Ibu

Demi Ibu…


ibu-bundar-emasHari ini istimewa buat saya, 3 Juli 2013…

Ini hari lahir almarhumah ibu saya yang ke-70, semoga Allah tempatkan arwah beliau di tempat istirah terbaiknya. Karena begitu banyak kebaikan telah beliau lakukan, demi kebaikan banyak orang, demi memuliakan orang lain, dan banyak tindakan keshalehan yang sulit dijangkau, tanpa rasa cintanya kepada sang Maha Cinta.

Saya hanya bisa mengiring doa…

Dalam setiap ingat saya, al-fatihah untuknya. Karena saya sadar, sebagai anak kasih sayang saya tidak mengejar keluasan kasih sayang ibu saya yang menghampar lebih dari tujuh samudera. Saya sulit mengejarnya… Saya hanya anak yang sepengalan galah mencapai kasih sayang itu.

Hanya doa, hanya doa…

Selebihnya, saya hanya melanjutkan cita-cita dan kebaikan-kebaikan almarhumah, sebisa-bisanya! Sekuat saya punya daya, semampu dari sedikit saja amanah ilmu yang saya tahu, dan mengikhlaskan banyak ruang untuk kemanfaatan dan kemaslahatan. Itu saja…

Cita-cita saya, tidak ingin jadi apa-apa…
“Kalau kamu menulis, menulislah yang manfaat…” katanya suatu ketika. Maka, demi keselamatan dan kebahagiaan ibu saya di alam sana, saya harus menulis tentang kebaikan, tentang spirit memperbaiki, bukan sebaliknya. Seperti juga pesannya, “Kalau kamu nggak bisa memperbaiki, ya jangan ikutan merusak…”

Saya berusaha memahami pesan itu. Karena satu lagi kata-kata beliau yang membuat saya harus hati-hati, “Tulisanmu dibaca banyak orang, hati-hati. Bisa jadi manfaat kalau itu baik, tapi bisa jadi mudharat kalau pesannya buruk…”

Kata-kata ibu saya, bagi saya, semuanya adalah kata-kata mutiara. Berkilau…
Ibu saya pintar, tak akan mungkin saya melampaui kepintarannya. Seperti juga ibu saya tegar, tidak mungkin pula saya melampaui ketegarannya. Saya hanya berusaha, mencapai titik terdekat pencapaiannya itu. Dengan susah payah…
Allahummafir laha war hamha wa’afiha wa’ fu’anha…

Saya sadar betul, saya bukan anak yang baik di antara banyak sekali kebaikan-kebaikan yang ibu saya lakukan. Maka yang bisa saya lakukan, selain melanjutkan cita-citanya, hanyalah membuatnya tidak kecewa telah melahirkan saya. Andai sampai ibu saya menangis karena rahimnya telah melahirkan anak yang lidahnya licin, mudah bicara dusta, apalagi membolak-balik fakta hanya untuk kepentingan dan keselamatan sendiri, betapa nistanya saya. Nau’dzubillahi min dzalik…

Andai ibu saya meronta dalam kuburnya, karena menyesal rahimnya telah mengandung anak yang besar keakuannya. Hanya memikirkan diri sendiri, jauh dari berbagi, kalis dari manfaat di sekelilingnya, berlaku angkuh dengan merendahkan martabat sesamanya, meremehkan orang lain, dan tak menghargai jerih payah orang lain. Alangkah nistanya saya. Manusia merek apa saya…

Bila sampai ibu saya menggigil takut di hadapan Rabb-nya karena anak yang dilahirkannya tak berguna, menjadi beban waktu, mencatat banyak gerak jahat, menorehkan banyak buruk laku, merugikan sesamanya, membuat resah sekelilingnya. Tak terperi menyesalnya saya…

Demi almarhumah Ibu. Hari ini saya memulai langkah baru. Meski langkah kecil, tapi ini hadiah terindah saya. Anaknya…

Lapanglah kuburmu, Mam…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s