Sudut Pandang

Cuma Berbagi


Indahnya saling berbagi, saling memberi, Ya Allah…

Saling menjaga, saling mengasihi, karena Allah

Itu sepenggal lagunya Opick yang saya dengar ketika baru saja duduk untuk menulis. Semula memang saya mau menulis tentang indahnya berbagi. Mungkin inilah yang disebut Prof. Johannes Surya, Phd – orang penting di balik prestasi anak-anak Indonesia di berbagai pentas dunia olimpiade fisika dan matematika – tentang Mestakung, ­Semesta Mendukung. Begitu kita berniat baik, maka semesta akan mendukung.

Tentu bukan tanpa maksud, bukan yang kebetulan…

Saat niat saya duduk, mau menuliskan tentang keindahan berbagi, lalu televisi di ruang sebelah, salurannya mengumandangkan suara Opick. Dari lagunya yang banyak, kenapa juga harus syair itu yang diputar saat itu. Dukungan kesemestaan benar-benar saya rasakan. Tidak hanya kali ini, tapi sering. Sesering saya tidak peka menangkap kalau ‘itu’ adalah dukungan semesta.

berbagai2“Saya itu miskin, Mas! Apa yang saya bisa bagi…”

“Kemiskinanmu!”

“Hah, pemerintah benci kemiskinan! ”

“Ya, kemiskinanmu telah kau bagi untuk memuaskan syahwat politik politisi dan penguasa, bukankah itu berarti kau telah berbagi?”

“Ah, Mas ini gila ya…”

“Bukan gila, tapi begitulah, tanpa kau yang merasa miskin dan masuk kategori orang miskin, mereka mau jualan apa?”

“Mereka itu jualan ya Mas?”

“Apa yang kau kira, pembagian kaos, pembagian sembako, itu bisa dimaknai pembagian? Dia jualan. Agar kau bagi suaramu untuknya, agar kau bagi kemiskinanmu untuk memanjangan fasilitas yang dinikmatinya, agar kamu bagi kebodohanmu untuk melanggengkan kuasa…”

“Jadi…”

“Jadi kemiskinanmu lebih mulia, karena kamu membaginya untuk kebahagiaan dan kelanggengan derajat seseorang…”

“Jadi saya bisa berbagi ya Mas…”

“Iya, jauh lebih mulia… karena begitu kau berikan suaramu, kau melupakannya. Tapi begitu dia dapatkan suaramu, dia melupakanmu.”

“Dan akan datang lagi ketika membutuhkan…”

berbagi3Soal membagi, perkara berbagi, bukan milik orang berpunya semata. Tidak bisa diklaim oleh yang punya banyak uang saja, oleh yang punya kuasa. Berbagi tetaplah milik semua orang. Apa pun nasib ekonominya, apa pun kategori kesejahteraannya. Pra sejahtera, hampir sejahtera, nyaris sejahtera, sejahtera, atau amat sejahtera.

Berbagi adalah soal cara hidup bersahaja.

Soal kemauan berlapang dada, bahwa berbagi tidak merugikan siapa-siapa. Dan tidak harus dulu kaya. Tidak harus pula dengan uang dan barang. Berbagi itu apa yang kita bisa. Tenaga, pikiran, bahkan senyuman. Membuat orang tersenyum tanpa tersinggung, sungguh itu pun berbagi. Memberikan ruang untuk kebahagiaan seseorang, memberikan ruang-ruang tumbuh dan pencerahan, itu pun berbagi…

Dalam matematika, berbagi adalah pelajaran terakhir setelah penambahan, pengurangan, dan pengalian. Hidup bukan matematika, dalam hidup berbagi adalah puncak cinta…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s