Ibu

Di Depan Omni


ibu-bundar-emasAwalnya saya hanya menghadap, menyatakan diri, “Saya mau resign, Pak…”

Lalu saya ditanya apa alasannya, “Udah lama, Pak. Cuma waktunya nggak pas, baru sekarang bisa ngomong.” Begitu saja saya menjawabnya. Enteng.

“Ah, pasti ada apa-apanya, nggak mungkin lah…” katanya.

“Emang ada apa, Pak?” saya pura-pura bego saja.

“Ya, kita semua tahu lah. Kemaren juga ada yang dateng ke sini, minta pindah bagian. Eh, kamu datang minta keluar. Pasti nggak jauh beda lah alasannya…”

Lalu dia cerita, tentang hal-hal yang terjadi. Saya hanya mendengar. Sambil sesekali dia menanyakan, benar atau tidaknya. Saya hanya mengatakan yang terjadi, yang saya lihat, yang saya dengar. Karena menurut dia, ini akan jadi masukan penting.

Ya sudah…

Mengalirlah semuanya ini. Hingga hari ini…

Sampai semalam, saya duduk merenung. Hening di keriuhan lalu lalang kendaraan di seberang rumah sakit Omni Internasional, saat menjemput istri. Rumah sakit tempat Malaikat Izroil diutus Allah menjemput ibu saya. Setelah hampir sebulan, Allah istirahkan dalam rupa cinta yang sedemikian indahnya buat ibu saya. Allah lebih mencintai ibu saya…

Saya urai pandang, dari sudut ke sudut ruang dalam tempaan cahaya terang. Terlintas banyak pesan, kenangan harus menguatkan. Di Omni, saya punya banyak ingatan. Terutama ingatan bahwa di Omni, saya ditempa untuk jadi anak yang kuat! Menjadi orang yang optimis, tidak egois, berpikir cepat, bergerak lebih cepat, serta tidak mudah menyerah. Di Omni saya sekolah…

Ibu saya orang baik.

Banyak orang mengenangnya sebagai orang baik. Maka kewajiban saya adalah meneruskan kebaikannya. Walaupun terus terang, saya tertatih-tatih untuk mengejar banyak kebaikan yang mendiang ibu saya lakukan. Saya terseok-seok dan merasa langkah saya tiba-tiba kerdil. Tidak setegap langkah ibu…

Di depan Omni saya terus merenung.

Saya belum apa-apa. Apakah saya benar-benar lulus ujian ketika sekolah di Omni. Karena hampir tiga tahun seperginya ibu saya, tidak ada sesuatu yang besar dan bermanfaat yang saya lakukan. Saya tahu, tugas saya hari ini dan ke depan adalah melanjutkan dan mewujudkan semua cita-cita ibu saya. Saya tidak punya cita-cita yang original, saya hanya menduplikasi cita-cita ibu saya. “Bermanfaat buat banyak orang, sebisa-bisanya. Kemanfaatan yang maslahat.” Kira-kira, itulah cita-cita saya. Sok gaya banget…

Tapi begitulah, hidup itu pilihan…

Banyak pertimbangan, tapi ada keyakinan yang sangat kuat!

“Kalau kamu nggak bisa memperbaiki, kamu jangan ikut merusak…” kata ibu saya salah satunya. Termasuk ketika beliau tahu saya menulis. Artinya, saya harus menulis yang bermanfaat, mencerahkan, menunjukkan kebaikan, dan mengarahkan pada kelebihbaikan. Tidak menulis yang menjerumuskan, tidak menulis yang tidak manfaat, apalagi sampai merusak, atau sekadar menodai kebaikan itu. Menulis untuk meluaskan pesan baik.

“Sampaikan kebaikan dalam tulisanmu…”

Saya terus merenung, apakah saya sudah seperti yang ibu saya harapkan. Apakah tulisan saya bermanfaat, apakah tulisan saya berisi kebaikan, menyampaikan kebaikan. Saya tidak tahu. Meski setiap kali saya menulis, ucapan itulah yang selalu saya ingat.

“Menjadi jalan kebaikan memang tidak mudah, tapi mulia…”

Malam itu, saya terus berdialog dalam renungan itu. Memakna potongan-potongan dialog dengan ibu saya entah di kesempatan yang mana. Tapi saya selalu ingat, ibu saya akan mengelus kepala saya, “Kalau kamu bisa menjadi jalan kebaikan orang lain, sudah cukup kok…” Tersenyumlah ibu saya.

Istri saya datang dan saya harus pulang. Saya tidur cepat, hari ini saya sehat dan bugar. Hingga akhirnya saya memilih jalan bulat…

Iklan

2 tanggapan untuk “Di Depan Omni”

  1. selalu suka tulisannya. mungkin karena selalu ada yang bisa aku ‘ambil’… terimakasih, ya.. sudah mau berbagi cerita kebaikan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s