Story & History

Mister Point


Ini kejadian kemaren, tapi menyeret saya ke masa lalu…

Di aula mesjid, ratusan murid SMA dikumpulkan. Suasana ramadhan, membuat mereka lebih jinak, lebih tampak khusyu, mungkin selain karena harus mengikuti ketertiban pertemuan, ada rasa kantuk yang belum tuntas, juga rasa lemas yang membuat mereka harus mengirit aktifitas.

Saya duduk di deretan depan, di deretan para guru.

Ya, saya kembali mengajar setelah hampir tiga tahun lewat. Pergi mengurus dunia fiksi, mengantar banyak mimpi. Walau sekadar mimpi…

mr pointSelalu saja saya memindai diri, kira-kira adakah model seperti saya di antara ratusan siswa itu. Cowok kurus, tengil, dan usil. Baju seragam tak pernah dimasukkan ke celana bermodel pensil. Sempit di ujung kaki, hingga seringkali perlu cara khusus untuk mengganti celana melewati tumit. Sejauh mata saya mencari-cari, tak ada. Sulit…

Semua siswa laki-laki tampak rapi. Celana hitam, baju batik, semua dimasukkan dan berikatpinggang. Saya tetap berkeyakinan, pasti ada kelompok jahil dan tengil di kerumunan ratusan orang ini. Hmm, sambil mendengarkan wakil kepala sekolah menerang banyak hal, saya terus mengamati.

Dan, saya ketemu kelompok itu…

Tempatnya masih sangat favorit, di deretan belakang!

Saya fokuskan penglihatan. Yup! Satu orang itu picunya. Di sebelahnya partner yang tampak sangat paham mengikuti dan membantu menyebarluaskan kejahilan. Saya ternsenyum. Mencoba menarik umur, pada usia seperti seseorang itu. Anak kelas 11 atau kelas dua SMA. Namun satu hal, dia tetap anak yang taat aturan. Penampilannya rapi, seperti siswa lainnya. Celana hitam, baju batik merah dimasukkan, berikatpinggang!

“Nah, pada kesempatan kali ini, akan diberikan penghargaan untuk siswa yang tidak memiliki poin pelanggaran selama setahun ini…” kata wakil kepala sekolah. “Alhamdulillah, di tahun ketiga ini, jumlahnya meningkat.”

Ups!

Saya terkesiap! Ini rupanya yang membuat ratusan siswa di hadapan saya begitu tampil sempurna. Disiplin yang dibangun sekolah ini tidak hanya menghukum, tapi memberi reward. Ini penting, ya… reward and punishment itu setali. Tidak bisa dipisahkan untuk sebuah sistem perbaikan. Dalam hati saya salut dengan caranya.

Lagi-lagi saya terlempar ke masa lalu. Masa SMA saya.

“Jadi yang merasa sering tanda tangan di TU, jangan berharap dapat hadiah…” kata sang wakil kepala sekolah lagi. Sambil berbisik, teman guru sebelah saya bilang, Pak Wakil ini sering disebut Mister Point. Karena dia yang paling repot mengurus semua poin pelanggaran semua siswa. “Siapa yang sering terlambat, jangan berharap. Yang bajunya ketahuan nggak dimasukin, yang tidur di kelas, yang telat ngumpulin tugas atau ketahuan nyontek. Wasalam!”

Saya mengangguk-angguk. Paham!

“Saran saya, cepat-cepatlah kalian insyaf dan bertobat…” ujar sang wakil kepala sekolah disambut senyum, tawa, dan tepuk tangan.

Saya tersenyum dan cepat-cepat menujukan pandangan pada dua anak yang di belakang tadi. Tawa saya semakin lebar, karena keduanya ikut tertawa, ikut tepuk tangan, dan wajahnya tanpa rasa salah. Gembira sekali. Walaupun saya yakin, keduanya tidak akan menjadi bagian siswa yang dipanggil ke depan untuk mendapat piagam dan bingkisan.

Benar dugaan saya, dari gelombang panggilan nama yang mendapat reward, kedua anak tersebut tak satu pun mendapatkannya. Tapi, saya senang, karena keduanya selalu menjadi tim hore yang paling keras tepuk tangannya ketika teman-teman lainnya disebut namanya untuk maju…

Ah, saya jadi ingat. Betapa sering dulu harus tanda tangan di ruang BP…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s