apa. Saya hanya berpikir, gambar kupu-kupu itu mudah. Karena simetris. Dan warnanya menarik. Daripada tembok saya kosong, kan akan menarik kalau buat foto-foto ada background-nya. Tidak polos.

Ternyata, kupu-kupu di tembok itu sudah terbang jauh. Banyak yang ingin berfoto di situ. Yah, begitu saja sih. Kupu-kupu memang indah. Dan dia pasti harus jadi kepompong dan ulat dulu sebelumnya. Menjadi pembelajar dalam masa diam yang lama, menjadi pengganggu dan menjadi hama. Menyebalkan sekali. Tapi ia indah pada waktunya…

Seperti manusia bukan?

Ada masa nyebelin! Tapi ada masa belajar yang panjang dalam kesendiriannya. Sebelum ia terbang dengan segala keindahannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s