Ibu

Lebaran #1


ibu-bundar-emasTahun ini adalah lebaran saya tanpa almarhumah ibu untuk ketiga kalinya. Sulit lupa, karena banyak sekali kenangan yang tak mungkin terhapus. Terlalu banyak, terlalu banyak. Buat yang sudah ditinggal ibu, mungkin apa yang saya rasakan, juga akan terasa. Rasa yang hanya bisa dinikmati oleh orang yang mengalami. Tidak terbeli, tidak tercerita…

Seperti biasa, saya tidak memiliki tradisi mudik.

Dulu, karena ibu saya dituakan atau dianggap orangtua oleh orang-orang sekitar rumah. Maka saya cukup menemani beliau menerima sekian banyak tamu. Dari anak kecil, mulai ABG hingga seusia ibu saya. Ramai sekali. Apalagi rumahnya di pojokan, jadi sekalian buat istirahat orang-orang yang selesai silaturahmi muter-muter komplek.

Tumplek blek!

Teras ramai, ruang tamu penuh, ruang keluarga meriah…

lebaran #1Hari pertama akan penuh sampai sore, silih berganti tetamu. Semua mengambil posisi masing-masing. Ada yang ngobrol sesama tamu, ada yang ngemil sambil nonton tivi, ada yang jauh hari pesan minuman bersoda dan menikmatinya dengan membuat lingkaran sendiri. Dan…

Ups! Ini yang istimewa…

Ada dua menu istimewa dan beda dalam setiap lebaran. Pertama, pecel bumbu pedas. “Kasihan, di mana-mana sudah santen-santenan. Ini kan sayuran, sehat…” itu alasan ibu saya menyediakan pecel. Sok siapa saja ambil. Kalau kurang masih ada stok sayurannya di kulkas dan bumbu kacangnya yang dipesan khusus.

Untuk menu yang satu ini, membuat saya harus terkenang, selepas sahur puasa terakhir. Saya musti mengantar ibu belanja. Dan jangan heran, pulangnya sudah seperti orang mau buka warung. Hmm, dahsyat. Antara lain ya itu, sayur mayur segar, dari mulai bayam, kacang panjang, wortel, kecambah kacang. Dan kalau pas ada, pecel ibu saya ada irisan daun kencur dan daun kecombrang.

Itu menu istimewa yang pertama.

Menu istimewa dan unik yang tidak ada di tempat lain adalah ‘opor soang’. Maklum saya tinggal di kampung, jadi menyebut angsa si putih berleher panjang itu dengan soang. Ini menu yang turut menghilang, sepeninggal ibu saya. Dulu, selalu ada orang yang mengantarkan soang atau angsa ke rumah. Karena tahu ibu saya pasti akan membelinya untuk menu lebaran. Atau akan datang seseorang yang menawarkan ‘maro’, atau bagi hasil untuk memeliharakan angsa-angsa itu. Ibu saya membeli bibitnya, orang tersebut memeliharanya, dan bila lebaran tiba, tinggal ambil…

lebaran #2Menu yang satu ini juga membuat saya mempunyai tradisi motong soang! Haha, kebayang kan, leher angsa yang panjang harus saya potong… Bertahun-tahun saya melakukan prosesi itu. Menjadi jagal untuk angsa yang cantik, tapi kalau ‘neyot’ atau ‘nyosor’ sakitnya terasa lama. Begitulah, jangan lihat cantiknya. Haha… Dan jatah saya sebagai pemotongnya adalah ati dan ampelanya. Lezat…

Hari kedua, giliran anak-anak asuhnya datang.

Mereka itu antara lain ya teman-teman kuliah dan teman sekolah saya. Mereka datang bersama istri dan anak-anaknya. Lagi-lagi, mereka sudah terobsesi dari rumah, mau makan ‘opor soang’ Eyang Uti. Seharian mereka akan mengisi ruang-ruang rumah dengan celoteh, tangis dan tingkah lucu-lucu. Sang Eyang Uti hanya banyak senyum melihat polah ‘cucu-cucunya’, sambil mendengar curhat ibunya anak-anak tentang suaminya (alias teman-teman saya) yang kadang masih suka pecicilan dan kurang ajar seperti waktu muda.

Hmm…

Lebaran kali ini, saya hanya bisa mengenangnya. Menengok makamnya, mendoakan tak putusnya. Dan menyambangi sahabat-sahabat karib ibu saya, pengganti ibu saya. Saya cium tangannya, saya bahagiakan sebisanya…

Iklan

2 thoughts on “Lebaran #1”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s