Fun Writing

Logika Kacrut


“Lu sebenernya pinter, Kal, tapi otak lu oblak…” Soson mencandai Ikal ketika saung masih sepi. Mungkin karena hujan, jadi beberapa orang datang terlambat. Memang tidak ada aturan harus ngumpul jam berapa, tapi kesepakatan yang berlaku di saung itu hanya sederhana; kumpul, acara dimulai!

“Sial, lu Son…” Ikal merasa habis disanjung setinggi tiang antene tivi di kampungnya, lalu diceburin ke got yang airnya hitam dan penuh sampah.

Keduanya terus bercanda. Hingga satu persatu orang datang. Fhia si kecil yang sudah kuliah datang membawa keripik pisang. “Oleh-oleh Papah dari Lampung,” katanya. Refleks gerak cepatnya Ikal langsung beraksi. Dalam hitungan detik, kemasan plastik sudah terbuka dan mulutnya sudah penuh mengunyah tak bisa bicara. Soson dan Fhia hanya bisa saling pandang.

“Jadi apa yang tidak mungkin dengan karakter yang kalian bangun?” kata si pemilik saung, biasa sarungan dan berkaos oblong. Kali ini gambar Rolling Stone, lidah melet. “Orang di dunia ini milyaran, jadi sangat mungkin ada tokoh-tokoh dalam fiksi kalian yang karakternya aneh. Seperti Ikal misalnya, kelihatannya bener, tapi banyak kelakuannya yang nggak bener…”

Penghuni saung senyum-senyum sambil menoleh ke Ikal.

“Keren kan gue…” Ikal berujar sambil menaikturunkan alisnya. Bangga.

“Tuh kan, ada karakter aneh?” kata lelaki bersarung.

“Ihh, dasar…” Dina berasa geli.

“Tuh, yang kayak Dina juga ada kan?”

“Emang saya kenapa, baik-baik saja kan? Tetap anggun, cantik dan bersahaja, rendah hati dan tetap narsis,” sahut Dina lempeng. Datar.

Kontan saja gayanya menjadi santapan manis untuk ditertawakan teman-temannya. Dina tak sedikitpun merasa bersalah, atau merasa ada yang salah dengan sikapnya.

“Begitulah karakter… boleh aneh, boleh ngaco! Tapi harus logis…” lelaki bersarung itu menyimpulkan sambil mengelus kaos gambar lidah meletnya yang kusut, lalu pergi…

***

            “Ternyata teman-teman kita emang aneh ya,” Ria berbisik pada Fhia.

“Jangan-jangan, kita juga aneh, Kak…” sahut Fhia. “Cuma kita belum nyadar aja, di mana keanehan kita.”

Ria memeluk Fhia, “Ih, kamu pinter deh! Iya, ya…”

Ikal terus sibuk mengunyah oleh-oleh pisang Lampung. Plastik yang isinya tinggal remah-remah tak lepas dari tangannya. Sementara Dina menulis sesuatu di laptopnya, didampingi Soson yang setia.

“Wah, inyong telat ya…” tiba-tiba Ali yang anak Pemalang itu nongol. Komplit dengan roaming dan badannya yang tinggi besar. Serta rasa tanpa salahnya, kalau dia sering salah berbahasa ibunya seenaknya di wilayah berbahasa Indonesia.

Dunia seperti berhenti seketika. Seolah ada makhluk dunia lain dengan kekuatan magnetik membuat semua tak bisa bicara, menoleh bersama dalam beberapa detik, dalam rasa yang sama. Aneh!

“Woiii…!” Ali melambaikan tangan ke setiap orang.

“Eh, elu Li, baru datang? Duduk,” si pemilik saung keluar dari rumahnya. Ali langsung mengambil tempat duduk tanpa menghiraukan teman-temannya yang mematung karena daya magnetis kedatangannya.

“Yuk, lanjut…” lelaki bersarung berkaos gambar lidat melet itu menjentikkan jempol dan jari tengahnya. Persis gayanya Uya Kuya main hipnotis-hipnotisan di tivi. Namanya juga saung kacrut, banyak yang aneh, banyak yang kacau.

“Lanjut nggak nih…”

“Lanjuuuttt…” jawaban itu serentak. Kompak tapi fals.

“Oke, soal boleh aneh, tapi harus logis ya…” lelaki itu mulai menjelaskan. “Karakter seseorang itu kan bentukan dari lingkungan, pengalaman, dan pengetahuan. Dengan rumus itu, teman-teman bisa simpulkan, kenapa Ikal begitu, kenapa Dina begitu. Ada yang bisa jelaskan?”

“Mungkin Ikal memang pinter, pengetahuan dan wawasannya luas, tapi lingkungannya tidak mendukung. Mungkin lho ya, mungkin nih… kenapa dia kemaruk sama makanan, mungkin karena dia baru ketemu makanan di sini. Dulu dia jarang dapat makanan…” Fhia si kecil mengumpamakan dengan mata sebentar-sebentar melirik ke Ikal.

“Bisa jadi begitu, Ikal nggak usah crita, kita sudah tahu kan?” ujar si pria bersarung disambut senyum dan tawa kecil. “Ada contoh lain?”

Satu persatu membuat contoh. Hingga pada sebuah kesimpulan.

“Hidup itu keseimbangan, ada kebutuhan memenuhi keseimbangan pikiran, atau akal dengan pengetahuan, dengan keseimbangan lainnya untuk menjadi ideal. Yaitu pemenuhan kebutuhan kesehatan, ingat men sana in corpori sano? Ya, begitu. Lalu harus dipenuhi juga kebutuhan ruhiyahnya. Karena manusia itu terdiri dari jasad, fikriyah atau akal, dan hati nurani alias ruhiyah.”

“Kayak pengajian di mesjid, yah…” Dina tiba-tiba nyeletuk.

Kontan saja, celetukannya mengundang cemooh  masal dari teman-temannya. Tapi Dina ya Dina, dia tetap dengan gayanya. Anggun dan bersahaja.

“Nah, ketika kita menghadirkan tokoh dalam fiksi dengan ironi-ironi. Kita balik saja ke konsep keseimbangan itu. Karena karakter yang sempurna, berada di titik keseimbangan itu. Kalau ada yang aneh, ada yang kacrut, nggak logis, sulit ditebak, pasti dia tidak berada dalam keseimbangan itu. Ada yang kurang, ada yang kelebihan…”

“Mantapppp…!” Ali tepuk tangan sendirian. Lagi-lagi yang lain terhipnotis. Heran mematung. Kecuali Dina yang garuk-garuk hidungnya digigit nyamuk.

*dimuat dalam Kolom Fun Writing Majalah Story edisi #46

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s