Story & History

Belajar dari Zang


Tangan mungilnya terus memecah batu. Tentu saja batu-batu itu harus pecah dalam beberapa pukulan. Berbeda dengan tangan-tangan kekar dan keras di sekelilingnya. Tangan-tangan orang dewasa. Namun tangan ini, meski tampaknya lemah, dia melakukan lebih dari apa yang dilakukan orang-orang dewasa di sekitarnya, bahkan di antara 1,4 milyar penduduk Cina, atau tangan-tangan milyaran orang dewasa lainnya di seluruh dunia.

Zang Da, masih sepuluh tahun…

Dia harus bekerja keras, membiayai hidupnya, pun membeli obat untuk bapaknya yang lumpuh. Dia harus membagi waktunya, mengurusi bapaknya, dari membuatkan bubur untuk makan, membawanya ke toilet, hingga satu hal dahsyat… menyuntik bapaknya! Ketrampilan yang ia pelajari dari para perawat yang pernah merawat bapaknya. Ia perhatikan, ia praktikan. Hmm…

zhang da (1)Ibunda Zang Da pergi meninggalkan dia dan ayahnya entah ke mana. Kemiskinan dan keadaan tak membuatnya kuat, ia memilih berlari, pergi menghindari. Zang Da menjadi berita. Hingga apa yang dilakukannya mengundang simpati publik. Dan tatkala sebuah tivi mewawancarainya, “Apa yang diinginkannya saat ini?”

Zang Da menjawab, “Saya hanya ingin ibu pulang.”

Jawaban anak sepuluh tahun, dengan beban hidup yang sangat berat! Butuh uang untuk hidup, sekolah, juga pengobatan bapaknya yang mahal dalam waktu yang panjang. Dia harus mengerjakan hal-hal yang seharusnya dilakukan orang-orang dewasa. Bahkan ia tidak bisa memilih pekerjaan selain itu. Tidak ada pilihan buatnya.

“Saya hanya ingin ibu pulang.”

Pasti itu bukan jawaban saya, kalau saya menjadi Zang Da.

Melihat kisah hidupnya saja saya sudah lemas raga, lemah hati. Hingga membuat mata basah, meski malu meneteskannya. Tidak terbayang, kalau saya dalam posisinya. Saya pasti tidak sanggup, tidak akan pernah bisa.

Saat panggung diberikan padanya, manakala jutaan, bahkan milyaran mata menatap layar kaca. Melihat dirinya serta rekaman kisah hidupnya. Dia tidak berubah menjadi siapa-siapa. Bukan itu kebahagiaannya, bukan selebrasi, eksistensi, dan pengakuan yang dicarinya. Tidak banyak keinginannya, tidak ia pergunakan posisi ‘kemumpungannya’. Kebahagiaan bagi Zang Da sederhana. Sangat sederhana.

Zhang daMengharap ibunya pulang, kembali menjadi keluarga yang utuh, walau dengan keadaan yang apa adanya. Dengan bapaknya yang tetap lumpuh, dengan rumah yang hampir runtuh. Tapi kebahagiaan bagi Zang Da, ‘keluarga kembali utuh’.

Saya malu, terpukul. Sepuluh tahun saya bisa apa? Hari ini pun saya tidak melakukan apa-apa. Memalukan…

Mengaku berbakti kepada orangtua. Tapi saya sebenarnya ‘tidak’ melakukan apa-apa untuk mereka. Bukan ‘belum’ melakukan. Memang tidak pernah terpikir melakukan hal-hal besar yang bernama ‘keberbaktian’ kepada orangtua. Saya yang beruntung hidup –insya Allah-tidak terlalu sulit. Tinggal sekolah, tinggal main, tinggal makan, dan masih punya kesempatan minta ini itu. Minta yang tidak penting dan masih bisa marah atau kesal bila tak dipenuhi. Nyatanya memang tidak melakukan apa-apa…

Setiap tahun, dalam setiap ulang tahun. Doa orangtua, doa orang-orang yang tercinta dan terdekat selalu berulang. Semoga panjang umur, berbakti kepada orangtua, beguna bagi bangsa, negara, dan agama.

Soal panjang umur itu hak Tuhan. Tapi berbakti kepada orangtua, itu kewajiban anak. Ya, kewajiban saya! Tapi saya merasa, bahkan sampai saat ini. Kadar bakti saya, masih di level terendah dari nilai yang ada. Berkaca pada Zang Da, saya bukanlah anak yang berbakti… sedih sekali.

 

Sumber foto; internet

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s