Fun Writing

Mengejar Langkahmu


            Aku terbangun, lukisan gambar ibu menyambutku dengan senyum. Lukisan temanku yang kuhadiahkan untuk ibu ketika hari ibu beberapa tahun lalu. Aku tahu, ibu sudah punya semuanya. Maka lukisan wajah itu, pilihanku untuk memberinya ruang bahagia. Tidak seberapa harganya, tapi setidaknya senyum itu abadi untukku.

Ramadhan kali ini adalah tahun kedua aku berpuasa tanpanya. Tak terdengar lagi suara mengaji menjelang sahur. Menunggu nasi dan lauk dihangatkan. Beda sekali. Terasa lebih dingin, lebih sepi, dan kurang hangat.

“Sudah berapa jus tilawahmu?”

kissing46Aku rindu pertanyaan itu. Ibuku tahu, aku malas sekali dan sangat tidak kontinyu baca Al-Qurannya. Ibuku bisa sebulan khatam lebih dari sekali. Sementara aku hanya untuk mengkhatamkan sekali saja dalam bulan puasa, beratnya seperti menarik batu besar di jalan menanjak.

“Kamu itu udah besar, anak laki, nanti jadi imam, jangan malas ah…” katanya lagi sambil mengusap kepalaku. Selalu. Karena jawabanku selalu senyum yang tidak percaya diri. Senyum malu…

“Susah Mam…” kilahku. Lalu aku sebutkan banyak alasan yang sangat tidak bermutu. Dari mulai mengantuk, ada tugas sekolah, lapar… Ah, pokoknya alasannya cemen. Tidak bermutu dan mengada-ada.

“Ya udah, tilawahnya bareng Mama aja…”

Duh, kalau sudah begitu. Aku tak bisa berkutik. Lagi-lagi aku pun akan banyak cari alasan. Kesemutan karena kelamaan duduk bersila, cari senderan, pengen pipis, ada saja…

Dengan malas, aku bangkit dari tempat tidur. Tidak langsung ke ruang makan untuk sahur. Tapi kembali duduk, memandangi lukisan ibuku yang tersenyum.

***

“Kok makannya sedikit, nanti sakit lho…” Tante Aisya menegurku. “Tante nggak mau kamu sakit.”

Sejak ibuku meninggal, aku tinggal bersama adik ibuku, Tante Aisya. Dia kelihatannya galak, tapi sebenarnya begitulah cara menyayangiku. Menjaga amanah ibuku. Karena aku kini sebatang kara, tak berayah dan beribu lagi. Ayahku, jauh lebih dulu meninggalkan aku dan ibu.

“Nggak nafsu, Tan…” kilahku.

“Nggak nafsu apa masakan Tante nggak enak?” tanyanya sambil menatapku tajam. Tatapan mata yang mirip sekali dengan milik ibuku. “Besok lagi Tante nggak mau masak ah, kalau kamu begini…”

Aku hanya bisa menurut. Dulu waktu ibu masih ada, Tante Aisya juga sudah berlaku seperti ini. “Tante Aisya itu nggak galak, dia nggak mau lihat kamu kolokan…” kata ibuku suatu ketika. Saat aku mengaku tidak suka dengan sikap Tante Aisya yang kesannya galak. Tapi benar kok kata ibuku, Tante Aisya begitu karena sayang sama aku. Tentu dia ingin menjagaku dan menjadikanku seperti cita-cita ibuku.

“Sudah jus berapa tilawahmu?” tanya Tante Aisya kepadaku.

“Hmm, udah jus tiga…” jawabku sambil tersenyum.

“Alhamdulillah,  hari kedua sudah tiga jus. Anak hebat!” kata Tante Aisya mengelus kepalaku sambil membereskan meja makan. Persis yang sering dilakukan ibuku. “Gitu dong, bikin Mama senyum terus…”

Melintas wajah mendiang ibuku tersenyum.

“Aku mau bikin Mama tersenyum terus, Tante…” sahutku.

“Kata mamamu, paling nggak kita pernah khatam membaca Al-Quran walau sekali dalam hidup kita.…”

Ah, Tante Aisya makin mengingatkanku pada ibu saja. Aku jadi sedih. Tapi aku juga ingat segera petuah tanteku itu, segera kirimkan doa! Ya aku suka dengan cara tanteku agar aku tak pernah lupa mendoakan almarhumah ibu. Dalam batin yang lirih, dengan gerak bibir yang lemah, aku luncurkan doa untuknya di akhir perbincangan makan sahurku.

Allahummagfirlaha war hamha wa’afiha wa’fu ‘anha

***

Aku memandangi nisan ibu…

Entahlah, aku rindu sekali padanya di ramadhan ini. Seperti juga ramadhan tahun lalu. Sepulang sekolah, menjelang senja, aku selalu menyambangi makam ibu. Ketika yang lain ngabuburit menunggu beduk, aku lebih suka duduk di bawah teduhnya pohon kamboja. Membuka mushaf kecilku, menyicil bacaan tilawahku. Seolah aku mengaji dekat ibu.

“Rajin banget doain emak lu, Tong!” sapa penjaga kuburan.

Aku tersenyum. Orang tua itu, mungkin seumuran ayahku kalau masih ada. Memang ditugasi merawat kubur ibuku. Sehingga rumputnya tumbuh hijau, kambojanya rimbun.

“Insya Allah, emak lu sudah senang di alam sana, Tong! Bangga punya anak kayak elu…” orang tua bercaping, berkaos lusuh, dan celana sebawah dengkul duduk menemaniku.  “Udah jarang ada anak inget orangtuanye, apalagi ngedoain kayak elu! Adanya sekarang anak-anak blangsak, yang cuma gegayaan, minta ini minta itu, dikira duit orangtuanya tinggal jembreng aje!”

Aku menyimak penjaga makam, kusarungkan lagi mushafku ke dalam tas.

“Lihat tuh di jalanan, pade ngabuburit, nyari sore, montor-montoran, dikira kagak ngebensin. Mane mau tahu, kalo babe ama enyaknye kerja setengah mati. Anak sekarang mah mau enaknye aje…” lanjutnya dengan rona kesal. “Boro-boro dah, inget ngedoain orangtuanye.”

Aku menunduk, membaca nama yang terpahat di nisan marmer hitam. Nama ibuku. Seperti ada wajahnya tersenyum, membuatku kian merindu.

“Kalo ntar orang tuanya pada mati, baru dah pada kerasa!”

Aku menoleh wajah penjaga makam, aku diam. Aku sedekahkan doa untuknya, semoga kebaikan senantiasa menyertainya.

“Udah berape jus lu ngajinye, Tong?” tanyanya tiba-tiba.

Aku menjawabnya dengan menekuk jempol tangan sambil menunjukkan jari tanganku. Senja memerah lebih indah di hari ketiga puasa.  Lelaki itu mengajakku bergegas sambil mengusap kepalaku.

*dimuat Majalah Story edisi 46

Iklan

3 tanggapan untuk “Mengejar Langkahmu”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s