Story & History

Belum


Kemarin saya dapat catatan bagus di twitter, orang yang sering menjelekkan perbuatan baik orang lain biasanya dia belum banyak berbuat kebaikan. Tak tanggung-tanggung yang ngetwit adalah motivator terkenal Jamil Azzaini. Selain shaleh, dia pasti akurat lah soal-soal begini.

Saya setuju banget. Karena saya punya pengalaman yang terwakili dengan twit-­nya itu. Urutan sederhananya, berbuat itu kan perlu rencana, perlu tenaga, daya, dan energi. Nah, ketika semua daya itu terfokus untuk menjadi tenaga yang mendorong sebuah ‘perbuatan’, maka ‘bicara’ tidak terlalu perlu. Karena perbuatan itu membutuhkan banyak sekali energi.

Itu baru berbuat…

Nah, berbuat kebaikan, tentu akan perlu energi berbeda. Karena berhadapan dengan perbuatan tidak baik, tindakan jahat, atau apa pun istilahnya. Ada kubu yang terlawan. Maka energinya pasti butuh lebih banyak lagi. Maka semakin sedikit saja prioritas untuk banyak-banyak bicara. Semakin seperlunya saja.

Banyak kebaikan…

Mungkin sebanyak itu pula keburukan, kejahatan, dan ketidakbaikan.

Tapi lagi-lagi hidup itu pilihan. Memilih itu butuh energi juga. Kudu dipikir, walau ada yang tampaknya hajar bleh! Tapi pasti, walaupun tampaknya tidak dipikir, tetap dipikir tindakan hajar bleh itu. Hanya saja, mungkin pikirnya kurang panjang. Sehingga sering muncul nasihat, “Pikir dulu sebelum bertindak!” atau kalau efeknya tak seperti diinginkan, nasihat yang keluar, “Nggak dipikir panjang sih…”

Banyak kasus di sekitar kita, aktual dan sangat lekat.

Tidak perlu dicontohkan kali ya. Saya pikir, dalam kamus bahasa Indonesia, banyak sekali kata-kata yang bermakna perbuatan baik. Mungkin lebih dari ribuan. Hormat, itu baik. Tindakan menghormati orang lain, menghormati hasil kerja teman, menghormati pilihan teman, menghormati pandangan, wawasan, dan sikap seseorang, misalnya. Itu baik kan. Tapi lain maknanya, ketika sudah menjadi, gila hormat. Karena hormat itu kan penghargaan, apresiasi, ada ketulusan dalam makna hormat itu. Tapi ketika menjadi gila hormat, ya itu sudah lari jauh…

Gila hormat, menjadi orang yang bermasalah. Pertama, dia sudah sulit tunduk. Menundukkan dirinya sendiri. Kedua, dia bermasalah dengan orang lain. Ketiga, dia bermasalah dengan lingkungan terdekatnya, komunitasnya. Dan pada akhirnya, stigma muncul karena masalah sederhana, sulit tunduk! Egoisme itu lawan dari moderat, egaliter, sekaligus rendah hati. Saya pikir, orang semacam ini terobsesi lahir sebagai dewa. Hehe…

Ya iyalah…

Kalau dia lahir sebagai manusia, pasti dia akan tunduk pada kesepakatan hidup bersama-sama, menyadari hakikat kemanusiaannya. Bahwa manusia itu tidak sempurna. Manusia tidak seluruhnya baik, manusia tidak seluruhnya juga buruk. Tidak ada manusia yang sempurna. Dari pergaulan, interaksi, dan komunikasi antarsesama itulah proses ‘menyempurna’-nya manusia. Tidak dalam kehausan penghormatan.

Penghormatan itu lahir dari hati atas apa yang kita apresiasi dari banyak kebaikan yang dilakukan. Penghormatan itu memanusiakan, bukan mengkultuskan. Saling menghormati adalah buah kematangan pribadi. Sublimasi dari kematangan seseorang yang dibangun dari pengalaman, pengetahuan, dan tempaan lingkungan.

Saya mensugesti diri sendiri saja, berbuatlah yang baik. Agar tetap menjadi manusia. Berbuat baik atau tidak, saya rasa membutuhkan energi yang sama. Tenaga yang dikeluarkan sama. Tapi hasilnya beda. Jadi ya… begitulah. Saya yakin, semua manusia baik dan diberikan kesempatan yang sama untuk berbuat baik. Cuma mungkin ada yang belum…

Iklan

2 tanggapan untuk “Belum”

  1. ” Saya mensugesti diri sendiri saja, berbuatlah yang baik. Agar tetap menjadi manusia. Berbuat baik atau tidak, saya rasa membutuhkan energi yang sama. Tenaga yang dikeluarkan sama. Tapi hasilnya beda. Jadi ya… begitulah. Saya yakin, semua manusia baik dan diberikan kesempatan yang sama untuk berbuat baik. Cuma mungkin ada yang belum… ”

    kereen. pandangannya keren… suka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s