Ibu

Baiklah…


ibu-bundar-emas“Nggak perlu dipamerin, Allah bakal ngliatin siapa seseorang itu dengan berbagai caranya,” begitu mendiang ibu saya berpesan.

Keluarga saya bukan keluarga religius…

Ibadahnya biasa saja. Pengetahuan keagamaannya biasa sekali. Shalat ya shalat, puasa ya harus, kewajiban yang harus, diupayakan dijalankan.

“Yang penting, kamu berbuat baik…” lanjut ibu saya, “Itu sudah cukup.”

Sederhana permintaan mendiang ibu saya itu. Tapi buat saya tidak sederhana. Karena kebaikan itu luar biasa banyaknya. Tidak bisa semuanya saya lakukan. Sampai akhirnya saya mulai paham. Bahwa kebaikan itu dekat sekali, mudah sekali, dan datangnya cepat sekali.

“Jadi orang baik juga tidak semuanya suka, apalagi nggak baik.”

Obrolan tentang pilihan menjadi orang baik itu panjang sekali. Saya tidak teringat kapan mulainya. Tapi saya ingat, akhirnya…

Ya, dua pekan sebelum ibu saya masuk rumah sakit dan menuju keharibaan-Nya, ada sesi panjang pembicaraan tentang pilihan terus melakukan kebaikan. Semua terangkum dalam pesan terakhir beliau, “Jangan lelah berbuat baik…”

Sayangnya, saya sering sekali menunda…

Termasuk tidak peka menangkap itu kesempatan baik dan merumitkan kesederhanaan kebaikan. Seperti saya bilang tadi, pesan ibu saya sederhana, tapi tidak sesederhana itu saya mengejawantahkannya. Perlu energi dan daya penaklukan rasa. Entah itu rasa malas, godaan untuk kikir dan pelit, atau lintasan angka yang tiba-tiba mengkalkulasi untung rugi. Astagfirullah…

Hingga tahun ketiga saya berpuasa tanpa ibu, saya belum sekalipun menyalip kebaikan yang beliau lakukan semasa hidupnya. Amalan-amalan ramadhannya, misalnya. Bisa dihitung dengan jari antaran buka untuk orang-orang di masjid. Padahal dulu, setiap sore, ibu saya tak pernah jeda melakukan itu. Setiap mau berbuka, pertanyaannya, “Buat orang-orang masjid udah dianter belum…”

Menjelang lebaran, dia tidak ribut belanja. Tapi mengiyakan orang-orang yang datang ke rumah. Tetangga yang bikin kue, dibeli. Tetangga yang bikin ketupat, dipesan untuk ikut dibuatkan. Tetangga yang bikin tape uli, dipesan juga. Tetangga yang menjual ayam, dibeli lalu saya suruh memotongnya. Tetangga yang menawarkan pepaya muda, dibelinya juga. Hmm… tidak buat sendiri.

Saya pernah bercanda, “Ya Ibu kan duitnya banyak, aku nggak…”

Ibu saya hanya tersenyum. “Kamu juga kepinterannya banyak.”

Saya bisa apa?

“Berbuat baik itu nggak selalu dengan uang, bermanfaat buat orang banyak nggak harus juga dengan uang…” katanya.

Sampai hari ini, saya berusaha sedemikian rupa, sebisa-bisanya.

Meski saya jauh sekali dari capaian yang dilakukan ibu saya.

“Allah itu adil, semua orang diberi kesempatan berbuat baik,” suatu ketika saya mendengarkan tausiyah seorang ustadz. “Tidak hanya yang banyak uang, tapi kebaikan itu butuh pemikiran, butuh tenaga, butuh doa…”

Ramadhan kali ini, saya semakin paham…

Mengapa kita menjadi semakin belajar, ketika mengajarkan sesuatu. Membagikan pengetahuan pendek dan dangkal kita. Mengapa kita makin berdaya dan bertenaga ketika mengulurkan bantuan, dan mengapa kita semakin tenteram dan tenang ketika lebih dulu mendoakan orang lain dalam sunyi tanpa sepengetahuan yang bersangkutan.

Hmm…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s