Story & History

Menjadi Guru


Tidak semua guru bisa melintas di otak saya. Saya hanya bisa ingat beberapa. Padahal mereka mengajar saya, paling tidak, selama enam tahun, saya satu naungan gedung dengan mereka. Berpapasan di jalan, di lorong sekolah, atau turut bersama dalam lapangan ketika upacara bendera.

Tidak semua guru bisa kekal diingat. Atau memang seharusnya begitu, ilmu melarut tanpa membawa nama. Apa yang diajarkan sublim tanpa beban siapa yang mengajarkannya. Siapa gurunya. Mungkin juga itulah jalan keikhlasan seorang guru. Melarutkan kemanfaatan ilmu, membangun jalan terang menuju haribaan Tuhan.

guru1           Tapi kalau ada murid tidak mengingat nama gurunya juga tidak elok. Walaupun sudah lulus, sudah menjadi alumnus, sudah berada dalam lingkar elitis. Sukses dalam pencapaian cita-citanya. Menjadi apa pun, di mana pun…

Guru kelas satu SD namanya Bu Parti, orangnya tinggi, baik…Guru pertama yang saya temui dan mengajar setiap hari selama tahun ajaran itu. Kadang dia marah, tapi nanti baik lagi. Marahnya tidak berteriak, tapi berdiri, diam, tangan bersedekap, sorot matanya membuat semua murid tertunduk. Tak terkecuali saya…

Guru kelas dua saya, Bu Masitoh. Waktu itu masih lajang, guru baru. Langsing dan anggun. Selanjutnya saya kenal beliau sebagai salah satu kerabat, karena menikah dengan saudara jauh saya. Hmm. Orangnya lembut, baik, dan penyayang. Sependek ingatan saya, dia tidak pernah marah….

Guru kelas tiga saya, Bu Ugi. Orangnya gede, maksudnya gemuk. Suaranya menggelegar. Dan dialah yang menorehkan banyak angka tinggi di rapot saya. Beliau juga yang memeluk saya, ketika saya sangat bersedih dikabari nenek saya meninggal dunia. Menuntun saya sampai ke gerbang halaman sekolah, dan masih tetap berdiri di gerbang ketika saya menoleh dari motor yang memboncengkan saya pulang. Saya seperti masih merasakan pelukannya seperti seorang ibu.

Kelas empat guru saya namanya Bu Satirah. Suka mendongeng. Saya mengenalnya dari kelas satu. Karena kalau ada jam kosong, selalu diisi sama beliau dengan dongeng. Saya sampai hafal dongengnya, kalau nggak Kancil Mencuri Timun, ya Balapan Keong lawan Kancil yang Sombong. Saya pernah menginap di rumahnya, untuk sebuah karantina lomba cerdas cermat. Dan malam itu, saya harus tidur sama suaminya Bu Satirah, karena satu rumah itu, hanya sang suamilah yang cowok. Empat anaknya semuanya perempuan, hehe…

guru2Kelas lima saya terkesima dengan cara Pak Mardi mengajarkan hal tersulit dalam pelajaran eksakta. Matematika dan IPA. Analogi yang dipakai sangat sederhana dan mudah dimengerti. Saya kagum sampai sekarang. Dari beliau saya belajar, bagaimana membuat cara paling mudah untuk memecahkan soal-soal yang semula dianggap sulit dan berat.

Terakhir, kelas enam saya diajar oleh Pak German. Beliaulah model guru yang sesungguhnya menurut saya. Dekat dengan muridnya, wawasannya luas sekali, pintar, selain itu tetap berwibawa. Hal lain yang menarik dari beliau adalah kemampuannya melukis dan kreativitasnya menyulap sesuatu yang sederhana menjadi tampak artistik. Keindahan sekolah saya, semua gambar yang menempel di dindingnya, adalah buah ketrampilan tangannya.

Saya berusaha meniru semua kebaikan, ketulusan, keikhlasan, dan kecerdasan mereka. Semoga guru-guru saya itu mendapat berkah dan karunia kebaikan yang tak padam hingga akhir hayatnya. Aamiin.

Saat masuk kelas, saya tidak tahu. Guru model dan merek apa saya… apakah kelak saya juga nama yang mudah diingat oleh murid-murid saya. Hehe, ngarep! Saya bukan guru, hanya salah satu teman menuju kedewasaan dan cita-cita mereka. Menemani mereka, sadar berproses dan sabar berproses.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s