Fun Writing

Berani Mencoba…


Sudah larut malam, malah hampir dini hari…

Ada notifikasi, pemberitahuan seseorang mengirimkan pesan ke inbox saya. Teman lama, beberapa kali menyapa lewat fesbuk. Tapi sudah lama sekali tak bertemu muka. Sejak dia menikah.

“Assalamu’alikum wr. wb…. Taufan bisa tolong bantuin gak? besok murid2ku sekitar 7-8 orang mau persiapan lomba mengarang. Tolong dibimbing sekitar 2 jam dari jam 11.00 – 13.00… bisa ya Fan ke SDIT Asyukriyyah. Kalau Taufan gak bisa boleh diganti mbak Era… makasih buanyak ya…”

sdit1 Tidak segera saya jawab, karena memang saya harus melihat kalender, bisa atau tidaknya. Dan tidak butuh waktu lama, saya balas inboxnya. Intinya, oke! I’m coming…

Benar saja, saya datang…

Tentu bersama Era, mengawal saya. Takut terjadi sesuatu di jalan. Kebetulan malamnya saya tidur pulas, sehingga tidak sempat sahur. Dia mungkin khawatir, kalau-kalau saya berubah pikiran. Saya kuat kok, warung makan dan tempat jualan makanan pun sungguh sangat menghormati bulan puasa. Dengan selembar kain korden mereka menutupi auratnya. Walau hanya setengah badan, tanpa bisa mengekang aroma masakan menguar kemana-mana.

Pada episode 2004-an, saya sangat akrab dengan komplek pendidikan ini. Saya mengenal banyak orang yang kemudian menjadi tokoh penting di berbagai level kota, provinsi bahkan menasional. Pemiliknya, salah satu kiai kharismatik. Sudah almarhum. Satpamnya masih Mahmudin, sesuai nama yang tertera di seragamnya. Walau agak-agak sulit mengenali, tapi dia ingat. Saya pun ingat, walaupun sangat terlambat.

Saya masuk ke ruangan…

Beberapa orang, saya sebut teman-teman kecil. Mereka sudah menunggu, menghadap meja kecil panjang dan tampak sedang menulis di buku. Teman saya menyambut dan langsung memberi saya ruang untuk langsung saja masuk ke materi pembimbingan.

sdit2 “Mereka mau ikut lomba, tapi mereka masih pada bingung…” kata teman saya. Ahwat, lulusan filsafat Universitas Indonesia.

Setelah kenalan, saya coba bawa teman-teman kecil ini untuk menjebol kebuntuannya mencari ide. Seperti biasa, saya ajak mereka rileks. Tapi saya gagal mengajak mereka bercanda. Mereka cool banget! Atau memang demikianlah attitude yang diajarkan. Dilarang tertawa keras, cukup dengan senyum…

Saya melihat mata mereka berbinar setelah penjelasan tentang ide dan eksplorasinya selesai. “Gampang kan?” saya meyakinkan mereka. Ya, bagi saya, urusan teknis belakangan. Biarlah mereka menulis tanpa beban. Karena nanti akan ada sesi tersendiri bagaimana menulis yang baik sesuai kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Beberapa waktu kemudian teman-teman kecil ini pun menulis.

“Sekarang bingung kebanyakan ide ya?” tanya saya.

Nahda, anak yang paling mudah saya kenali tersenyum. Azizah yang duduk di sebelahnya juga. Anak-anak yang lain juga demikian.

“Nanti kalau nggak juara gimana, Bu?” tanya salah satu di antara mereka.

sdit3 “Ya nggak apa-apa, yang penting kan sudah mencoba,” jawab teman saya.

Saya hanya menimpali. Turut memberi semangat.

“Jumlah murid SD se-Indonesia kira-kira 25 juta,” kata saya. “Tidak semuanya ikut lomba, paling yang ikut seribu orang. Berarti kan teman-teman luar biasa. Belum lagi nanti kalau lolos seleksi. Walaupun nggak juara, tapi karya teman-teman sudah dibaca oleh para juri yang hebat…”

Mereka mengangguk-angguk.

Ya, berani mencoba itu baik. Apalagi berani mencoba lomba dalam kebaikan… 🙂

Iklan

3 tanggapan untuk “Berani Mencoba…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s