Story & History

Mengukir Batu


“Mas, saya habis ini mau pindah…”

Suaranya pelan tapi berat. Anak muda yang menurut istriku mirip sejarahwan JJ Rizal itu mengemukakan isi hatinya. Saya kaget, “Mau pindah ke mana?”

“Saya mau married, Mas…” jawabnya dengan wajah datar dan suara tetap bariton.

“Alhamdulillah…” saya senang. Dahsyat lah, nikah muda!

“Saya harus ke Tanjung Batu, merawat orang tua calon istri…”

Hmm…

Isi kepala seperti sedang diaduk dalam sebuah mesin kebodohan. Anak muda ini, sosok yang baru saya kenali, membuat saya tak habis mengerti dan tak kunjung berhenti kagum. Pertama, dia datang untuk belajar menulis dari besutan waktunya yang penuh. Bekerja, berkomunitas, persiapan menikah…

Kedua, membuat saya pecundang!  Dia berani menikah, jauh dari usia ketika saya dulu memutuskan menikah. Menikah, masih muda… Ketiga, dia akan pergi jauh ke sebuah tempat yang tidak semua orang tahu. Tanjung Batu, salah satu pulau kecil di Kepulauan Riau, berbatas dengan Malaysia.

“Perjalanannya lengkap Mas, darat, laut, dan udara…” katanya.

Keempat, ini lebih membuat saya makin tak berdaya. Alasan ‘merawat orang tua’… walaupun saat ini masih calon istri atau calon mertua. Tapi sebentar lagi ia akan menjadi ‘orang tua’ bukan sekadar mertua.

Harus bilang apa saya berhadapan dengan anak muda merek seperti ini?

Dia datang kepada saya ingin belajar menulis, tapi justru saya belajar banyak hal kepadanya. Ya, Allah… saya harus bilang apa kepada-Mu. Maluuu… sampai Kau hadirkan ilmu itu ke hadapan saya yang lemah lagi tidak berdaya. Maluuu… kalau sampai saya tak mampu membacanya. Maluuu… kalau sampai saya tak bisa menangkap makna pertemuan ini.

Saya merasa belum apa-apa. Cara bertuhan saya terlalu dangkal. Saya tidak pernah memakna dalam. Hanya berputar-putar dalam lingkaran tahu, sekadar tahu, dengar, dan pernah mendengar… Jauh dari tingkatan anak muda ini, cara berhambanya luar biasa.

Tahu dan kerjakan!

Tidak tawar menawar, tidak memberi ruang kepada ketakutan dan kekhawatiran. Tidak mengagungkan perasaan, kewas-wasan dengan pembenaran. Jalan terus dengan keyakinan kuat. Seolah dia sedang menasihati saya, “Sepanjang kita yakin itu benar, Allah bersama kita…”

Anak muda itu memang tidak bicara itu, tapi saya membacanya seperti itu.

Ketika banyak anak muda yang lari, takut, dan kecut ketika harus menikah. Beribu alasannya. Berderet argumentasi pembenarnya. Sekuat tenaga mencari-cari dalil penghindaran yang seolah-olah benar. Ini anak, datang dengan kekalemnya, tapi dahsyat merobek otak dungu saya.

Menikah, pergi ke tempat yang jauh, bukan tempat biasa…

Dan alasannya, “Saya ingin merawat orangtua calon istri…”

Saya harus bilang apa lagi. Tidak banyak anak yang punya waktu merawat orangtuanya. Baru saja saya dengar berita anak memutilasi ibunya, naudzubillah min dzalik… Begitu banyak orangtua di panti jompo. Begitu banyak yang kesepian dikurung dalam rumah anak-anaknya yang sibuk, dan ‘baru ada’ ketika lebaran tiba untuk disalami…

Anak muda, kau telah mengukir batu di otak saya yang dungu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s