Sudut Pandang

Gulai Tunjang Ria


Lagi, telepon dengan suara perempuan. Tapi bukan suara yang hafal. Hanya ada dua suara yang saya ingat. Suara istri saya yang kalau telepon pasti bilang, “Pulangnya jangan malem-malem, Mas…” atau suara perempuan yang setiap saya telepon pasti menjawab, “Pulsa Anda tidak mencukupi, harap disi kembali…”

Suara di telepon kali ini beda.

Saya yang sedang berlebaran di rumah teman, menikmati tape dari Kuningan. Nasi fermentasi yang dibungkus pakai daun jambu, segera mengangkatnya. “Mas, saya mau ke rumah, gulai tunjangnya sudah matang…”

Hmm…

“Oke, gue di rumah kok! Ditunggu ya…”

Namanya juga mau dianterin makanan. Ya harus semangat menjawabnya. Walaupun masih di rumah orang, ya bilang saja sedang di rumah. Kan saya juga sedang di rumah, bukan di kebun, di pasar, atau di pos satpam. Walaupun rumah teman. “Di rumah kan, Mas?” Saya jawab saja. “Ada, ada, di rumah kok…”

Maka, agenda berikutnya adalah menyusun strategi.

“Lanjutkan!” kata saya kepada istri. Maksudnya saya menyuruh dia untuk melanjutkan silaturahmi ke temannya, tanpa saya! Saya ada misi lebih penting, balik ke rumah untuk menyambut, ‘Gulai Tunjang Spesial’. Hehe, spesial karena dimasak sendiri oleh teman saya yang baik sekali. Diantarkan sampai ke alamat pula, hmm… Biasanya, saya harus ke rumah makan padang untuk makan berlauk gulai tunjang atau kikil itu. Tahukah kikil itu apa? Ya, bagian dari kaki sapi yang kenyal.

Makanya saya yakin dengan tidak adanya doa tolak rezeki.

Begitu sampai rumah, saya masak nasi. Niatnya memang mau makan malam di luar, jadi tidak masak nasi. Ternyata, Allah berkehendak lain. Sambil menanak nasi di rice cooker, saya menutupi jendela, menyalakan lampu, dan bersiap shalat maghrib.

Jreeeenggg…

gulai tunjang1 Suara mobil berhenti di depan gerbang pagar. Disusul suara pintu mobil ditutup. Dan suara pagar didorong, membuat saya segera membuka pintu ruang tamu.

Perempuan yang menelepon saya datang, tersenyum, bersalaman, dan ini yang penting. Fokus mata saya sejak membuka pintu, tentengan tas plastik di tangannya. Hmm, itu dia…

Satu orang lagi, laki-laki. Ngomong mulu, walaupun hanya saya dengar sekilas. Isinya menceritakan kebodohonnya, tidak tahu rute jalan! “Saya tahunya kan jalur angkota, Kang!” Tuh, kan. “Kalau lewat tol saya nggak tahu, jadi ya udah, saya arahin saja taksinya lewat jalan biasa, ngertinya itu…”

Keduanya buru-buru shalat maghrib. Jamaah. Baguslah…

Keponakan saya yang mau buka puasa syawal, langsung antusias, memindahkan gulai tunjang untuk dihangati lagi. Walaupun sebenarnya tidak perlu, karena masakan baru juga, masakan yang baru matang 1-2 jam sebelumnya. Tak lama, dia datang dari dapur dengan sepiring nasi yang sudah bertabur kuah gulai dan sekepal tunjang. Melahapnya, hap, hap!

Tentu saja saya tidak rela berlama-lama hanya melihat. Langsung saja, saya menyendok nasi di rice cooker, mengguyurnya dengan kuah gulai, dan memilih potongan tunjang yang paling montok. Hmm… yummmyyyy!

“Enakkk…” kata saya.

Sang pemasak gulai tunjang tersenyum.

“Terima kasih ya… Enak, empuk…” kata saya, “Ayo makan sekalian.”

Lagi-lagi dia tersenyum. “Aku udah makan sebelum ke sini,” katanya. Eh, malah laki-laki di sebelahnya yang mengambil piring, menyendok nasi, dan ikut serta menikmati gulai tunjang yang aduhai itu.

Perempuan pembuat gulai tunjang spesial itu adalah Ria. Dan laki-laki yang ikut-ikutan makan gulai tunjang itu adalah Andi. Hehe…

Iklan

5 thoughts on “Gulai Tunjang Ria”

  1. hehehe.. ternyata di rumahnya orang.. haha.. eh tapi nggak apa. yang penting, pas di rumah, ada orangnya.. hehehe.. terimakasih dibilang enak, gulai tunjangnya, Mas…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s