Ibu

Pap…


“Makin gede kok kamu makin mirip bapaknya sih…”

Dulu saya sering sekali mendengar kalimat ini dari orang-orang terdekat ibu atau ayah. Biasanya ada yang mengelus rambut atau menowel – apa ya bahasa Indonesianya menowel, nanti saya cek di KBBI deh- pipi saya.

Ibu saya biasanya hanya tersenyum, pun dengan ayah saya. Tapi yang bikin saya bingung, tidak sedikit juga yang bilang saya mirip ibu. Duh, untung dulu belum ada kosa kata ‘galau’. Kalau ada pasti saya akan galau! Sebenarnya mirip ayah apa mirip ibu.

Sampai menjelang sekolah menengah pertama, memang saya duplikasi ayah. Ibu saya mendidik sedemikian rupa, agar saya selalu tampil rapi. Walaupun hanya di rumah juga harus sopan dan beretika. Maka, jadilah saya murid sekolah dasar yang paling rapi. Sepatu, kaos kaki setinggi betis, celana licin bersetrika, baju seragam dimasukin, dengan ikat pinggang melingkar.

Rambut disisir rapi, belah pinggir setelah diolesi minyak rambut. Brisk!

Rapi! Itulah poin penting dari ayah saya. Kata orang dulu, stil banget! Maksudnya perlente kali, ya. Tapi memang begitulah. Saya tidak pernah mendapatinya pakai singlet walau di rumah. Termasuk hal sepele, misalnya, makan siang pulang sekolah hanya pakai singlet. Kalau ketahuan, bakal ditegur. “Bajunya dikasih adiknya Genduk aja, wis…” – maksudnya kalau saya tidak mau pakai baju, maka baju-baju saya akan dikasih ke adiknya Mbak yang bantu-bantu di rumah. Tidak dimarahi, tapi begitulah cara menegurnya…

“Heran, papamu orangnya rapi, tapi anaknya slebor banget!” ibu saya sering banget bilang begitu. Apalagi ketika saya sekolah bajunya tidak pernah dimasukkan, celananya model pensil, potongan rambutnya aneh, dan sepatu buluk, bukan butut karena jarang dicuci. Hmm…

Makin kacau lagi ketika kuliah. Pakai sandal, celana robek-robek, kaos oblongan, terus rambutnya gondrong. Makin deh, ibu saya cari-cari referensi, niru siapa sebenarnya saya ini. Kok bisa-bisanya slenge’an begitu. Usut punya usut, ternyata kakek saya dari ayah sumbernya. Kok bisa? Ya bisa. Kakek saya seniman, nenek saya aristokrat, perempuan Jawa yang sangat menjaga tradisi dan menjunjung tinggi ajining salira saka busana. Duh apa coba…

Ayah saya itu jagoan.

Sama seperti saya, anak laki-laki satu-satunya. Karena itu dia harus menjadi orang yang kuat dan diharapkan bisa menjadi benteng keluarga. Menjadi pelindung yang mbelani  orangtua, serta anak dan istrinya. Maka, jadilah ia tentara. Jadi puaslah nenek saya, karena tidak hanya simbolik, tapi secara empirik, ayah saya menjadi apa yang diidamkannya.

Banyak cerita heroik ayah saya. Karena dia perwira muda yang tumbuh dalam pusaran sejarah carut marut perkelahian antaranak bangsa. Bertugas di wilayah yang membutuhkan kecerdasan tinggi, memindai lawan dan kawan. Karena Republik kala itu terpecah belah oleh kisah pilu. Separatisme, pemberontakan, adu domba antara pengikut ideologi satu dengan lainnya. Korban berjatuhan…

Sejarah besar bangsa ini tak mungkin hirau dengan cerita heroik seperti ini. Terlalu kecil. Sejarah hanya untuk panggung orang besar. Tapi itu tidak penting. Ayah saya hanya mengabdi kepada negara, tidak membutuhkan lencana. Meski begitu, saya mengingat dan menancapkannya dalam hati. “Hidup sekali harus berarti.” Itulah ruh dan energi ayah yang hidup dalam diri saya sampai hari ini.

“Apa Nak? Kangen banget ya…”

Itu kalimat ayah yang paling kuingat. Dia ucapkan dengan lembut dan tatapan mata penuh cinta. Tak lama setelah itu dia pergi, tak kembali…

Mengenang ayah hebatku, di hari lahirmu, 5 Agustus 2013

Iklan

2 tanggapan untuk “Pap…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s