Sudut Pandang

Bukber #1


“Setelah banyak mal, banyak tempat makan…”

Itu jawaban ngasal saya ketika seseorang bertanya, “Sejak kapan tradisi buka bersama jadi ramai begini.” Lalu saya teruskan, “Ini trend orang-orang urban, pengen ngumpul sama teman-temannya, sekantor, sekampung, sekelas di sekolah dulu… sekarang mereka sudah punya uang dan bekerja, jadi perlu eksis juga…”

Namanya juga jawaban asal-asalnya. Lagipula pertanyaannya kenapa diajukan ke saya. Kapasitasnya apa, bukan pemerhati perilaku urban, bukan ahli sosiologi perkotaan, bukan pula orang yang paham tentang psikologi. Jadi ya, mohon dimaafkeun bila jawabannya tidak ilmiah dan ngawur.

Kalau di kampung ya tidak banyak acara buka bersama, cukuplah kumpul di masjid, siapa yang mau bawa tajil atau makanan silakan, kita buka bareng-bareng. Semua masakan rumah, dibuat dari tangan-tangan ibu-ibu rumahan, dan bahan bakunya dipetik dari kebun dan ladang. Sederhana saja…

Kolak ya begitu…

Makanan pembuka favorit di setiap kali ramadhan tiba. Cuma mungkin namanya beda, cara mengolahnya berlainan, termasuk seni menyajikannya. Bahan bakunya tidak jauh berbeda. Ya kuah bersantan, air gula baik gula aren, gula kelapa, atau gula tebu. Isinya, ya pisang, ubi-ubian, kolang-kaling atau labu yang direbus dengan berbagai macam potongan. Bisa potong dadu, bisa juga potong segi empat, segi tiga, atau cuma dibelah dua saja. Tapi nilainya beda, kalau makan kolaknya di emper masjid, di warung pinggir jalan, dengan di sebuah warung juga sebenarnya, tapi namanya asing, rada-rada aneh, interiornya apik, dan tempatnya di mal.

Saya juga beberapa tahun ini sering mendapat ajakan buka bersama. Ya, di mal. Ya senang lah. Bisa buka bersama dengan suasana baru. Ramai, seru. Meski kadang kita repot, kalau harus mengantri wudhu, mengantri shalat maghrib. Karena, tidak semua mal di Jakarta itu ‘ramah’ menyediakan tempat ibadah yang luas dan antisipatif untuk menanggulangi hal seperti ini. Kalau tidak di basement, ya pojokan tempat parkir mobil… Hanya beberapa mal yang memiliki masjid bagus seperti Masjid Al-Latief di Pasaraya.

Diskusi saya dengan teman saya ini jadi panjang soal buka bersama. Dari trend, menu, hingga motifnya. Hadeuuuh…

wcamp - bukber3“Kalau politisi, pejabat ngadain bukber ya bagus… bahkan kalau bisa tiap hari. Misal nih, dia politisi, anggota dewan, satu kursi harganya seribu orang yang milih dia, ya seribu orang ini beserta keluarga, anak, istrinya, kudu diajak buka bersama…” ngaco kan jawaban saya. Hahaha…

“Iya ya, dia bisa jadi anggota dewan kan karena dipilih mereka…” teman saya mesam-mesem. “Pejabat gitu juga dong, bos, direktur…” tegasnya.

“Ya iyalah, mereka kan nggak bisa kerja sendirian. Biar program kerja dan targetnya tercapai kan butuh bawahannya. Ya wajib diajak buka bersama kalau mau berkah jabatan dan usahanya…” Duuuuh, sotoy banget deh saya. Ampuuuun!

“Gitu ya…”

“Iya, sekarang elu kudu ajak gue bukber…”

Di samping mushola kecil, di pinggiran Jakarta tak jauh dari mal yang riuh. Saya dan teman saya membatalkan puasa dengan segelas air mineral dan gorengan. Mobil dan sepeda motor masih bersliweran di jalan raya. “Kasihan, mereka harus berbuka  di jalan…” teman saya bergumam.

Iklan

2 tanggapan untuk “Bukber #1”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s